Belakangan ini, algoritma media sosial saya dipenuhi oleh curhatan para ibu bekerja. Mulai dari video TikTok seorang ibu yang menangis di dalam mobil sebelum masuk kantor, utas X (Twitter) panjang tentang sulitnya mencari pengasuh anak yang tepercaya, hingga unggahan LinkedIn bernada frustrasi karena kesempatan promosi yang tiba-tiba sirna setelah cuti melahirkan.
Jujur saja, saya sendiri belum menikah, apalagi memiliki anak. Saya belum pernah merasakan rasanya menyusui di sela-sela rapat penting atau panik saat anak demam di rumah sementara tenggat waktu pekerjaan sudah di depan mata. Namun, membaca dan menyimak keluhan-keluhan mereka membuat mata saya terbuka pada sebuah realitas pahit di dunia profesional yang dikenal sebagai The Motherhood Penalty (penalti keibuan).
The Motherhood Penalty adalah istilah sosiologi yang merujuk pada kerugian sistematis yang dihadapi perempuan dalam hal pendapatan, persepsi kompetensi, dan peluang karier di tempat kerja setelah mereka memiliki anak. Fenomena ini merupakan bentuk diskriminasi terselubung, di mana seorang ibu sering kali dinilai kurang berkomitmen, kurang fleksibel, dan lebih tidak diandalkan dibandingkan rekan kerja laki-laki atau perempuan tanpa anak. Akibatnya, status sebagai "ibu" secara otomatis menurunkan nilai tawar mereka di pasar tenaga kerja, sebuah hukuman sosial dan ekonomi yang terjadi hanya karena mereka memilih untuk bereproduksi.
Istilah ini bukan sekadar konsep teori di buku sosiologi, melainkan fenomena nyata di mana perempuan mengalami kerugian sistematis dalam hal gaji, persepsi kompetensi, dan tunjangan kerja setelah mereka menjadi seorang ibu. Mengapa menjadi ibu seolah menjadi sebuah dosa karier yang harus dibayar begitu mahal?
Ilusi "Memiliki Semuanya"
Dari balik layar ponsel, saya melihat betapa melelahkannya tuntutan modern terhadap perempuan. Mereka dituntut untuk bekerja keras seolah-olah tidak punya anak, tetapi di saat yang sama wajib mengasuh anak seolah-olah tidak bekerja.
Seorang Ibu ditolah mengikuti wawancara atau bekerja karena memiliki anak. Ini adalah contoh nyata dari Motherhood Penalty. Ketika seorang laki-laki menjadi ayah, dunia profesional melihatnya sebagai sosok yang lebih bertanggung jawab dan layak mendapatkan promosi, atau disebut sebagai Fatherhood Bonus. Sebaliknya, ketika perempuan menjadi ibu, mereka langsung dicap kurang berkomitmen terhadap pekerjaan. Produktivitas mereka dipertanyakan, bahkan sebelum mereka sempat membuktikannya.
Ketimpangan yang Terstruktur
Berdasarkan fenomena ini, saya menyadari bahwa masalahnya bukan terletak pada ketidakmampuan para ibu dalam mengatur waktu. Masalahnya ada pada sistem kerja kita yang belum ramah keluarga.
Pertama, adanya kesenjangan upah (wage gap). Banyak studi menunjukkan bahwa pendapatan perempuan turun drastis setelah memiliki anak pertama, sementara pendapatan laki-laki cenderung stabil atau bahkan meningkat. Kedua, hilangnya kesempatan promosi, yakni di mana cuti melahirkan dianggap sebagai masa vakum yang mengurangi penilaian kerja. Ketiga, kurangnya dukungan fasilitas, di mana minimnya ruang laktasi yang layak di tempat kerja atau kebijakan daycare perusahaan memaksa banyak ibu terpaksa resign dengan anak.
Perempuan-perempuan tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya meminta keadilan dan ruang yang aman untuk tetap berdaya tanpa harus mengorbankan peran mereka sebagai orang tua.
Mengubah Narasi demi Masa Depan
Membaca keluhan-keluhan ini tidak membuat saya takut untuk menjadi ibu di masa depan, melainkan membuat saya geram. Mengapa struktur sosial kita menghukum perempuan yang berkontribusi pada keberlangsungan generasi masa depan?
Kita perlu mengubah narasi ini. Perusahaan harus mulai menyediakan kebijakan yang inklusif, seperti jam kerja yang fleksibel, cuti ayah (paternity leave) yang memadai agar beban domestik bisa dibagi rata, serta penilaian kinerja yang berbasis hasil, bukan sekadar kehadiran fisik di kantor.
The Motherhood Penalty adalah cerminan bahwa dunia kerja kita masih diskriminatif. Saya berharap suara-suara para ibu di media sosial tidak hanya menguap menjadi algoritma yang lewat, tetapi menjadi pemantik perubahan nyata. Menjadi ibu seharusnya menjadi fase kehidupan yang dirayakan, bukan sebuah penalti yang mematikan langkah karier perempuan.
Baca Juga
-
BBM Naik, Kritik Diblokade: Mengapa Hubungan Kita dan Pemerintah Makin Toxic?
-
Ironi Subsidi Silang: Saat Stabilitas Negara Dibayar dengan Air Mata Rakyat Kecil
-
Menakar Tren Slash Career: Alasan Gen Z Tak Cukup Punya Satu Profesi
-
Novel Salvation of a Saint: Tragedi Domestik dalam Bingkai Trik Mustahil
-
Eksploitasi Luka Pribadi: Menyoroti Sisi Gelap Tren Sadfishing di Medsos
Artikel Terkait
Kolom
-
Saatnya Bersuara: Menghentikan Eksploitasi Hutan Sebelum Terlambat bagi Orangutan
-
BBM Naik, Kritik Diblokade: Mengapa Hubungan Kita dan Pemerintah Makin Toxic?
-
CCTV Mendadak Mati Saat Demo Mahasiswa, Ada Apa di Balik Layar Bundaran HI?
-
Situasi Ekonomi Makin Sulit, Apakah Work-Life Balance Masih Bisa Dinikmati?
-
Anak Muda Harus Melek Politik: Tiap Kebijakan Menentukan Nasib Warga Negara
Terkini
-
Piala Dunia 2026, Timnas Qatar dan Kelayakan Semu The Maroon Tampil di Putaran Final Gelaran
-
Han Ji Min dan Koo Kyo Hwan Berpeluang Jadi Pasangan di Film Typhoon
-
Review Film Hokum, Minim Jumpscare tapi Bikin Tegang Sampai Akhir
-
Viral Podcast Raditya Dika: Bongkar Rahasia Bertahan Hidup dari Gigitan Ular
-
Pencinta Sepak Bola Wajib Baca: Tips Beli Jersey Orisinal Piala Dunia 2026