M. Reza Sulaiman | Eka Saputra
Foto Patung Bulan Sabit Di Alun - Alun Yordania (Wikimedia Commons/Mona Maher)
Eka Saputra

Ramadan selalu mempunyai caranya sendiri untuk mengajarkan sesuatu yang tidak pernah kita pelajari di bangku sekolah. Tahun ini, pelajaran itu datang dengan sederhana: bangun sahur lebih awal dan berbuka puasa secukupnya.

Aku bukan tipe orang yang mudah bangun pagi. Bahkan pada hari biasa, alarm sering kali kalah oleh rasa kantuk. Namun, entah mengapa, sejak malam pertama Ramadan, aku memasang niat untuk bangun lebih awal daripada biasanya. Bukan hanya agar sempat makan sahur, melainkan agar mempunyai waktu lebih untuk diam, menata hati, dan berbicara dengan Tuhan sebelum hari benar-benar dimulai.

Pukul tiga dini hari, alarm berbunyi pelan. Di luar, suasana masih gelap dan sunyi. Tidak ada suara kendaraan, hanya sesekali terdengar angin menyentuh daun jendela. Aku bangun dengan langkah pelan agar tidak membangunkan adikku. Udara terasa lebih dingin daripada biasanya.

Di dapur, Ibu sudah terjaga. Lampu kecil menyala temaram, menerangi meja makan yang masih kosong.

"Bangun lebih awal?" tanya Ibu sambil tersenyum.

"Iya, Bu. Mau bantu," jawabku sambil mengambil piring dari rak.

Ibu memasak menu sederhana saja: nasi hangat, telur dadar, tumis kangkung, dan sambal terasi. Tidak ada lauk mewah, tidak ada minuman manis berwarna-warni. Namun, justru di situlah letak kehangatannya. Kami memasak sambil berbincang pelan agar tidak membangunkan Ayah dan adik.

Sebelum membangunkan mereka, aku menyempatkan diri duduk sebentar di ruang tamu. Mushaf Al-Qur'an tergeletak di atas meja kecil. Aku membacanya beberapa ayat. Entah kenapa, suasana sahur yang lebih awal membuat hatiku terasa lebih tenang. Tidak tergesa-gesa. Tidak terburu waktu.

Ketika Ayah dan adik bangun, kami makan bersama. Tidak banyak bicara, tetapi terasa penuh makna. Ayah bercerita bahwa bangun sahur lebih awal membuat rezeki terasa lebih lapang. "Karena kita tidak hanya memberi makan tubuh, tetapi juga hati," katanya.

Hari-hari berikutnya, kebiasaan itu terus kami lakukan. Bangun lebih awal membuat kami mempunyai waktu untuk berbagi cerita kecil, bercanda ringan, dan berdoa lebih lama. Aku mulai menyadari bahwa selama ini sahur sering terasa terburu-buru, seakan hanya formalitas sebelum kembali tidur. Padahal, di dalamnya ada momen kebersamaan yang jarang kami dapatkan pada hari biasa.

Puasa berjalan seperti biasa. Siang hari terasa panjang, terutama ketika matahari bersinar terik. Di luar rumah, pedagang takjil mulai berjejer menjelang sore. Aneka gorengan, es buah, kolak, dan kue manis tersusun rapi di atas meja-meja panjang.

Godaan terbesar justru datang saat melihat semuanya. Perut terasa semakin berbunyi. Pikiran mulai membayangkan ingin membeli ini dan itu. Tahun-tahun sebelumnya, aku sering kalap. Meja makan penuh dengan berbagai hidangan, tetapi tidak semuanya habis. Banyak yang tersisa dan akhirnya terbuang.

Namun, Ramadan kali ini berbeda. Ayah mengusulkan sesuatu.

"Kita coba berbuka secukupnya saja. Jangan berlebihan," katanya suatu sore.

"Takut kurang, Yah," celetuk adikku polos.

Ayah tersenyum. "Justru sering kali yang membuat kita merasa kurang adalah keinginan, bukan kebutuhan."

Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalaku.

Sore itu, kami hanya membeli beberapa potong gorengan dan segelas kolak untuk berbagi. Di rumah, Ibu menyiapkan air putih dan kurma. Meja makan terlihat lebih sederhana daripada biasanya. Tidak penuh, tidak ramai.

Saat azan magrib berkumandang, kami membaca doa bersama. Tegukan pertama air putih terasa begitu menyegarkan. Kurma yang manis seolah-olah mengalirkan energi baru ke seluruh tubuh. Aku menyadari sesuatu: berbuka tidak harus mewah untuk terasa nikmat.

Malam itu, tidak ada makanan yang tersisa. Semuanya habis sesuai porsi. Tidak ada yang terbuang.

Hari demi hari berlalu. Kebiasaan sahur lebih awal dan berbuka secukupnya mulai terasa ringan. Aku tidak lagi tergoda membeli terlalu banyak makanan. Aku belajar membedakan antara lapar yang nyata dan sekadar nafsu sesaat.

Suatu sore, ketika aku membantu Ibu menyiapkan makanan berbuka, listrik tiba-tiba padam. Dapur menjadi gelap. Hanya cahaya jingga dari jendela yang menerangi ruangan.

"Tidak apa-apa, kita buka dengan yang ada saja," kata Ibu tenang.

Kami duduk di ruang tamu dengan cahaya seadanya. Tidak ada kipas angin, tidak ada televisi, tidak ada lampu terang. Hanya suara azan dari masjid yang menggema di kejauhan. Anehnya, suasana itu terasa sangat khusyuk. Tidak ada distraksi. Tidak ada kesibukan lain. Hanya kami dan doa.

Setelah makan secukupnya, kami berbincang ringan tentang rencana setelah Ramadan. Ayah berkata bahwa kebiasaan ini sebaiknya tidak berhenti pada bulan puasa saja. "Kesederhanaan itu bukan hanya latihan sebulan," ujarnya.

Aku mengangguk pelan. Dalam hati, aku tahu Ramadan kali ini berbeda. Bukan karena hidangannya, bukan karena pakaian barunya, melainkan karena perubahan kecil yang terasa nyata.

Bangun sahur lebih awal memberiku waktu untuk merenung. Berbuka secukupnya mengajarkanku untuk bersyukur. Dua hal sederhana, tetapi dampaknya begitu dalam.

Menjelang akhir Ramadan, aku duduk sendiri di teras rumah setelah berbuka. Langit senja perlahan memudar. Angin sore berembus pelan. Aku memikirkan kembali hari-hari yang sudah berlalu. Ternyata kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia tersembunyi dalam hal-hal kecil: bangun lebih awal saat orang lain masih terlelap, makan secukupnya saat godaan melimpah, dan berbagi cerita sederhana di meja makan.

Aku tersenyum sendiri. Ramadan tahun ini tidak penuh dengan kemewahan, melainkan penuh dengan kesadaran. Kesadaran bahwa waktu sahur bukan sekadar waktu makan. Kesadaran bahwa berbuka bukan ajang balas dendam pada rasa lapar. Dan kesadaran bahwa hidup akan terasa lebih ringan ketika kita tidak berlebihan.

Malam itu, sebelum tidur, aku memasang alarm lagi untuk pukul tiga dini hari. Bukan lagi karena terpaksa, melainkan karena ingin. Ingin merasakan kembali sunyi yang menenangkan. Ingin kembali duduk di meja makan dengan hati yang lebih siap.

Ramadan mungkin hanya datang setahun sekali. Namun, pelajarannya bisa tinggal lebih lama jika kita mau menjaganya. Dari sepotong kisah sederhana tentang sahur lebih awal dan berbuka secukupnya, aku belajar satu hal penting: yang membuat hidup terasa cukup bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa mampu kita mensyukurinya.