Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Habis Terang Terbanglah Kunang-Kunang (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Buku Habis Terang Terbanglah Kunang-Kunang karya Firda Sofiazu adalah buku yang berisi antologi cerita pendek (cerpen). Diterbitkan oleh Swarna Media pada November 2023, buku setebal 298 halaman ini memuat 33 cerita yang mengeksplorasi berbagai sisi kehidupan. Dari relasi keluarga, luka batin, hingga pencarian jati diri dengan gaya prosa yang liris.

Isi Buku

Sejak halaman awal, pembaca langsung dihadapkan pada dunia yang tidak selalu terang. Cahaya justru muncul setelah gelap datang. Bahwa harapan sering kali lahir dari ruang-ruang paling sunyi dan menyakitkan.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada detail mikroskopis yang dihadirkan penulis. Dalam salah satu cerita, pembaca diajak masuk ke sudut pandang seorang anak yang mengalami kekosongan kasih sayang.

Kalimat sederhana seperti “tidak makan 17 jam” tidak hanya menggambarkan kondisi fisik, tetapi juga memuat simbol pengabaian yang lebih dalam. Ketika sang tokoh bertanya apakah ibunya lupa atau memang tidak peduli, pembaca seolah dipaksa ikut merasakan kegelisahan yang sama.

Konflik emosional itu diperkuat dengan teknik kontras yang tajam. Di satu sisi, ada citraan hangat: seorang ibu yang menyuapi adik, tawa kecil, dan kebahagiaan sederhana di teras rumah. Namun di sisi lain, muncul tindakan agresif dari sang narator.

Menendang bola, menjatuhkan tangga, hingga hampir mencelakai adiknya. Benturan dua dunia ini menciptakan ketegangan domestik yang kuat, sekaligus memperlihatkan bagaimana rasa iri dan luka batin dapat tumbuh dalam diam.

Firda Sofiazu tampak piawai menerapkan prinsip “show, don’t tell”. Ia tidak secara gamblang menjelaskan emosi tokohnya, melainkan menyelipkannya melalui tindakan, simbol, dan metafora. Kata-kata yang digunakan sering kali ambigu misalnya istilah “tidur” yang bisa dimaknai sebagai istirahat, tetapi juga menyiratkan ketidakpedulian total.

Ambiguitas ini justru memperkaya pengalaman membaca, karena membuka ruang tafsir yang luas bagi pembaca.

Selain tema keluarga, buku ini juga mengangkat isu yang lebih luas, seperti posisi perempuan dan makna kepemimpinan. Dalam salah satu refleksinya, penulis menegaskan bahwa perempuan tidak harus menjadi sosok yang serba ahli, melainkan cukup menjalankan perannya dengan kesadaran dan naluri.

Di sisi lain, gagasan tentang pemimpin juga dibongkar dari perspektif yang tidak biasa: bahwa siapa pun yang mampu mengendalikan akal dan nafsunya adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, nilai seseorang tidak ditentukan oleh gender atau label sosial, melainkan oleh proses pertumbuhan internalnya.

Kelebihan dan Kekurangan

Gaya bahasa dalam buku ini cenderung kontemplatif dan filosofis. Setiap kalimat terasa dipilih dengan hati-hati, seolah menyembunyikan rasa sakit di balik kesederhanaan diksi.

Nuansa gelap yang dominan bukanlah tanpa tujuan, melainkan menjadi medium untuk menyoroti realitas yang sering diabaikan. Firda tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak pembaca untuk merenung dan memahami bahwa luka adalah bagian dari proses menjadi manusia.

Sebagai kumpulan cerpen, keberagaman tema dalam buku ini menjadi nilai tambah tersendiri. Pembaca tidak akan merasa monoton karena setiap cerita menghadirkan perspektif baru. Meski demikian, benang merahnya tetap terasa: tentang manusia yang berusaha bertumbuh, tentang harapan yang tetap menyala meski dalam bentuk kecil seperti kunang-kunang di malam hari.

Buku ini mengingatkan bahwa tidak ada yang benar-benar kebal terhadap luka, tetapi setiap orang memiliki kemampuan untuk bertumbuh. Dan seperti cahaya kecil di kegelapan, harapan selalu menemukan jalannya meski hanya setipis kilau kunang-kunang.

Identitas Buku

  • Judul: Habis Terang Terbanglah Kunang-Kunang
  • Penulis: Firda Sofiazu
  • Penerbit: Swarna Media
  • Tahun Terbit: November 2023
  • ISBN: 978-623-98888-3-1
  • Tebal: 298 halaman
  • Kategori: Antalogi Cerita