Lintang Siltya Utami | Fildza Malahati
Ilustrasi Toko Jam Elias (AI Foto)
Fildza Malahati

        Di ujung gang sempit yang hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip, berdirilah sebuah toko kecil dengan papan kayu bertuliskan: “Toko Jam Elias, memperbaiki yang Rusak, Mengulang yang Terlewat.”

     Elias, sang pemilik toko, adalah pria dengan kacamata bulat tebal yang jemarinya selalu berbau minyak pelumas dan logam. Namun, Elias bukan pengrajin jam biasa. Di balik rak-rak kaca yang dipenuhi jam dinding kuno, ia menyimpan laci-laci kecil berisi "detik-detik yang hilang."

      Suatu sore yang mendung, seorang wanita muda bernama Clara masuk ke toko dengan napas terengah. Matanya sembab. Di tangannya, ia menggenggam sebuah arloji emas yang kacanya retak seribu.

     "Bisa kau perbaiki ini?" tanya Clara dengan suara bergetar. "Aku ingin kembali ke Selasa sore minggu lalu. Hanya lima menit. Aku ingin menarik kata-kata kasar yang kuucapkan pada ibuku sebelum ia... sebelum kecelakaan itu terjadi."

   Elias menatap Clara dengan iba. Ia mengambil arloji itu, meletakkannya di atas meja kerja yang diterangi lampu kuning temaram. "Kau tahu harganya, Nak? Mengulang waktu tidak dibayar dengan uang."

        "Apa pun," jawab Clara tegas. "Ambil apa pun dariku."

      Elias menghela napas panjang. "Untuk membeli lima menit di masa lalu, kau harus menyerahkan lima tahun ingatan bahagiamu di masa depan. Kau akan menyelamatkannya, tapi kau mungkin tidak akan ingat mengapa kau sangat mencintainya."

     Clara tertegun. Lima tahun kebahagiaan adalah harga yang sangat mahal. Namun, bayangan wajah ibunya yang terluka oleh ucapannya jauh lebih menyiksa. "Lakukan," bisiknya.

     Elias mulai bekerja. Dengan obeng sekecil jarum, ia memutar roda gigi arloji itu berlawanan arah jarum jam. Ruangan tiba-tiba dipenuhi suara detak yang memekakkan telinga. Dinding toko seolah melar, dan cahaya lampu mulai berputar seperti pusaran air.

       "Pejamkan matamu," perintah Elias.

       Saat Clara membuka mata, ia berdiri di ruang tamu rumahnya. Bau masakan sup ayam tercium dari dapur. Ibunya sedang berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah sedih setelah pertengkaran hebat mereka. Dalam versi aslinya, Clara seharusnya membanting pintu dan pergi.

     Namun kali ini, Clara berlari. Ia memeluk ibunya dengan erat, menangis di bahunya. "Maafkan aku, Bu. Aku sangat menyayangimu. Tolong jangan pergi sore ini."

   Ibunya terkejut, namun kemudian tersenyum dan membalas pelukan itu. "Ibu tidak akan ke mana-mana, Sayang."

         Klik.

     Dunia kembali berputar. Clara terbangun di depan toko Elias. Arloji emas di tangannya kini utuh, berkilau seperti baru. Arloji itu berdetak normal. Di seberang jalan, ia melihat ibunya sedang melambai ke arahnya dari dalam mobil yang terparkir, tampak sehat dan bugar.

     Clara tersenyum, namun ada setetes air mata yang jatuh di pipinya. Ia merasakan ada sebuah lubang besar di dalam ingatannya—seperti sebuah buku yang beberapa halamannya baru saja dicabut paksa. Ia tidak ingat kapan pertama kali ia belajar bersepeda bersama ibunya, ia tidak ingat tawa mereka saat liburan di pantai, ia bahkan lupa rasa kue ulang tahun yang dibuatkan ibunya tahun lalu.

     Elias berdiri di pintu toko, memperhatikannya dari jauh. Ia telah menyimpan ingatan-ingatan itu di dalam laci kecilnya.

   "Beberapa luka sembuh dengan cara melupakan," gumam Elias pelan sambil menutup pintu tokonya.

      Clara melangkah menuju ibunya. Meskipun ia kehilangan banyak kenangan indah, ia tahu bahwa mulai detik ini, ia memiliki waktu untuk menciptakan ribuan kenangan baru yang takkan pernah ia sia-siakan lagi. Hujan mulai turun, namun bagi Clara, setiap tetesnya terdengar seperti detak jam yang membisikkan kata: hidup.

Baca Juga