Ada satu kebiasaan warganet yang terkadang membuat saya ingin berhenti membaca komentar sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa. Bukan karena perdebatan politik yang tidak kunjung selesai atau komentar pedas yang saling berbalas, melainkan karena sebuah spasi yang entah mengapa sering menghilang atau justru muncul di tempat yang tidak semestinya.
Contohnya sederhana: menulis dirumah ketika yang dimaksud adalah di rumah, atau menulis di cuci ketika seharusnya dicuci. Persoalannya memang hanya spasi. Namun, jika kesalahan yang sama terus berulang, saya mulai bertanya-tanya: apakah kita benar-benar lupa dengan pelajaran bahasa Indonesia sejak sekolah atau sekadar menganggap aturan ejaan tidak lagi penting selama pesan masih bisa dipahami?
Saya tidak sedang menuntut setiap orang menulis seperti penyunting buku. Saya juga tidak berharap kolom komentar media sosial berubah menjadi ruang ujian bahasa. Namun, rasanya tidak berlebihan jika kita sedikit lebih cermat dalam menggunakan bahasa sendiri.
Spasi Kecil yang Kerap Mengundang Perdebatan
Salah satu kekeliruan yang paling mudah ditemukan adalah penggunaan di sebagai kata depan dan di- sebagai imbuhan. Keduanya terlihat serupa, tetapi memiliki fungsi dan aturan penulisan yang berbeda.
Kata depan di menunjukkan tempat atau lokasi dan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya di rumah, di sekolah, di jalan, dan di desa. Sementara itu, di- yang berfungsi sebagai imbuhan pembentuk kata kerja pasif ditulis serangkai, seperti dibaca, ditulis, dicuci, dan dikerjakan.
Aturannya sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Kita hanya perlu melihat fungsi kata tersebut dalam kalimat. Jika menunjukkan tempat, penulisannya dipisah. Jika menjadi imbuhan pada kata kerja, penulisannya digabung.
Sayangnya, aturan sesederhana ini masih sering tertukar. Saya berkali-kali menemukan tulisan dirumah atau disekolah, padahal bentuk yang tepat adalah di rumah dan di sekolah.
Barangkali ada yang menganggap persoalan ini terlalu kecil untuk dibahas. Toh, pembaca masih bisa memahami maksudnya. Namun, kalau alasan tersebut terus digunakan, untuk apa kita mempelajari aturan ejaan sejak bangku sekolah?
Lagi pula, spasi bukan sekadar hiasan agar tulisan terlihat rapi. Penulisan yang tepat membantu pembaca mengenali fungsi kata dan memahami kalimat tanpa perlu menebak-nebak maksud penulisnya.
Ketika Koreksi Ejaan Dianggap Terlalu Lebay
Hal yang terkadang lebih menarik daripada kesalahannya justru respons ketika seseorang mencoba memberikan koreksi. Tidak jarang, orang yang mengingatkan penulisan di rumah alih-alih dirumah malah dianggap terlalu kaku, sok pintar, atau tidak memahami gaya komunikasi di media sosial.
Ada pula jawaban yang kurang lebih berbunyi, “Cuma di medsos aja diatur harus sesuai KBBI, lebay banget.”
Saya selalu merasa ada yang janggal dari cara berpikir semacam ini. Mengapa mengingatkan kesalahan ejaan harus dianggap sebagai tindakan yang mengganggu kebebasan berekspresi? Bukankah seseorang bisa menggunakan bahasa santai sekaligus memahami cara penulisan yang tepat?
Tentu, tidak semua kesalahan perlu dikoreksi di ruang publik. Kita tidak harus mendatangi setiap kolom komentar untuk membenahi satu per satu tulisan warganet. Cara menyampaikan koreksi juga perlu diperhatikan agar tidak berubah menjadi ajang mempermalukan orang lain.
Namun, menolak koreksi hanya karena merasa sedang menggunakan bahasa informal juga bukan sikap yang bijak. Ada perbedaan antara sengaja memilih ragam bahasa santai dan tidak mengetahui bentuk penulisan yang benar.
