KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga seringkali terjadi sebagai upaya seseorang dalam mempertahankan kekuasaan di dalam rumah tangganya. KDRT bukan hanya kekerasan fisik melainkan juga bisa berupa kekerasan seksual, emosional, psikologis atau tindakan lain yang dapat memengaruhi mental korban.
Perilaku KDRT tidak hanya bisa terjadi pada perempuan, namun juga bisa terjadi pada laki-laki, anak-anak bahkan orang tua. Sayangnya, korban KDRT seringkali tidak bisa keluar dari lingkaran pelaku kekerasan.
Berikut 3 fase yang terjadi dalam KDRT hingga membuat korbannya sulit keluar dari lingkaran kekerasan dalam rumah tangga!
1. Fase ketegangan
Pada fase ketegangan, mulai menumpuk banyak permasalahan yang dapat membuat pelaku kekerasan merasa stres dan frustasi. Fase ini akan berlanjut pada hilangnya pengendalian diri serta emosi pelaku.
Pada fase tersebut, biasanya korban KDRT akan mencoba untuk meredam ketegangan yang terjadi. Korban juga akan merasakan cemas yang berlebih karena takut membuat pasangannya menjadi marah.
2. Fase kekerasan
Demi melepaskan ketegangan yang terjadi, pelaku KDRT akan mulai menghilangkan kendali diri mereka dengan meluapkan segala amarah seperti membanting barang-barang, mengancam akan menyakiti, hingga melakukan kekerasan mental bahkan fisik kepada korbannya.
Pelaku kekerasan akan mengalihkan kesalahan yang diperbuatnya dengan menyalahkan korbannya karena telah menyulut emosinya hingga membuatnya merasa sangat marah.
3. Fase penyelesaian atau bulan madu
Setelah insiden kekerasan tersebut, pelaku akan mulai memperbaiki keadaan agar korban merasa tidak tersakiti oleh perilakunya. Dia akan menawarkan hadiah, bersikap sangat baik, dan selalu penuh kasih sayang serta perhatian.
Fase yang terjadi tersebut serupa fase awal sebuah hubungan di mana terdapat perasaan yang meluap-luap di dalamnya. Sehingga, korban KDRT pun kembali memiliki perasaan cinta yang positif kepada pelakuk kekerasan, seolah-olah semuanya kembali normal.
Fase ketiga tersebut adalah fase yang membuat korban KDRT terjebak dalam lingkaran yang sama secara terus-menerus tanpa bisa keluar darinya. Karena, setelah fase ketiga usai, maka akan mulai muncul alasan-alasan yang dibuat oleh pelaku KDRT tentang mengapa ia sampai bertindak terlalu jauh yang akhirnya juga akan diterima oleh korban.
Baca Juga
-
5 Rekomendasi Kafe Dekat ISI Jogja, Harga Terjangkau Nyaman Buat Nongkrong!
-
5 Rekomendasi Tempat Camping di Purwokerto, Viewnya Memesona!
-
5 Rekomendasi Wisata Keluarga di Klaten, Seru dan Menyenangkan!
-
4 Kafe di Temanggung dengan View Gunung Sumbing dan Sindoro
-
5 Kafe di Boyolali dengan View Gunung Merapi yang Memesona, Auto Bikin Betah
Artikel Terkait
-
Perceraian Mengorbankan Anak, 4 Hal yang Sering Dirasakan Anak Broken Home
-
Rico Ceper Tanggapi Tragedi Kanjuruhan: Sepak Bola Itu Hiburan, Bukan Kuburan!
-
Polisi Beri Kesempatan Pada Baim dan Paula Untuk Minta Maaf, Ini Alasanya
-
Dulu Tampil Apa Adanya, Kini Gaya Hidup Rizky Billar Disorot, Ternyata Ingin Sepert Raffi Ahmad
-
Psikolog Soroti Latar Belakang Keluarga Rizky Billar : Biasanya Memiliki Pengalaman Atau Menjadi Korban
Lifestyle
-
Bukan Ponsel Murahan, Ini 7 HP Rp 2 Jutaan Paling Worth It di 2026
-
Antrean Panjang di Sanur dan Sepiring Cerita dari Warung Mak Beng
-
Cool dan Comfy! 5 ide Styling Hoodie ala S.Coups SEVENTEEN
-
Tecno Camon 50 Lolos Sertifikasi, Diprediksi Rilis di Indonesia Awal 2026
-
4 Pelembab Gel Panthenol Rp50 Ribuan, Perbaiki Skin Barrier Kulit Berminyak
Terkini
-
Live-Action Solo Leveling Dikabarkan Hanya 7 Episode, Syuting April 2026
-
Demon Slayer Infinity Castle Akhiri Trilogi di 2029, Film Kedua Tayang 2027
-
CERPEN: Di Kala Terompet Tahun Baru Berkumandang
-
Bocoran Harga Poco M8 dan M8 Pro Terungkap, Spesifikasinya Menggiurkan
-
Review Film Lilim: Teror Sunyi tentang Dosa, Trauma, dan Iman yang Retak