Hikmawan Firdaus | aozora dee
Ilustrasi anak dan orang tua (Freepik.com/jcomp)
aozora dee

Jepang adalah negara yang kaya akan masakan tradisional. Jadi, bukan hal yang mengherankan jika mereka menanggapi makan siang anak SD dengan serius. Makan siang anak SD di Jepang lebih dari sekadar mengisi perut lho. Waktu makan siang dianggap sebagai bagian dari pelajaran dan pendidikan. Di waktu ini mereka belajar untuk berbagi makanan dan memperlakukan makanan dengan baik.

Urusan makan siang anak SD di Jepang diatur oleh ahli gizi sekolah dan dimasak di oleh sekelompok staf khusus. Jadi, benar-benar dilakukan dengan serius dan terencana. Nah, bagaimana makan siang anak SD di Jepang. Simak yuk penjelasan yang dilansir dari situs Savvy Tokyo berikut ini.

Siswa Melayani Siswa

Para siswa diberi tugas untuk menyajikan makanan di jam makan siang. Mereka yang kebagian tugas ini mengenakan pakaian khusus yang terdiri dari topi dapur, celemek panjang dan sarung tangan plus masker. Mereka akan membagikan makanan ke setiap siswa yang sudah membawa nampan kosong. Setelah itu, para siswa duduk di tempat duduk masing-masing. Setiap siswa membawa alat makan sendiri, tisu, gelas, sikat gigi, dan handuk kecil untuk mengelap tangan. Peralatan ini dimasukkan ke dalam tas dan digantung di ransel masing-masing.

Apa Saja Menunya?

Hidangan yang disajikan berbeda-beda setiap harinya. Namun, kebanyakan berupa nasi sup, salad, hidangan daing atau ikan. Menu makan siang mereka dilengkapi dengan susu, minuman yoghurt atau kopi susu sebagai gantinya. Nasi yang dihidangkan biasanya berupa nasi jamur atau nasi wakane. Di lain waktu, sekolah menyajikan mie dan roti yang muncul sebulan sekali. Di waktu-waktu tertentu, para siswa diberi dessert seperti jeli, puding atau potongan buah

Sejarah Kyuushoku 

Sistem makan siang anak SD di Jepang pertama kali dilakukan di kota Tsuruoka, Prefektur Tamagata sekitar tahun 1889. Saat itu, sebuah Sekolah Dasar milik seorang pendeta menyajikan onigiri, ikan bakar, dan acar untuk siswa di sekolahnya yang tidak membawa bekal makan siang. Inisiasi sang pendeta kemudian ditiru oleh sekolah-sekolah lainnya di seluruh negeri.

Kekurangan makanan selama Perang Dunia II membuat beberapa sekolah tidak mampu lagi menyediakan bekal makan siang untuk siswanya. Namun, setelah perang usai, sekolah kembali menjalankan program tersebut dan menghidangkan menu yang kaya akan gizi.

Lebih dari Sekedar Makan

Sistem makan siang di SD Jepang tidak hanya sekadar memberi anak-anak makan agar tidak kelaparan, namun program ini mengajarkan anak bagaimana cara untuk menyajikan makanan, membersihkan makanan, dan membuat pilihan makanan sehat agar kelak dewasa ia bisa mandiri. Tujuan dari pendidikan tidak langsung ini mendorong mereka untuk menghargai makanan, kebersamaan, dan etika makan.

So, dari program makan siang SD ini, kita bisa melihat bahwa ini bukan hanya sekadar agar perut kenyang, tapi juga sebagai ajang mengenal siswa dari kelas lain dan menyatukan kelas.