Saat mengirimkan artikel ke media online, kita memang harus sudah siap dengan segala kemungkinan. Bukan hanya kabar gembira terkait notifikasi publish, tapi juga rejected dan revision. Berbeda dengan artikel publish atau rejected yang sudah memiliki kejelasan, artikel yang masuk kolom revisi seringkali membuat kita bingung. Meski bukan penolakan, tapi tetap saja artikel tadi dikembalikan lagi untuk diperbaiki.
Sisi baiknya, pengembalian artikel biasanya juga disertai dengan catatan kesalahan atau kekurangan yang dilihat oleh editor.
Berikut ini beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebabnya.
1. Sudut pandang artikel yang terlalu memihak
Terkadang tanpa sadar kita memiliki kecenderungan untuk memihak saat menuangkan pikiran. Tak terkecuali saat menulis artikel di media online, gak jarang kita akan kesulitan menghindari keberpihakan. Salah satu contohnya saat berkaitan dengan gender.
Jika penulis adalah wanita, tidak menutup kemungkinan akan cenderung melihat dari sudut pandang wanita hingga menjadi lebih berpihak dan sebaliknya. Padahal seorang penulis, baik amatir maupun profesional, harus bisa menjaga agar setiap karya tulisnya tetap netral.
Hal inilah yang terkadang menjadi salah satu alasan kuat artikel kita dikembalikan untuk direvisi. Cobalah untuk belajar melihat segala sesuatu dari kacamata yang netral agar artikel yang kita tulis tidak lagi condong pada satu pihak.
2. Gambar yang digunakan kurang sesuai dengan ketentuan
Salah satu aturan pengiriman artikel di media online adalah menggunakan gambar yang sesuai, baik dalam hal ukuran maupun sumbernya. Hal ini tentunya akan sangat penting sebab gambar akan menjadi penunjang kelengkapan artikel kita. Jika ukuran gambar tidak sesuai, ada kemungkinan tidak bisa diunggah atau malah jadi tidak jelas karena terlalu kecil.
Selain ukuran, sumber pengambilan gambar juga gak kalah penting untuk diperhatikan. Ada aturan yang jelas dan adil perihal alamat sumber pengunduhan gambar. Jika melanggar aturan terkait pemilihan gambar untuk artikel yang kita kirimkan, editor gak akan segan untuk meminta perbaikan.
3. Penulisan kata masih ada yang salah
Meski terkesan remeh, tapi penulisan kata yang menyalahi KBBI dan PUEBI juga bisa menjadi alasan revisi. Beberapa media online bahkan memiliki aturannya sendiri yang harus diperhatikan dan taati penulis hingga ketidaksesuaian pun berpotensi jadi salah satu alasan pengembalian artikel.
Memang benar ada media online yang bisa menerima penggunaan kata tidak baku agar bahasa yang dipakai terasa luwes saat dibaca. Hanya saja, kalau mau memperbaiki kebiasaan ini justru akan meningkatkan kemampuan bahasa kita terutama jika ingin berkarir secara profesional.
4. Belum mencantumkan sumber data pendukung
Beberapa artikel dalam kategori tertentu terkadang membutuhkan pencantuman sumber data pendukung seperti jurnal atau hasil penelitian. Biasanya artikel di kanal health dan science lebih sering membutuhkannya. Pasalnya, kedua kategori artikel ini memang harus disertai dengan data dan fakta yang mampu mendukung tulisan.
Kekurangan sumber data pendukung ini pada akhirnya menjadi sebab artikel masuk kolom revisi atau bahkan bisa saja ditolak. Namun, sebenarnya penulis tidak perlu cemas. Sebab, biasanya editor juga akan memberi saran terkait jurnal atau penelitian seperti apa yang harus disertakan.
5. Pemilihan judul dan sub judul kurang greget
Judul bisa dikatakan sebagai cerminan dari keseluruhan artikel. Seberapa menarik isi artikelmu, seharusnya dapat ditunjukkan lewat kesan pada judul utama. Beberapa pengembalian artikel gak jarang berkaitan dengan judul utama yang kurang gereget.
Selain itu, sub judul juga harus dibuat menarik agar tiap ulasan tersampaikan dengan baik. Beberapa editor mungkin akan berbaik hati merevisi dan langsung menerbitkan tulisanmu. Meskipun begitu, mereka akan tetap memberi feedback agar kamu tahu letak kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi.
Nah, itu tadi beberapa alasan yang kemungkinan besar jadi menyebabkan pengembalian artikel hingga masuk kolom revisi. Ada yang pernah mengalaminya juga?
Baca Juga
-
Paylater dan Gaya Hidup Gen Z: Solusi Praktis atau Jebakan Finansial?
-
Fresh Graduate dan Realita Dunia Kerja: Ekspektasi Tinggi, Kenyataan Beda
-
Realita Tidak Estetik Dunia Kerja yang Abu-Abu: Antara Passion dan Tagihan
-
Perempuan Berkarier di Tengah Tekanan Sosial: Sukses atau 'Terlalu Sibuk'?
-
Dulu Rajin, Sekarang "Cuek": Inilah Alasan Mengapa Banyak Pekerja Mulai Jaga Jarak
Artikel Terkait
-
Waspada! Tiga Makanan Ini Bisa Jadi Penyebab Radang Empedu
-
4 Alasan Seseorang Membuat Sakit Hati Pasangannya, Kamu Termasuk?
-
4 Alasan Mengapa Seseorang Memilih Memendam Perasaannya Sendirian
-
Beberapa Alasan Mengapa Kamu Harus Memakai Cushion Foundation
-
Enam Orang Jadi Korban Kecelakaan Maut di Jalan Raya Sukabumi-Cianjur, Polisi Beberkan Penyebabnya
Lifestyle
-
Samsung Kini Jual HP Refurbished Resmi, Harga Flagship Jadi Makin Worth It!
-
Playful ke Elegan Look, Ini 4 Ide Outfit Feminin Kekinian ala Yuna ITZY
-
Bye PIH dan PIE! 4 Brightening Serum dengan Formula Konsentrasi Tinggi
-
5 Cargo Pants Pria Kekinian yang Cocok untuk OOTD Casual hingga Streetwear
-
Shower Puff Sarang Bakteri? Intip Cara Memilih dan Rekomendasinya!
Terkini
-
Bikin Penonton Ikut Sedih, Begini Sisi Tragis Yoon Yi Rang di Perfect Crown
-
Etika Berkomunikasi bagi Pemandu Acara: Pelajaran dari Panggung LCC Kalbar
-
Menanti Taji BPKP: Saat Prabowo Mulai Bersih-Bersih Rumah Birokrasi
-
Manga GIGANT Karya Hiroya Oku Resmi Diadaptasi jadi Film Anime Layar Lebar
-
Film The Square, Pria Modern yang Sibuk Pencitraan dan Krisis Emosional