Sore di bulan Ramadan selalu punya cerita sendiri di desaku. Langit perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, angin berembus pelan membawa aroma tanah dan asap dapur dari rumah-rumah warga. Di waktu seperti itulah, jalan utama desa yang biasanya lengang mendadak lebih hidup. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu menenteng kantong belanja, dan para bapak berdiri santai di tepi jalan. Semua seperti memiliki tujuan yang sama, yaitu menunggu waktu berbuka.
Di antara deretan pedagang musiman, ada satu yang paling aku tunggu kehadirannya setiap Ramadan, yaitu penjual tahu krispi. Namanya Pak Rasyid. Ia bukan warga asli desa kami, tetapi setiap tahun saat Ramadan tiba, ia selalu datang dengan gerobak sederhana berwarna biru yang catnya mulai mengelupas. Di sisi gerobaknya tertulis dengan cat putih: “Tahu Crispy Gurih dan Renyah.”
Sejak kecil, aku hafal betul bunyi khas gerobaknya. Roda besinya sedikit berdecit ketika didorong melewati jalan berbatu. Namun, yang paling menggoda adalah suara minyak panas ketika tahu-tahu kecil itu dicelupkan ke dalam wajan besar. “Cessss…” suara itu seperti isyarat bahwa waktu berbuka sudah semakin dekat.
Aku biasanya keluar rumah sekitar pukul lima sore. Ibu akan memberiku uang secukupnya. “Beli tahu krispi, jangan lupa juga kolak kalau ada,” katanya sambil tersenyum. Aku berjalan cepat menuju perempatan desa, tempat Pak Rasyid biasa mangkal.
Antrean di depan gerobaknya hampir tak pernah sepi. Anak-anak seusia denganku berdiri sambil menelan ludah, mencium aroma gurih yang menguar dari wajan. Tahu yang dipotong kotak kecil itu dibalur tepung berbumbu, lalu digoreng hingga berwarna keemasan. Setelah diangkat, Pak Rasyid menaburkan bubuk cabai atau keju sesuai permintaan pembeli.
“Pedas sedikit ya, Pak!” seruku suatu sore.
Pak Rasyid tersenyum sambil mengangguk. “Siap, Nak. Tapi jangan terlalu pedas, nanti puasanya batal karena kepedasan,” candanya.
Kami semua tertawa. Candaan kecil itu terasa hangat, sehangat sore Ramadan yang perlahan meredup.
Tahu krispi dari Pak Rasyid bukan sekadar makanan. Ada rasa kebersamaan di dalamnya. Sambil menunggu pesanan, kami sering berbincang tentang sekolah, tentang siapa yang puasanya masih bolong, atau tentang rencana salat tarawih nanti malam. Bahkan bapak-bapak pun kadang ikut bergabung, berdiskusi ringan tentang harga sembako atau kabar sawah.
Suatu sore, hujan turun tiba-tiba. Langit yang tadinya cerah berubah kelabu. Banyak pedagang memilih berkemas lebih awal karena takut dagangan mereka kehujanan. Aku berlari kecil menuju perempatan, khawatir Pak Rasyid tidak berjualan hari itu. Namun, dari kejauhan, kulihat gerobak biru itu tetap berdiri, dilindungi terpal sederhana.
“Pak, masih jualan?” tanyaku sambil terengah-engah.
Pak Rasyid tersenyum. “Ramadan cuma sebulan, Nak. Sayang kalau dilewatkan.”
Jawabannya sederhana, tetapi entah kenapa terasa dalam. Ia tetap berjualan meski hujan, mungkin karena Ramadan adalah kesempatan, bukan hanya untuk mencari rezeki, melainkan juga berbagi kebahagiaan.
Aku membeli dua bungkus hari itu—satu untukku dan satu lagi untuk orang tuaku. Sesampainya di rumah, ibu menyambutku dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutku yang basah. Bapak sudah duduk di ruang tengah, menunggu azan magrib.
Kami berbuka dengan sederhana. Segelas air putih, kurma, kolak, dan tentu saja tahu krispi dari Pak Rasyid. Saat menggigitnya, bunyi renyahnya terdengar jelas. Gurihnya pas, pedasnya ringan, membuat kami tersenyum tanpa sadar.
“Enak ya, Bu,” kata bapak.
Ibu mengangguk. “Iya, setiap Ramadan rasanya selalu beda.”
Aku tahu maksud ibu. Yang membuatnya terasa berbeda bukan hanya rasanya, melainkan juga suasananya. Kami duduk bersama, berbincang ringan, tanpa terburu-buru. Tidak ada televisi yang menyala keras, tidak ada ponsel yang sibuk. Hanya kami dan momen sederhana yang terasa begitu utuh.
Beberapa tahun berlalu. Aku mulai jarang di desa karena harus merantau untuk sekolah. Ramadan pertama di kota terasa berbeda. Tak ada suara roda gerobak berdecit, tak ada candaan Pak Rasyid, tak ada jalan desa yang ramai oleh pemburu takjil. Tahu krispi memang bisa kutemukan di mana saja, bahkan lebih modern dan beragam rasa. Namun, rasanya tak pernah sama.
Suatu kali, saat pulang kampung menjelang Ramadan, aku sengaja berjalan ke perempatan desa. Aku berharap masih melihat gerobak biru itu. Dan benar saja, di sana ia berdiri, meski kini catnya semakin pudar. Pak Rasyid tampak sedikit lebih tua, rambutnya mulai memutih. Namun, senyumnya tetap sama.
“Sudah besar sekarang,” katanya ketika melihatku.
Aku tersenyum. “Tapi tetap cari tahu krispi, Pak.”
Ia tertawa kecil, lalu kembali menggoreng tahu seperti dulu. Suara minyak panas itu kembali terdengar, menghidupkan kenangan yang sempat terasa jauh.
Sore itu aku sadar, Ramadan bukan hanya tentang ritual tahunan. Ramadan adalah tentang potongan-potongan kecil kebahagiaan yang melekat pada hal-hal sederhana. Tentang penjual tahu krispi di desa, tentang hujan yang turun menjelang berbuka, tentang meja makan yang tidak pernah mewah tetapi selalu penuh rasa syukur.
Dan setiap kali aku menggigit tahu krispi yang renyah itu, aku tahu aku sedang menggigit sepotong kenangan yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Pernikahan El Rumi Diprediksi Megah, Al Ghazali Bocorkan Jumlah Undangan
-
Waspadalah! Niat Cari THR Digital Malah Bisa Jadi Pintu Jebakan Phising
-
Simak! Inilah 5 HP Xiaomi Terbaik 2026 dengan Spek Dewa dan Harga Merakyat
-
Blacklist hingga Denda! Purbaya Tegaskan Sanksi Bagi Penerima LPDP yang Hina Negara
-
Gen Z dan Tradisi Ramadan yang Mulai Bergeser: Nilai Lama vs Gaya Baru