Hayuning Ratri Hapsari | Nugraha Nugraha
Huawei Band 11 Pro (Huawei)
Nugraha Nugraha

Huawei kembali meramaikan pasar wearable Indonesia lewat kehadiran Huawei Band 11. Seperti generasi sebelumnya, lini “Band” selalu diposisikan sebagai perangkat ringkas dengan harga terjangkau. Namun kali ini terasa ada yang berbeda.

Huawei tidak sekadar menyegarkan desain, tetapi benar-benar mendorong pengalaman pengguna agar semakin mendekati smartwatch, baik dari sisi tampilan, fitur, maupun antarmuka.

Dengan harga mulai dari Rp519.000, Huawei Band 11 mencoba menjawab kebutuhan pengguna yang ingin fitur kesehatan lengkap dan tampilan modern tanpa harus membeli smartwatch jutaan rupiah. Lalu, apakah peningkatannya cukup signifikan?

Secara bentuk, Huawei Band 11 masih mempertahankan identitas smartband dengan bodi persegi panjang dan sudut membulat. Tombol fisik di sisi kanan tetap dipertahankan sebagai ciri khas navigasi cepat ala Huawei. Namun ketika dibandingkan generasi sebelumnya, dimensinya kini sedikit berubah. Bodinya memang sedikit lebih pendek, tetapi lebih lebar. Perubahan ini berdampak besar pada tampilan layar.

Layarnya kini membentang 1,62 inci, lebih besar dari generasi sebelumnya yang hanya 1,47 inci. Bezelnya juga dibuat jauh lebih tipis, membuat rasio layar ke bodi terasa lebih maksimal. Panel yang digunakan sudah AMOLED dengan resolusi 482 x 286 piksel dan kerapatan 347 ppi. Tingkat kecerahannya bahkan bisa mencapai 1.500 nits, sehingga tetap nyaman digunakan di luar ruangan.

Karena sudah AMOLED, fitur Always On Display pun tersedia. Ini membuat tampilannya semakin terasa seperti smartwatch. Informasi waktu dan notifikasi bisa tetap terlihat tanpa perlu mengangkat tangan atau mengetuk layar.

Materialnya tersedia dalam dua opsi, aluminium alloy dan plastik. Strap bawaan menggunakan fluoroelastomer yang terasa lentur dan nyaman dipakai dalam waktu lama. Bobotnya ringan, sekitar 29–30 gram dengan strap, sehingga hampir tidak terasa saat digunakan untuk aktivitas harian maupun tidur.

Salah satu perubahan paling mencolok ada pada sistem UI. Huawei menyematkan HarmonyOS 6.0 yang membuat animasi dan transisi terasa lebih halus. Tata letak informasi kini lebih padat dan informatif, menyerupai smartwatch Huawei dengan tampilan widget yang rapi.

Dalam satu halaman, data kesehatan dapat ditampilkan lebih lengkap. Navigasi swipe terasa responsif, dan pengalaman keseluruhan terasa lebih premium dibandingkan smartband pada umumnya. Untuk pairing, pengguna cukup menggunakan aplikasi Huawei Health, yang kompatibel dengan Android maupun iOS.

Penggunaan sehari-hari terasa nyaman berkat layarnya yang lega namun tetap dalam bodi ringkas. Meski begitu, bagi pengguna dengan pergelangan tangan besar, tampilannya mungkin masih terlihat kecil. Namun untuk ukuran tangan sedang hingga kecil, proporsinya terasa pas.

Huawei Band 11 membawa fitur kesehatan yang tergolong lengkap di kelasnya. Pemantauan detak jantung 24 jam, SpO2, analisis aritmia berbasis pulse wave, hingga pelacakan siklus menstruasi tersedia di sini. Fitur pulse wave aritmia analysis bahkan dapat membantu mendeteksi indikasi ritme jantung tidak normal, meski tentu saja tetap perlu konfirmasi medis lebih lanjut.

Yang menarik adalah Emotional Wellbeing 2.0. Fitur ini memanfaatkan HRV atau heart rate variability untuk membaca kondisi emosional pengguna. Jika data sudah cukup, sistem akan menampilkan ilustrasi hewan yang mencerminkan suasana hati. Kini ada hingga 12 kategori emosi yang bisa terdeteksi, jauh lebih variatif dibanding generasi sebelumnya.

Fitur pelacakan tidur juga cukup detail. Tidak hanya mencatat durasi, tetapi juga memberikan skor kualitas tidur berdasarkan pola HRV dan pernapasan. Bahkan tersedia fitur sleep breathing awareness untuk mendeteksi potensi gangguan pernapasan saat tidur. Dengan layar yang lebih besar, grafik kualitas tidur bisa langsung dilihat dengan jelas dari perangkat.

Huawei mengklaim tersedia sekitar 100 mode olahraga. Untuk aktivitas seperti jalan kaki atau lari, pengguna dapat memantau detak jantung, jarak, pace, hingga kalori secara real-time. Memang, versi standar belum dilengkapi built-in GPS, sehingga pelacakan rute membutuhkan bantuan smartphone.

Namun untuk aktivitas air, Huawei Band 11 tampil cukup meyakinkan. Dengan sertifikasi 5 ATM, perangkat ini aman digunakan berenang. Deteksi gaya renang seperti bebas, dada, punggung, hingga kupu-kupu dapat terbaca dengan baik. Statistik seperti jumlah stroke dan kalori juga tercatat akurat, sesuatu yang jarang konsisten di perangkat sekelasnya.

Huawei menyematkan baterai 300 mAh dengan klaim daya tahan hingga 14 hari. Dalam penggunaan realistis dengan Always On Display aktif, konsumsi baterai sekitar 12–14% per hari, sehingga bertahan sekitar satu minggu. Jika AOD dimatikan, daya tahannya bisa mendekati 11–12 hari.

Pengisian daya dari kosong hingga penuh memerlukan waktu sekitar satu jam. Untuk kelas smartband, ini sudah tergolong efisien.

Selain versi standar, Huawei juga menghadirkan Huawei Band 11 Pro. Varian ini menawarkan layar dengan tingkat kecerahan lebih tinggi hingga 2.000 nits serta built-in GPS. Dengan GPS internal, pengguna bisa melacak rute olahraga tanpa perlu membawa smartphone, menjadikannya opsi lebih lengkap bagi pelari atau pesepeda serius.

Huawei Band 11 berhasil menghadirkan pengalaman yang berada di antara smartband dan smartwatch. Desainnya tetap ringkas dan ringan, tetapi layar lebih besar dan UI yang semakin modern membuatnya terasa lebih premium. Fitur kesehatan dan olahraga yang lengkap menjadi nilai jual utama, ditambah daya tahan baterai yang solid.

Dengan harga di kisaran Rp500 ribuan, perangkat ini cocok bagi pengguna yang ingin wearable multifungsi dengan tampilan menarik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Jika kebutuhan GPS mandiri bukan prioritas, versi standar sudah lebih dari cukup. Namun bagi yang ingin fitur lebih lengkap, varian Pro bisa menjadi opsi menarik.