Kebetulan film Laut Bercerita sedang booming. Saya ingin menulis pandangan saya tentang novel dan film tersebut. Berhubung belum menonton filmnya—di sini saya jujur—saya akan memulai pendekatan pendapat saya ini dari alur cerita yang saya baca di novelnya.
Dengan sudut pandang orang pertama, yaitu tokoh Biru Laut, novel Laut Bercerita dibuka dengan si Laut yang tengah berada di tangan beberapa penculiknya, yang kalau dilihat dari ciri-cirinya adalah personel militer. Ada satu penggalan kalimat yang cukup kuat menggambarkan situasi tersebut: "Sebatang kaki yang bersepatu gerigi". Laut kemudian ditenggelamkan oleh para penculiknya ke dasar laut. Setelah itu, mulailah penceritaan tentang sepenggal kisah hidupnya, teman-teman satu organisasinya, Gerakan Mahasiswa Winatra, yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Winatra, dan tentu saja sepak terjang organisasinya.
Fokus cerita Laut Bercerita, sebenarnya dalam pandangan saya, adalah kasus penculikan aktivis pada akhir era rezim Orde Baru. Laut atau Biru Laut sebagai salah seorang aktivis Partai Winatra, yang mungkin terinspirasi dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), adalah perpaduan dari para aktivis PRD yang diculik oleh Orde Baru.
Salah satu inspirasi Leila S. Chudori dalam menciptakan tokoh Biru Laut adalah Nezar Patria, rekan kerjanya di TEMPO. Dalam artikel Gramedia.com berjudul "Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori Memicu Milenial Menengok Sejarah", yang terbit pada 23 Agustus 2021, Leila dikutip mengatakan, “Inspirasi saya waktu itu Nezar Patria, rekan kerja di TEMPO.”
Dalam edisi khusus tentang Soeharto di Majalah TEMPO Februari 2008, Nezar menulis kesaksiannya dalam artikel berjudul "Di Kuil Penyiksaan Orde Baru". Artikel tersebut sekarang bisa dibaca melalui Seri Buku TEMPO: Soeharto, Setelah Sang Jenderal Besar Pergi, terbitan KPG dan Tempo Publishing, 2018.
Dalam artikel yang menurut Leila ditulis dengan sangat bagus dan detail itu, Nezar menceritakan masa ketika dia diculik dan matanya ditutup. Setiap mendengar pistol dikokang, ia pikir ia pasti mati. Dari situ, Leila pun terpikir suatu saat harus membuat cerita tentang “orang di tubir kematian”. Tentu saja, Biru Laut bukan cerminan langsung Nezar Patria. Ada lebih dari satu narasumber yang karakter dan kisahnya diracik Leila menjadi satu pribadi baru bernama Biru Laut Wibisono (Sumber: Gramedia.com, 23 Agustus 2021, diakses 30 Oktober 2026).
Bagi saya, penggunaan nama organisasi yang fiktif dalam novel ini tidak menghilangkan konteks sejarah yang melatarbelakanginya. Pembaca yang mengetahui sejarah gerakan mahasiswa pada masa Orde Baru tentu bisa menangkap gambaran tentang bagaimana para aktivis membangun organisasi, menyebarkan gagasan, melakukan advokasi terhadap masyarakat, hingga berhadapan dengan represi negara. Pada masa itu, kritik terhadap pemerintah dan aktivitas politik yang dianggap berseberangan dengan kekuasaan bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Ada risiko penangkapan, intimidasi, bahkan penculikan yang harus dihadapi para aktivis.
Nezar sendiri saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, pada pemerintahan Prabowo. Prabowo Subianto sebagai sosok yang namanya dikaitkan dengan aksi penculikan aktivis pro-demokrasi pada akhir era rezim Orde Baru, sepertinya tidak digambarkan secara spesifik dalam alur cerita Laut Bercerita. Hal ini mungkin tidak memengaruhi keterpilihan Prabowo pada 2024 sebagai Presiden Indonesia, tujuh tahun setelah novel Laut Bercerita dirilis.
Isu penculikan aktivis memang kerap muncul dan menghangat saat pemilihan presiden atau Pilpres. Hal yang sampai sekarang maksimal hanya menjadi bagian dari 12 peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu, yang diakui oleh Presiden Jokowi pada 11 Januari 2023. Padahal sesungguhnya, hal yang paling utama adalah mengungkap kasus penculikan aktivis ini sebagai salah satu pelanggaran HAM berat.