Saya bahkan kerap menemukan kekeliruan semacam ini pada orang yang telah menempuh pendidikan tinggi. Tentu saja, gelar akademik tidak membuat seseorang kebal terhadap salah ketik. Akan tetapi, bukankah tugas kuliah, laporan, dan skripsi seharusnya membuat kita cukup akrab dengan aturan penulisan dasar?
Sekali lagi, yang menjadi persoalan bukan kesalahan sesekali, melainkan kebiasaan mengulang kekeliruan yang sama tanpa merasa perlu memperbaikinya.
Memahami Aturan Bukan Berarti Harus Selalu Formal
Saya memahami bahwa media sosial memiliki karakter komunikasi yang berbeda dari ruang akademik. Orang menulis komentar dengan cepat, membalas pesan sambil melakukan aktivitas lain, atau mengunggah sesuatu ketika sedang bersemangat. Dalam situasi seperti itu, salah ketik memang bisa terjadi kepada siapa saja.
Bahasa informal juga tidak harus tunduk pada semua tuntutan gaya penulisan formal. Kita bebas menggunakan kata enggak, nggak, atau berbagai ungkapan sehari-hari yang terasa lebih akrab. Selama konteksnya jelas, ragam bahasa semacam itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Namun, memahami aturan bahasa justru membantu kita menentukan kapan perlu menggunakannya. Kita tidak harus menulis semua percakapan secara formal, tetapi sebaiknya mengetahui perbedaan antara bentuk baku dan bentuk yang sengaja dipilih untuk kebutuhan komunikasi tertentu.
Ada baiknya kita membiasakan diri membaca ulang tulisan sebelum menekan tombol unggah. Jika ragu, kita bisa memeriksa sumber kebahasaan terpercaya, bukan sekadar mengikuti penulisan yang paling sering muncul di linimasa.
Kebiasaan kecil tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Bahkan, kita bisa memulainya tanpa harus mengubah gaya komunikasi sehari-hari.
Tentu saja saya tetap setuju belajar menggunakan bahasa dengan tepat bukan berarti menjadi polisi ejaan yang gemar mencari kesalahan orang lain. Kita pun bisa keliru. Saya sendiri tidak kebal terhadap salah ketik atau kekeliruan tanda baca.
Namun, jangan sampai karena pesan masih bisa dipahami, kita merasa tidak perlu lagi memperbaiki cara menulis. Sebab, memahami bahasa bukan hanya tentang membuat orang lain mengerti, melainkan juga tentang kesediaan kita untuk terus belajar menyampaikan sesuatu dengan lebih cermat.
Tag
Baca Juga
-
Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan
-
Review Novel Burung-Burung Manyar: Saat Perang dan Sejarah Merenggut Tempat Kita Pulang
-
Museum Blambangan dan Artefak Tanah Liat yang Harus Dijaga
-
Sonobudoyo, Museum yang Menyimpan Jejak Panjang Kebudayaan Jawa
-
Perjuangan Masyarakat Sukomade: Berkawan dengan Alam Meski Minim Perhatian
Artikel Terkait
Kolom
-
Bebas Berbahasa Bukan Bebas Salah: Nyaman Berbahasa Tanpa jadi Polisi Ejaan
-
Kemiskinan vs Menstruasi: Saat Kebutuhan Dasar Perempuan Tak Terjangkau
-
Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Gen Z: Evolusi atau Ancaman Identitas?
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
Terkini
-
Wanderers: Perjalanan Panjang Manusia Menaklukkan Jarak dan Waktu
-
Tetsuya Chiba, Kreator Ashita no Joe, Meninggal Dunia pada Usia 87 Tahun
-
Gantikan Alan Ritchson, Keanu Reeves Bintangi Film Aksi Netflix Maelstrom
-
Enam Cerita, Satu Kematian: Menelusuri Kebenaran di Novel Girls in the Dark
-
Date A Live F Last Date Rilis Film Maret 2027, Jadi Penutup Kisah Shido