Perilaku konsuftif merupakan gaya hidup yang suka membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang matang. Perilaku seperti ini sering kita temui dalam kehidupan kita, atau malah tanpa disadari kita sendiri yang berperilaku konsumtif. Apa saja perilaku tersebut? Simak sampai habis ya.
1. Berlindung dibalik alasan self reward
Apa kamu sering merasa berlebihan dalam melakukan self rewards? "Nggak apa-apa, sesekali beli lah buat self reward", bagaimanapun pola pikir seperti ini tidak dapat di benarkan. Hati-hati, jangan sampai niat menghadiahi diri sendiri malah berujung jadi pemborosan.
2. Membeli tanpa pertimbangan
Jika kamu sering berbelanja tanpa membuat rencana tentang apa yang perlu kamu beli, maka kamu masuk dalam kategori Impulsive buying yaitu orang yang sering menggunakan uangnya untuk pembelian yang spontan, juga terburu-buru tanpa melibatkan pikiran. Pola belanja yang seperti ini juga termasuk dalam golongan perilaku konsumtif.
3. Merasa harus up to date
Terlalu sering mengkonsumsi konten-konten di media sosial membuat kamu jadi merasa harus selalu mengikuti tren masa kini. Padahal, tren itu cepat sekali berubah dan belum tentu cocok dengan dirimu. Hati-hati, jangan sampai demi mengikuti tren malah membuatmu menjadi orang lain dan kurang bahagia.
4. Kecanduan dengan rasa puas setelah check out
Ketika membeli barang-barang baru, kamu merasa seperti (entah dari mana) mendapat energi baru. Termasuk mendapatkan kepuasan instan yang sebenarnya bersifat semu. Tak jarang kamu membeli sesuatu hanya karena untuk mengalihkan perhatian dari rasa cemas, sedih, bosan, atau stress yang kamu rasakan.
5. Mudah tergoda promo
Seseorang dengan perilaku impulsif akan mudah menyesal atau bahkan merasa bersalah saat tidak membeli barang yang sedang diskon. Karena merasa ada kemungkinan harus membeli dengan harga normal. Perlu kamu tahu, diskon dan promo jenis lainnya akan ada di lain kesempatan, tak perlu merasa bersalah.
Itulah lima tanda kamu punya perilaku konsumtif. Apakah kamu mempunyai ciri-ciri yang disebutkan diatas? Hati-hati, jika kita terus menerus memelihara gaya hidup konsumtif, maka efeknya tidak hanya merugikan ekonomi diri sendiri, namun juga akan merugikan pasangan dan orang-orang di sekitar kita.
Baca Juga
-
Hari Buruh Internasional: Seruan Perubahan untuk Dunia Kerja
-
Buka Kembali Kenangan Lama Lewat Google Maps dan Earth
-
Belajar Jadi Seru: 7 Cara Pilih Aplikasi AI yang Cocok untuk Anak
-
Chatbot vs Agen AI: Kenali Perbedaannya sebelum Memilih
-
Tren Masa Depan AI Action Figure: Mainan dengan Kecerdasan Buatan
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Tecno Megabook K15S Resmi di Indonesia, Laptop Ryzen 5 dengan Baterai 70 Wh Seharga Rp8,5 Juta
-
5 Serum Vitamin C Lokal untuk Mencerahkan Kulit Kusam
-
4 Pelembap Andalan Bikin Wajah Lembap, Skin Barrier Kuat, Sekaligus Cerah
-
Mulai 40 Ribuan! 5 Night Serum Lokal Ampuh Samarkan Garis Halus dan Kerutan
-
4 Calming Gel Moisturizer Redakan Iritasi Kulit Berminyak, Cuma Rp30 Ribuan
Terkini
-
Refleksi Mariposa: Pentingnya Orang Tua Memahami Mental dan Hati Anak
-
Belajar Menjalani Hidup dengan Lebih Tenang melalui Hal-Hal yang Boleh dan Tak Boleh Kulakukan
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Review The Mongoose: Ketika Veteran Tangguh Menghadapi Fitnah dan Maut!
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah