Apa sebenarnya makna dari menerima diri sendiri? Apakah menerima segala kekurangan diri dan membiarkannya begitu saja? Atau berusaha memperbaikinya dengan segala cara?
Setiap orang mungkin memiliki pandangan yang berbeda mengenai penerimaan diri. Ada yang bisa menerima dirinya sendiri seperti apa adanya, ada juga yang harus melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk bisa menerima dirinya.
Terlepas dari itu semua, ada beberapa poin yang mungkin bisa disepakati berkaitan dengan penerimaan terhadap diri sendiri. Apa saja poin-poin tersebut? Berikut ini adalah beberapa poin yang bisa kamu terapkan untuk mendorong rasa penerimaan diri dalam dirimu.
1. Tetap berusaha mengembangkan diri
Sikap penerimaan diri tidak memiliki makna bahwa kita menerima begitu saja segala kelemahan dan kelebihan kita. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, tugas kita adalah mencari solusi bagaimana menyikapi dan mengatasi kekurangan itu. Jangan sampai pemahaman terhadap penerimaan diri menghalangi kita untuk mengembangkan diri.
2. Bisa memaafkan diri
Penerimaan diri juga berhubungan dengan memaafkan diri sendiri. Apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang telah kita lakukan, harus bisa kita terima sebagai bagian dari diri kita.
Memaafkan diri sendiri juga merupakan salah satu bentuk penerimaan diri yang harus bisa kita terapkan.
3. Tidak berusaha menjadi orang lain
Sesukses apapun kehidupan orang lain, sesempurna apapun kelihatannya, kita tidak pernah tahu apa yang sudah dilalui orang tersebut untuk bisa sampai di titik itu.
Berusaha menjadi orang lain menunjukkan bahwa kita tidak bisa menerima diri kita sendiri seutuhnya. Bayangan serta tekanan bahwa kita harus bisa menjadi orang lain hanya akan menghalangi kita menjadi diri sendiri.
4. Menetapkan harapan yang realistis
Salah satu hal yang paling menghancurkan adalah menaruh harapan terlalu tinggi baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Harapan yang tidak realistis pada akhirnya hanya akan menyakiti diri kita sendiri. Salah satu bentuk penerimaan diri adalah bisa menetapkan harapan yang realistis terhadap diri sendiri maupun orang lain.
5. Tidak menuntut diri menjadi sempurna
Tidak ada manusia yang sempurna. Berhenti menuntut kesempurnaan terhadap diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelemahan.
Daripada berusaha menutupi kekurangan yang dimiliki agar terlihat sempurna, lebih baik berusaha untuk menghadapi kekurangan itu sendiri dan menyikapinya dengan bijak.
Itulah lima poin yang bisa kamu terapkan untuk mendorong rasa penerimaan diri dalam dirimu. Terlihat mudah ketika dibayangkan, tetapi pada kenyataannya cukup susah ketika diterapkan. Namun, itulah bagian dari proses bertumbuh dan menjadi lebih baik.
Tag
Baca Juga
-
Ikuti Perjalanan Hampa Kehilangan Kenangan di Novel 'Polisi Kenangan'
-
3 Novel Legendaris Karya Penulis Indonesia, Ada Gadis Kretek hingga Lupus
-
Geram! Ayu Ting Ting Semprot Netizen yang Hujat Bilqis Nyanyi Lagu Korea
-
Haji Faisal Akui Sempat Syok dengan Konten Atta Halilintar yang Disebut Netizen Sentil Fuji
-
Outfit Bandara Seowon UNIS Jadi Sorotan, K-netz Perdebatkan Usia Debut
Artikel Terkait
-
Wartawan Dibakar Hidup-hidup, Keluarga Korban Minta Terdakwa Dihukum Mati
-
Indonesia Krisis Hakim, Kekurangan Hampir 2.000 Hakim Ancam Kinerja Peradilan
-
Trik Anti Gagal Membuat Kue Putri Salju yang Sempurna
-
Erick Thohir: Patrick Kluivert Punya Kekurangan
-
Robot Pelayan, Jawaban Jepang atas Kekurangan 11 Juta Tenaga Kerja
Lifestyle
-
Elegan dan Manis! 4 Inspirasi Outfit Feminin ala Minnie (G)I-DLE
-
4 OOTD Minimalis ala Wooyoung ATEEZ yang Tetap Modis untuk Disontek!
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?