Sebagai penunjang Ibu Kota DKI Jakarta, Kota Tangerang memiliki berbagai hal unik selain dari letak geografisnya yang dilalui Sungai Cisadane. Kota Tangerang memiliki kawasan yang memadukan tiga budaya dalam satu ruang lingkup sosial. Selain itu, toleransi antar umat beragama juga dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Di kawasan Kota Lama Tangerang khususnya, ketiga budaya itu terasa menyatu menjadi masyarakat yang bersatu. Perpaduan antara tiga budaya bisa terlihat sangat kental dalam kehidupan masyarakatnya. Warga etnis Tionghoa, Sunda dan Betawi yang hidup rukun sejak puluhan tahun, menjadi gambaran wajah Kota Tangerang yang menjunjung tinggi nilai kerukunan.
Etnis Tionghoa yang tinggal secara turun-temurun di kawasan Kota Lama ikut memengaruhi aspek kehidupan warga Tangerang, baik melalui bentuk rumah, tempat ibadah dan makanan. Pengaruh budaya Tionghoa antara lain bisa dilihat dari bentuk bangunan rumah, serta bentuk dan keberadaan tempat ibadah yang mencirikan nilai budayanya.
Salah satu contohnya adalah Masjid Jami Kali Pasir. Masjid tertua di Kota Tangerang ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran. Masjid ini terletak di sebelah timur bantaran Sungai Cisadane, tepatnya di tengah permukiman warga Tionghoa di Kelurahan Sukasari, dengan bentuk serta ornamen yang khas bangunan Tionghoa, selain sejarahnya yang memang panjang.
Masjid tertua di Tangerang ini bisa disebut mencerminkan kerukunan umat beragama pada masanya. Hingga kini, masjid yang sudah berusia ratusan tahun tersebut pun masih digunakan sebagai tempat beribadah.
Selain menjadi tempat ibadah dan syiar agama, Masjid Jami Kali Pasir memang juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sebagaimana diakui tokoh masyarakat setempat, masjid ini menjadi tempat akulturasi budaya, sekaligus saksi perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah.
Dari segi bangunan, menara masjid ini misalnya, mirip dengan pagoda Tiongkok. Sedangkan dari aspek tradisi budaya, ada acara arakan miniatur perahu yang biasanya digelar oleh masjid ini dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Seperti dijelaskan tokoh masyarakat setempat, arakan perahu dilakukan sebagai simbol tibanya para sesepuh Islam melalui Sungai Cisadane di Kota Tangerang. Tradisi arakan tersebut sudah dimulai sejak tahun 1926, yang dilakukan dengan mengisi perahu dengan berbagai buah-buahan.
Letak Masjid Jami Kali Pasir sendiri juga berdekatan dengan Kelenteng Boen Tek Bio, salah satu kelenteng tertua di Kota Tangerang. Meski letaknya berdekatan, masyarakat sekitar maupun umat dari kedua agama justru saling menjunjung tinggi rasa menghargai dan toleransi. Di setiap acara kegiatan agama, masyarakat saling bergotong-royong untuk menjalin serta merawat toleransi yang sudah ada sejak ratusan tahun.
Kelenteng Boen Tek Bio berlokasi di sudut Jalan Bhakti dan Jalan Cilame, kawasan Pasar Lama, Tangerang. Berdasarkan keterangan di lokasi dan penjelasan tokoh setempat, dibangun pada tahun 1684, Kelenteng Boen Tek Bio merupakan bagian penting dari sejarah Tangerang, khususnya sejarah permukiman kaum Tionghoa di Tangerang. Bagian tertua dari bangunan ini berasal dari tahun 1775.
Kelenteng ini sempat mengalami renovasi besar pada tahun 1844, kemudian sayap sisi kanan dan kirinya ditambahkan pada tahun 1875, sebelum kemudian halaman dalam pada tahun 1904. Kelenteng Boen Tek Bio juga mewakili sejarah hubungan erat antara birokrasi pemerintahan kolonial Belanda dengan warga Tionghoa di Tangerang.
Selain bentuk tempat ibadah yang saling berpaduan satu sama lain, bangunan rumah warga yang tinggal di kawasan Kota Lama Tangerang, juga memperlihatkan eksistensi dari budaya Betawi. Sejumlah bangunan tua yang ada sampai saat ini misalnya, meniru konsep dari rumah Betawi pada sudut jendela yang khas dan unik.
Hal ini menggambarkan kawasan Kota Lama Tangerang sebagai daerah yang memiliki keberagaman, dengan tingkat toleransi yang tinggi sejak dahulu kala. Tokoh pemuka agama di daerah ini juga menganggap bahwa perbedaan bukanlah hal yang dapat menyebabkan permusuhan.
Warga yang tinggal di wilayah sekitar pun demikian. Mereka bahkan berharap nilai-nilai keberagaman ini bisa terus dilestarikan oleh generasi muda harapan bangsa, demi menghadirkan dan menjaga kedamaian di setiap waktu.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
5 Fakta Al-Aqsa Diblokade Israel saat Ramadan: Pancing Amarah Negara Muslim
-
Festival Ramadan Hadirkan Lomba Hadroh, Marawis, dan Bedug Shalawat untuk Komunitas Seni Islami
-
Tebar Kebaikan Sesama, Ribuan Mitra Gojek Bersihkan Ratusan Masjid di Indonesia
-
Evakuasi WNI dari Iran Dimulai, 22 Orang Tiba di Tanah Air
-
Masjid Raya Baiturrahman Resmi Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional
Lifestyle
-
4 Ide OOTD Soft Girly ala Winter aespa untuk Look Feminin Simpel
-
Tak Perlu Antre! Ini 4 Cara Cek Rest Area yang Tidak Padat saat Mudik
-
5 Tips Perawatan Wajah agar Tetap Lembap dan Fresh saat Mudik
-
4 Mix and Match Outfit ala Jeon Somi untuk Look Effortless tapi Chic!
-
4 Skin Tint Coverage Ringan dengan SPF 30 yang Nyaman Dipakai Sehari-hari
Terkini
-
Review Buku Adaptasi: Menyikapi Fase Perubahan dalam Kehidupan Umat Manusia
-
The Notebook: Makna Kesetiaan dan Cinta yang Terus Dipilih Setiap Hari
-
Film Reminders of Him, tentang Cinta dan Penebusan Dosa yang Menggelora
-
Ucapan 'Mohon Maaf Lahir dan Batin' saat Idulfitri: Benarkah Selalu Tulus?
-
7 Drama Park Jin Young yang Wajib Ditonton, Still Shining Jadi yang Terbaru