Bimo Aria Fundrika | Eka Saputra
Ilustrasi pasar malam. (Pexels/Chait Goli)
Eka Saputra

Suasana pasar malam selalu punya tempat sendiri dalam ingatan banyak orang. Lampu warna-warni, musik dangdut yang terdengar dari kejauhan, wangi sate dan jagung bakar, hingga suara anak-anak tertawa sambil memegang balon. Aku tidak pernah bosan berkunjung ke sana.

Tapi malam itu adalah malam yang berbeda. Bukan karena ada wahana baru, bukan karena aku membeli sesuatu yang mahal, tapi karena kejadian kecil yang tidak pernah kuduga bisa mengubah caraku memandang dunia.

Hari itu aku datang ke pasar malam bersama dua orang temanku. Awalnya untuk sekadar jalan, makan jajanan, dan melepas penat setelah seminggu kuliah dan mengerjakan tugas-tugas yang seolah tidak berakhir. Kami datang sekitar jam delapan malam. Ramai sekali. Anak-anak berlarian sambil memegang lampu LED berbentuk pedang, para ibu menawar pakaian, bapak-bapak mengantre bakso bakar, dan remaja sibuk berburu foto untuk Instagram.

Kami berjalan memutari lapangan yang berubah menjadi pasar malam itu. Di sisi kiri ada wahana komidi putar, di tengah ada lapak baju, di samping kanan ada stand makanan yang berderet panjang.

Suasana benar-benar riuh, tapi hangat. Aku membeli minuman boba murahan, temanku membeli tempura, dan satu lagi beli es krim. Kami tertawa dan bercerita, mengeluhkan tugas dan dosen killer yang baru saja memberi banyak pekerjaan dadakan.

Sampai akhirnya kami berjalan melewati sisi paling pinggir pasar malam bagian yang sudah mulai sepi, jauh dari lampu terang dan musik keras. Di situlah aku melihat sesuatu yang membuat langkahku melambat.

Seorang kakek duduk di bangku kecil, di samping gerobak sederhana yang berisi kacang rebus. Gerobaknya hanya diterangi satu lampu neon kecil yang redup. Kotak kayu di atasnya berisi kacang-kacang yang masih mengepul hangat. Tapi yang paling menarik perhatianku bukan kacangnya melainkan kakek itu sendiri.

Kakek itu memakai kaus lusuh, jaket tipis, dan topi tua. Tangan kirinya memegang plastik bening kecil, tangan kanannya mengelap keringat.

Tidak ada suara sorakan di sekelilingnya. Tidak ada antrean pembeli. Bahkan tidak ada orang yang melirik ke arahnya. Semua calon pembeli sibuk mengejar makanan yang lebih modern dan “instagramable”. Sementara dagangan kakek itu seperti terpinggirkan oleh zaman.

Aku berdiri sebentar, memperhatikan. Temanku yang pertama bertanya, “Ngapain berhenti?” Aku menunjuk ke gerobak kacang. Temanku melihat sekilas lalu mengangkat bahu. “Oh, itu. Yuk lanjut, masih banyak stand di sana.”

Tapi entah kenapa, kakiku tidak ingin melanjutkan langkah. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku menatap kakek itu, mencoba membaca ekspresi wajahnya. Ia terlihat lelah, tapi tetap tersenyum setiap ada orang lewat meski tidak ada yang berhenti.

Aku mendekat perlahan. Dua temanku hanya mengikutiku dengan bingung. Saat aku berada di depan gerobak, kakek itu langsung tersenyum.

“Mau kacang, Nak?” suaranya pelan, tapi jelas.

Aku mengangguk. “Berapa, Kek?”

“Sepuluh ribu satu plastik,” jawabnya sambil mengangkat plastik berisi kacang hangat. Tangannya gemetar sedikit karena usia.

Aku tidak ragu. “Saya beli tiga ya, Kek.”

Kakek itu tampak sangat senang. “Tiga? Ya, ya, bisa, bisa… tunggu sebentar.” Tangannya cepat bekerja meski tubuhnya sudah lanjut usia.

Temanku yang tadi ingin lanjut hanya bisa terdiam, lalu ikut mendekat. Setelah bungkus pertama selesai, temanku ikut berkata, “Saya satu, Kek.”

Kakek itu menatap kami dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, meski ia mencoba menyembunyikannya dengan senyum. Wajahnya berubah cerah, seperti ada beban yang perlahan lepas dari pundaknya.

Setelah selesai membungkus semua pesanan, aku menyerahkan uang tanpa menawar. “Ini, Kek.”

Kakek menerima uang itu dengan dua tangan. “Terima kasih ya, Nak. Alhamdulillah… terima kasih. Dari tadi belum ada yang beli.”

Kalimat itu menghantamku lebih kuat dari suara musik dangdut yang tadi kudengar di tengah pasar malam. Dari tadi belum ada yang beli. Di tengah keramaian, di tengah ratusan orang, ada seseorang yang duduk sendirian menunggu rezeki dari dagangan paling sederhana.

Saat kami hendak pergi, kakek itu berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri, “Sisa satu plastik lagi, habis dagang malam ini…”

Aku berhenti. “Kek, sekalian yang terakhir itu saya beli juga ya.”

Kakek itu memandangku sejenak, lalu tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. “Makasih banyak, Nak. Semoga sehat selalu.”

Aku mengangguk. Dadaku terasa hangat, entah karena kacang rebusnya, atau karena sesuatu yang lain.

Sepanjang perjalanan pulang, aku memikirkan kakek itu. Bagaimana beliau duduk menunggu, mungkin sejak sore, mungkin dengan berharap akan ada yang membeli. Di pasar malam yang penuh makanan modern, dagangan paling sederhana justru paling terabaikan.

Hari itu aku belajar bahwa tidak semua orang butuh bantuan besar. Kadang mereka hanya butuh satu pembeli pertama, satu senyuman, satu perhatian kecil, atau satu plastik kacang rebus yang dibeli tanpa menawar.

Sejak kejadian itu, setiap kali aku melihat pedagang kecil, aku teringat wajah kakek itu. Kejadian kecil di pasar malam itu mengubah caraku memandang nilai sebuah tindakan.

Aku tidak lagi meremehkan hal kecil, karena terkadang hal kecil-lah yang membuat seseorang bisa pulang dengan hati lebih ringan.

Dan mungkin itulah yang disebut hal kecil yang mengubah segalanya.

Bukan karena aku membeli banyak, bukan karena aku memiliki uang banyak, tapi karena aku belajar bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang hanya berupa keputusan sederhana untuk berhenti berjalan dan mengulurkan tangan.

Sejak malam itu, kacang rebus bukan lagi sekadar camilan bagiku. Ia adalah pengingat bahwa dunia tidak kekurangan orang baik yang kurang hanyalah orang yang berani melakukan kebaikan kecil, meski tanpa alasan, tanpa pamer, tanpa pamrih.