Pernahkah kita memikirkan lagi alasan sebenarnya kita kuliah? Saat ini, pembicaraan soal kuliah jarang sekali membahas rasa penasaran atau keinginan untuk belajar. Yang sering dibicarakan justru jurusan mana yang paling cepat dapat kerja dan gajinya paling besar.
Kampus yang harusnya jadi tempat bebas berpikir kini berubah fungsi menjadi sekadar tempat latihan biar cepat masuk dunia kerja.
Tentu saja, kita tidak bisa menyalahkan pilihan ini. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, bertahan hidup adalah hal paling penting. Bicara soal serunya proses belajar terasa seperti kemewahan bagi orang yang masih bingung besok mau makan apa. Lagi pula, sistem pendidikan kita sepertinya memang dibentuk untuk mencetak pekerja yang menurut, bukan pemikir yang kritis.
Akhirnya, banyak anak muda yang merasa berijazah tapi mati rasa. Hal ini terjadi saat kuliah cuma jadi syarat cari kerja dan ijazah hanya dipakai sebagai alat jual beli di dunia kerja.
Pendidikan yang Disetir Selera Pasar Korporat
Sistem kuliah sekarang ibarat lembaga pelatihan kerja. Kampus seolah bertugas memenuhi pesanan industri, sementara mahasiswa cuma dituntut mengikuti apa pun keterampilan yang sedang laku di bursa kerja. Akibatnya, hubungan kita dengan ilmu pengetahuan bukan lagi soal rasa ingin tahu, melainkan murni urusan transaksi dagang.
Pergeseran ini membuat ruang kelas kehilangan fungsinya. Diskusi mendalam dan proses berpikir kritis sering kali disingkirkan karena dianggap tidak ada hubungannya dengan kriteria seleksi HRD. Dosen pun tak ubahnya instruktur yang fokus memastikan mahasiswanya lulus cepat dengan portofolio yang siap dijual ke perusahaan.
Ujung-ujungnya, terjadilah ironi besar. Kita masuk universitas dengan niat belajar, tetapi keluar hanya membawa kecemasan soal pekerjaan. Ketika seluruh proses kuliah cuma disetir oleh kebutuhan pasar, kampus resmi kehilangan tugas utamanya untuk mencetak pemikir yang merdeka.
Perut Kosong Memadamkan Nyawa Belajar
Namun, kita tidak bisa langsung menyalahkan mahasiswa yang memilih bersikap realistis. Membicarakan indahnya proses belajar dan nikmatnya mencari ilmu jelas jadi kemewahan bagi orang-orang yang masih pusing memikirkan urusan makan besok.
Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan minimnya bantuan negara, ijazah dan kerjaan bergaji tinggi adalah satu-satunya penyelamat agar kita tidak terperosok lebih dalam.
Di sinilah dilema terbesar anak muda bermula. Ada jarak yang sangat jauh antara keinginan tulus untuk belajar dan ketakutan menjadi pengangguran. Tekanan ini membuat mahasiswa tidak punya sisa energi untuk menikmati masa kuliahnya. Membaca buku di luar tugas atau sekadar berdiskusi isu hangat akhirnya dianggap sebagai kegiatan buang-buang waktu yang mahal harganya.
Ujung-ujungnya, sistem ini sukses memaksa kita belajar, tapi di saat yang sama merampas rasa senang dari belajar itu sendiri. Kita membaca, menghafal, dan ikut ujian bukan karena penasaran sama ilmunya, melainkan karena panik takut tertinggal.
Menghidupkan Kembali Rasa Ingin Tahu
Lantas, apakah kita harus pasrah dan menyerah begitu saja pada keadaan? Tentu saja tidak. Menyadari bahwa sistem ini bermasalah adalah langkah awal agar kita tidak ikut terseret arus. Selama masih ada waktu dan kemauan, hak untuk belajar yang sesungguhnya bisa kita ambil kembali, bahkan tanpa harus bergantung pada ruang kelas formal.
Kita bisa mulai merawat rasa ingin tahu dengan cara yang sederhana, seperti membaca buku yang benar-benar kita sukai, berdiskusi tanpa memikirkan nilai ujian, atau mempelajari hal baru demi kepuasan batin.
Bentuk perlawanan paling nyata dari sistem yang menekan ini adalah menolak membiarkan otak kita berhenti berpikir. Ijazah dan pekerjaan memang penting untuk menyambung hidup, tetapi itu tidak boleh merampas identitas kita sebagai manusia yang suka belajar.
Baca Juga
-
Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
-
Ulasan Love in Contract: Menguji Arti Komitmen Lewat Bisnis Nikah Kontrak
-
Mati Suri Demokrasi Akar Rumput: Potret Pilu Suara Rakyat yang Dibeli Murah
-
Ulasan Stock Struck: Saat Pemula Nekat Main Saham dan Berujung Kena Mental
-
Budaya Tutup Mulut soal Gaji: Menjaga Privasi atau Celah Eksploitasi?
Artikel Terkait
-
Putusan MA Gugurkan Suket Ijazah Gibran, Gerindra Segera Rumuskan Sikap
-
Putusan MK Jadi Rujukan, Polri Mulai Usut Dugaan Ijazah Palsu Gibran
-
Di Balik Lembaran Suket Gibran, PDIP Ungkap Keanehan Alibi Tanggalnya
-
Disentil PSI soal AHY Ingin Jadi Wapres Imbas Putusan MA soal Gibran, Jansen: Terlalu Jauh!
-
Pakar Hukum UMY: Putusan MA Tak Otomatis Kosongkan Jabatan Wapres, DPR Harus Gelar Impeachment
Kolom
-
Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
-
Meterai Rp10 Ribu: Saat Transaksi Warga Sekalipun Tak Luput dari Pajak
-
Mari Jaga Hutan Papua, Swasembada Energi atau Kedok Ekspansi Korporasi?
-
Dari Isi Piring hingga Obat, Politik Mengatur Kehidupan Kita Sehari-hari
-
Sering Ikut Perang Komentar Demi Idol? Hati-hati, Itu Bukan Loyalitas Tapi Fanatisme Buta
Terkini
-
Belajar Menghargai Pengorbanan Orang Tua dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
-
Piala Asia 2027 Resmi Diundur, Untung atau Buntung bagi Timnas Indonesia?
-
Bedah Lagu "Rayuan Perempuan Gila": Relate Banget Buat Kamu yang Punya Trust Issue
-
Shiba Inu Rooms Diadaptasi Jadi Anime TV, Komedi Siswi SMA dan Arwah Anjing
-
4 Pelembap Beta Glucan Jaga Skin Barrier dan Kulit Lembap, Cuma Rp80 Ribuan