Pengakuan tersebut tentu merupakan sesuatu yang penting, tetapi bagi saya persoalannya tidak berhenti di situ. Pengakuan terhadap adanya pelanggaran HAM berat seharusnya diikuti dengan upaya untuk mengungkap kebenaran dan membawa para pelakunya ke proses hukum. Sebab, keluarga korban bukan hanya membutuhkan pengakuan bahwa anggota keluarganya pernah menjadi korban pelanggaran HAM, tetapi juga membutuhkan kepastian mengenai nasib mereka. Sampai sekarang, masih ada keluarga yang tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi dengan orang-orang yang mereka cintai.
Akan tetapi, pemerintahan Jokowi, yang saat itu Menteri Polhukam adalah Mahfud MD dan Menkumham adalah Yasonna H. Laoly, tetap belum berhasil menghadirkan penyelesaian yudisial atas kasus penculikan aktivis. Solusi yang ditempuh pemerintah lebih banyak melalui rekonsiliasi dan penyelesaian non-yudisial. Bagi saya, hal ini menggelikan. Bagaimana mungkin orang berdamai kalau posisi pelaku dan korban saja belum jelas?
Oleh karena itu, bagi saya, tidak usah terlalu berharap banyak pada pemutaran film Laut Bercerita di berbagai bioskop, selama negara Indonesia masih belum mampu tegas terhadap pelanggaran HAM berat di masa lalu. Mungkin Indonesia bisa belajar pada Korea Selatan bagaimana mereka bersikap terhadap para pelaku dan otak Pembantaian Gwangju pada tahun 1980. Chun Doo-hwan, presiden Korea Selatan kala itu, dan Roh Tae-woo, yang kemudian menggantikannya, diadili atas keterlibatan mereka dalam kudeta militer dan penindasan terhadap gerakan demokrasi di Gwangju. Keduanya dijatuhi hukuman penjara pada 1996, meskipun akhirnya memperoleh pengampunan politik pada 1997.
Memang, situasi politik Korea Selatan dan Indonesia tidak sepenuhnya sama. Namun, setidaknya ada pelajaran bahwa pergantian rezim dan proses demokratisasi tidak harus membuat pertanggungjawaban terhadap kejahatan masa lalu berhenti. Bahkan, mantan presiden yang pernah memegang kekuasaan tertinggi di negara tersebut tetap dapat dibawa ke pengadilan. Bagi saya, hal semacam inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah demokrasi Indonesia. Reformasi sudah berlangsung lebih dari dua dekade, tetapi penyelesaian kasus penculikan aktivis masih belum memberikan jawaban yang memadai bagi para korban dan keluarganya.
Tag
Baca Juga
-
The Uprising dan Percikan Api Pemberontakan Rakyat
-
Metallica dan Memudarnya Semangat Pemberontakan
-
Metallica, Palestina, dan Ironi Sebuah Band Anti-Perang
-
Pansus Ijazah Gibran Menggelinding, Siapa Elite Politik yang Paling Diuntungkan?
-
Pansus Ijazah Gibran: Siapa yang Diuntungkan Jika Kursi Wapres Kosong?
Artikel Terkait
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
Ulasan Film Laut Bercerita: Ketika Suara Demokrasi Dibungkam dengan Paksa!
-
Demokrasi Tanpa Oposisi: Ujian Keterbukaan Pemerintah
-
Kementerian HAM Minta Warga Tak Cuma Viralkan Dugaan Pelanggaran, Tapi Harus Berani Laporkan
-
2 Tahun Prabowo - Gibran, Mahfud MD: Hukum Dibuat untuk Benarkan Kehendak yang Salah
Kolom
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Ruang Publik Bebas Rokok Adalah Hak Kita Semua
-
Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan
-
Birokrasi No Viral No Justice: Kenapa Pelayanan Publik Selalu Dipersulit?
-
Bahasa Indonesia Kalah Populer di Negeri Sendiri, Mengapa?
Terkini
-
Siap Debut Jepang, Baby DONT Cry Akan Rilis Single "Replay" di 2 Negara!
-
5 HP Android dengan Kamera Bagus untuk Kamu yang Mau Mulai Ngonten
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Anime IruMafia Edition Tayang Januari 2027, Kisah Iruma di Kehidupan Mafia
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru