Apakah kalian merasa familiar dengan nasihat tersebut?
Sejujurnya, saya sendiri baru mendengar kalimat itu beberapa waktu lalu ketika saya bercerita pada salah seorang teman jika pernah melakukan pembelian lebih banyak saat dalam kondisi lapar. Dia menanggapi bahwa rasa lapar memang bisa membuat seseorang menjadi lebih impulsif saat berbelanja.
Setelah saya cari tahu lagi, ternyata hal itu memang benar adanya. Selama ini mungkin banyak orang menganggap perkataan tersebut sebagai nasihat sederhana dari orang tua atau kebiasaan turun-temurun. Namun ternyata, nasihat tersebut memiliki penjelasan psikologis yang cukup menarik.
Pada saat lapar, tubuh kita mengalami yang namanya fenomena hangry atau rasa lapar yang memicu emosi negatif. Hal ini disebabkan karena penurunan kadar glukosa yang mengakibatkan tubuh mengeluarkan hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin. Pada saat yang sama, kita bisa menjadi lebih sensitif, mudah kesal, dan kesulitan untuk berpikir jernih. Dan akhirnya, kemampuan otak untuk mengambil keputusan secara rasional ikut terpengaruh.
Ketika sedang mencari tahu terkait hal ini, saya juga menemukan penelitian yang menunjukkan bahwa rasa lapar dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Saat lapar, orang cenderung lebih memilih kepuasan yang bisa didapatkan segera dibandingkan manfaat yang baru dirasakan di masa depan. Dengan kata lain, kemampuan kita untuk bersabar dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang menjadi menurun.
Menariknya, dorongan tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan. Rasa lapar juga dapat memengaruhi keputusan finansial dan membuat seseorang lebih impulsif saat berbelanja. Ketika sedang lapar, membeli camilan, minuman, atau barang tambahan yang sebenarnya tidak direncanakan bisa terasa jauh lebih menggoda daripada biasanya.
Perubahan psikologis inilah yang membuat seseorang lebih rentan melakukan pembelian impulsif. Rasa lapar dapat melemahkan kontrol diri dan membuat kita lebih mudah tergoda oleh berbagai promo, diskon, atau barang yang menarik perhatian. Akibatnya, tidak sedikit orang yang pulang dengan keranjang belanja lebih penuh dari rencana awal, bahkan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan saat itu.
Persis seperti yang dikatakan teman saya. Supermarket sepertinya memang didesain untuk hal ini. Tidak sedikit supermarket yang menempatkan produk makanan, camilan, atau promo menarik di area yang mudah terlihat oleh pengunjung. Sementara produk-produk bahan pokok diletakkan di bagian belakang. Hal ini membuat kita sebagai konsumen mau tak mau harus melewati koridor yang penuh dengan godaan camilan instan di sepanjang jalan.
Karena itu, tidak heran jika kita begitu mudah tergoda membeli makanan dan barang-barang lain yang mungkin belum dibutuhkan saat berkunjung ke supermarket dalam keadaan lapar. Sebab ketika perut kosong, ia bukan hanya aktif mencari makanan, tapi juga membuat otak kita lebih mudah tergoda oleh berbagai bentuk kepuasan instan.
Lantas, bagaimana dengan e-commerce? Apakah hal serupa bisa terjadi?
Meskipun konteksnya berbeda, hal serupa juga dapat terjadi saat berbelanja melalui aplikasi. Ketika sedang lapar, promosi makanan, foto produk yang menggugah selera, hingga notifikasi diskon bisa terasa jauh lebih menarik dibandingkan biasanya. Akibatnya, kita lebih mudah melakukan pembelian yang sebelumnya tidak direncanakan.
Hal semacam ini tentunya bisa dihindari dengan cara yang cukup sederhana. Sebelum belanja, pastikan kita makan terlebih dahulu. Setidaknya perut tidak benar-benar kosong saat kita sedang berada di supermarket atau ketika membuka aplikasi e-commerce.
Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan membuat daftar belanja. Untuk menghindari pembelian di luar rencana, kita juga bisa menentukan anggaran maksimal sebelum berbelanja dan berusaha tetap berpegang pada daftar yang sudah dibuat. Jika transaksi dilakukan di e-commerce, kita bisa menerapkan aturan jeda sebelum membeli sesuatu. Misalnya, taruh barang yang kita inginkan di keranjang lebih dulu, lalu pikirkan selama satu sampai tiga hari. Jika memang kita masih merasa butuh dengan barang itu, kita bisa melakukan pembelian.
Di era sekarang, menerapkan semua itu tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, in this economy, bukankah kita memang perlu berpikir lebih matang sebelum melakukan pembelian yang sebenarnya tidak direncanakan?
Nasihat untuk tidak berbelanja saat lapar ternyata bukan sekadar mitos atau kebiasaan lama yang diwariskan begitu saja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar memang dapat memengaruhi emosi, kontrol diri, hingga cara kita mengambil keputusan saat berbelanja. Karena itu, jika ingin belanja lebih bijak dan sesuai kebutuhan, mungkin langkah pertama yang perlu dilakukan bukan memeriksa isi dompet, melainkan memastikan perut sudah terisi terlebih dahulu.
Baca Juga
-
Situasi Ekonomi Makin Sulit, Apakah Work-Life Balance Masih Bisa Dinikmati?
-
Jebakan 'Sekalian Aja': Bagaimana Supermarket dan QRIS Menguras Isi Dompet Kita
-
Sedotan Kertas Makin Banyak Digunakan, Benarkah Lebih Ramah Lingkungan?
-
Gen Z Tak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi: Kurang Ambisi atau Lebih Realistis?
-
Review Teach You a Lesson: Drama yang Menampar Realitas Dunia Pendidikan
Artikel Terkait
Kolom
-
Begadang Demi Piala Dunia di Tengah Kesibukan, Masih Worth It?
-
The Motherhood Penalty: Dosa Karier yang Harus Dibayar Mahal oleh Perempuan
-
Saatnya Bersuara: Menghentikan Eksploitasi Hutan Sebelum Terlambat bagi Orangutan
-
BBM Naik, Kritik Diblokade: Mengapa Hubungan Kita dan Pemerintah Makin Toxic?
-
CCTV Mendadak Mati Saat Demo Mahasiswa, Ada Apa di Balik Layar Bundaran HI?
Terkini
-
Sinopsis My Fiction, Drama Thriller Jepang yang Dibintangi Yuta Tamamori
-
4 Mix and Match Daily OOTD ala Giselle aespa untuk Hangout dan Ngopi Cantik
-
Piala Dunia 2026, Timnas Qatar dan Kelayakan Semu The Maroon Tampil di Putaran Final Gelaran
-
Han Ji Min dan Koo Kyo Hwan Berpeluang Jadi Pasangan di Film Typhoon
-
Review Film Hokum, Minim Jumpscare tapi Bikin Tegang Sampai Akhir