M. Reza Sulaiman | Muhammad Akmal Fadhlu Rohman
Ilustrasi menunda-nunda waktu. (Pexels/AndreaPiacquadio)
Muhammad Akmal Fadhlu Rohman

“Nanti deh. ”   

Kalimat sederhana ini mungkin sangat dikenal oleh banyak orang. Nanti akan berolahraga. Nanti akan mempelajari sesuatu yang baru. Nanti akan merapikan ruangan. Nanti akan membalas pesan penting. Nanti akan memperbaiki kebiasaan negatif. Tanpa kita sadari, ucapan “nanti” sering menjadi wadah untuk menampung banyak rencana yang sebenarnya ingin kita realisasikan. 

Dalam pandangan pertama, tindakan menunda tampak sepele. Hampir semua orang pasti pernah melakukannya. Namun, jika kebiasaan ini berlangsung terlalu lama, kata “nanti” dapat bertransformasi menjadi sebuah jebakan yang perlahan-lahan menghalangi kemajuan diri kita. 

Masalah utamanya, “nanti” kerap memberikan ilusi bahwa kita masih memiliki niat untuk melakukan sesuatu. Kita merasa nyaman dengan pemikiran bahwa hal tersebut belum dibatalkan, hanya ditunda. Nyatanya, dalam banyak situasi, apa yang terus-menerus ditunda bisa jadi tidak akan pernah dilakukan sama sekali. 

Fenomena ini terjadi karena otak manusia cenderung memilih kenyamanan saat ini daripada yang akan datang. Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai present bias, yaitu kecenderungan untuk lebih mengedepankan kepuasan instan ketimbang hasil yang baru bisa dirasakan di masa depan. 

Sebuah contoh sederhana bisa diambil. Ketika harus memilih antara berolahraga atau bersantai sambil menggunakan ponsel, otak biasanya akan lebih menyukai hal yang memberikan kenyamanan saat ini. Akibatnya, aktivitas yang sebenarnya penting terus dipindahkan ke waktu yang belum pasti. 

Jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memberikan dampak lebih besar daripada yang kita bayangkan. Bukan hanya tugas yang tertunda, melainkan juga peluang, kemajuan pribadi, bahkan rasa percaya diri. Semakin sering seseorang menunda, semakin besar kemungkinan ia merasakan kekurangan serta frustrasi terhadap diri sendiri. 

Yang lebih meresahkan, kebiasaan menunda seringkali terjadi pada hal-hal kecil. Karena terlihat tidak signifikan, kita merasa tidak ada masalah bila menundanya. Padahal, perubahan signifikan justru berasal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. 

Berita baiknya, kebiasaan ini bisa diubah. Salah satu metode paling ampuh adalah dengan tidak menunggu waktu yang tampak “sempurna”. Sebab, waktu yang benar-benar ideal jarang sekali muncul. 

Mulailah dengan langkah yang sangat kecil. Jika ingin membaca buku, mulailah dengan satu halaman. Jika ingin berolahraga, cukup lima menit. Jika ingin merapikan ruangan, fokuslah pada satu sudut terlebih dahulu. Tindakan kecil jauh lebih efektif dibanding rencana besar yang terus tertunda. 

Selain itu, biasakan untuk menggantikan kata “nanti” dengan waktu yang lebih konkret. Misalnya, alih-alih mengatakan “nanti belajar”, katakanlah “pukul 8 malam saya akan belajar selama 20 menit”. Semakin jelas target waktu yang ditetapkan, semakin besar kemungkinan untuk mengambil tindakan tersebut. 

Pada akhirnya, banyak perubahan dalam hidup tidak terjadi karena keputusan besar yang luar biasa, melainkan karena langkah-langkah kecil yang kita ambil hari ini. 

Jadi, jika ada sesuatu yang sudah lama ingin kamu lakukan, mungkin inilah saatnya. Karena terlalu banyak mengucapkan “nanti” bisa membuat kita kehilangan waktu dengan cara yang tidak kita sadari.

Baca Juga