Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Ilustrasi bekerja (Pexels/cottonbro studio)
e. kusuma .n

Pernah merasa sudah bekerja dari pagi sampai sore, lembur saat dibutuhkan, bahkan mengorbankan waktu istirahat, tapi kondisi keuangan tetap begitu-begitu saja? Gaji datang, lalu perlahan habis untuk biaya hidup sehari-hari.

Bahkan belum sempat menabung, tanggal gajian berikutnya sudah terasa begitu jauh. Situasi seperti ini bukan cerita satu atau dua pekerja. Karena itu, setiap pembahasan upah minimum hampir selalu memancing perdebatan.

Bagi buruh, kenaikan upah adalah harapan untuk hidup lebih layak. Bagi pengusaha, isu ini berarti kenaikan biaya tenaga kerja yang perlu disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Sementara pemerintah harus mencari titik temu di antara keduanya.

Menjelang penetapan UMP 2027, perdebatan tersebut kembali mengemuka. Ibarat tradisi rutin tahunan, solusinya tidak pernah berpihak pada pekerja. Lantas, mengapa sekadar persoalan upah minimum tidak pernah benar-benar selesai?

Kenaikan Gaji Belum Tentu Berarti Hidup Lebih Sejahtera

Kenaikan upah seharusnya membuat pekerja memiliki daya beli lebih baik. Kenyataannya, saat harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, tempat tinggal, dan berbagai tagihan ikut meningkat, tambahan penghasilan terasa seperti sekadar mengejar kenaikan pengeluaran.

Inilah yang sering luput dari perdebatan angka kenaikan upah. Pekerja tidak hanya membutuhkan nominal gaji yang lebih besar, tapi juga kemampuan dan keleluasaan finansial untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Bayangkan pekerja yang setiap bulan harus membagi penghasilannya untuk makan, membayar tempat tinggal, membantu keluarga, dan menyisihkan dana darurat. Jika seluruh penghasilan habis untuk kebutuhan dasar, bagaimana mereka bisa merencanakan masa depan?

Artinya, keberhasilan kebijakan upah tidak cukup diukur dari persentase kenaikannya. Daya beli dan kualitas hidup pekerja juga harus menjadi perhatian mengingat begitu angka gaji naik harga kebutuhan langsung meroket.

UMP 2027: Antara Tuntutan Buruh dan Kemampuan Pengusaha

Pembahasan UMP 2027 kembali memperlihatkan perbedaan kepentingan. Kalangan buruh melalui KSPI mengusulkan kenaikan sekitar 7,5–9,5 persen. Di sisi lain, pengusaha mengingatkan bahwa kenaikan biaya ini perlu mempertimbangkan kondisi bisnis, produktivitas, dan kemampuan perusahaan.

Pemerintah sendiri menyatakan penetapan UMP 2027 masih mengacu pada PP Nomor 49 Tahun 2025. Formula penghitungan mempertimbangkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi dengan indeks tertentu. Besaran kenaikan yang diusulkan buruh belum menjadi keputusan resmi.

Perdebatan ini sebenarnya wajar. Perusahaan membutuhkan keberlanjutan usaha agar tetap mampu beroperasi dan mempertahankan tenaga kerja. Namun, pekerja juga tidak bisa terus diminta memahami kondisi perusahaan ketika kebutuhan hidup semakin berat.

Kebijakan upah semestinya tidak menjadikan pekerja dan pengusaha seolah-olah selalu berada di dua kubu yang berlawanan. Dua kubu ini seperti sengaja dibenturkan tanpa solusi bijak. Padahal, keduanya membutuhkan ekosistem ekonomi yang sehat.

Masalah Pasar Kerja Tidak Berhenti pada Besaran Gaji

Persoalan upah minimum juga berkaitan dengan masalah pasar kerja Indonesia. Tidak semua pekerja memiliki posisi tawar yang sama. Ada yang berstatus pekerja tetap, kontrak, outsourcing, hingga pekerja informal yang penghasilannya tidak menentu.

Bagi pekerja formal, upah minimum menjadi salah satu jaring pengaman. Namun, bagi pekerja informal, seperti pedagang kecil, pekerja lepas, dan pelaku usaha rumahan, perlindungan penghasilan belum tersedia dengan baik.

Di sinilah pembahasan upah layak perlu diperluas. Sebab, persoalan kesejahteraan tidak hanya dialami mereka yang bekerja di perusahaan, tapi juga masyarakat yang menggantungkan hidup pada pekerjaan tanpa kepastian pendapatan.

Perlindungan Sosial Harus Melengkapi Kebijakan Upah

Kenaikan UMP memang penting, tapi tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban. Pemerintah perlu memperkuat perlindungan sosial yang menjangkau pekerja formal maupun informal. Akses jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, hari tua, serta program perlindungan ketika kehilangan pekerjaan perlu diperluas.

Selain itu, dukungan transportasi publik, hunian terjangkau, dan layanan penitipan anak juga dapat membantu mengurangi beban pengeluaran pekerja. Perusahaan pun perlu didorong membangun lingkungan kerja yang adil, membayar upah tepat waktu, dan memberikan kepastian hak bagi pekerja.

Kerja Keras Seharusnya Membawa Kehidupan Lebih Layak

Perdebatan upah minimum bukan sekadar urusan angka dalam regulasi. Ini menyangkut kehidupan orang-orang yang setiap hari menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja. Kita tidak bisa terus mengukur kesejahteraan hanya dari seberapa keras seseorang bekerja.

Sebab, kerja keras semestinya memberi kesempatan untuk hidup lebih baik, bukan sekadar bertahan sampai tanggal gajian berikutnya. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja perlu duduk bersama mencari kebijakan yang adil dan realistis.

UMP yang layak harus berjalan beriringan dengan perlindungan sosial yang kuat. Sebab, tujuan bekerja bukan hanya menerima gaji, melainkan juga memiliki kehidupan yang layak, aman, dan punya masa depan.