“Nanti deh. ”
Kalimat sederhana ini mungkin sangat dikenal oleh banyak orang. Nanti akan berolahraga. Nanti akan mempelajari sesuatu yang baru. Nanti akan merapikan ruangan. Nanti akan membalas pesan penting. Nanti akan memperbaiki kebiasaan negatif. Tanpa kita sadari, ucapan “nanti” sering menjadi wadah untuk menampung banyak rencana yang sebenarnya ingin kita realisasikan.
Dalam pandangan pertama, tindakan menunda tampak sepele. Hampir semua orang pasti pernah melakukannya. Namun, jika kebiasaan ini berlangsung terlalu lama, kata “nanti” dapat bertransformasi menjadi sebuah jebakan yang perlahan-lahan menghalangi kemajuan diri kita.
Masalah utamanya, “nanti” kerap memberikan ilusi bahwa kita masih memiliki niat untuk melakukan sesuatu. Kita merasa nyaman dengan pemikiran bahwa hal tersebut belum dibatalkan, hanya ditunda. Nyatanya, dalam banyak situasi, apa yang terus-menerus ditunda bisa jadi tidak akan pernah dilakukan sama sekali.
Fenomena ini terjadi karena otak manusia cenderung memilih kenyamanan saat ini daripada yang akan datang. Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai present bias, yaitu kecenderungan untuk lebih mengedepankan kepuasan instan ketimbang hasil yang baru bisa dirasakan di masa depan.
Sebuah contoh sederhana bisa diambil. Ketika harus memilih antara berolahraga atau bersantai sambil menggunakan ponsel, otak biasanya akan lebih menyukai hal yang memberikan kenyamanan saat ini. Akibatnya, aktivitas yang sebenarnya penting terus dipindahkan ke waktu yang belum pasti.
Jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memberikan dampak lebih besar daripada yang kita bayangkan. Bukan hanya tugas yang tertunda, melainkan juga peluang, kemajuan pribadi, bahkan rasa percaya diri. Semakin sering seseorang menunda, semakin besar kemungkinan ia merasakan kekurangan serta frustrasi terhadap diri sendiri.
Yang lebih meresahkan, kebiasaan menunda seringkali terjadi pada hal-hal kecil. Karena terlihat tidak signifikan, kita merasa tidak ada masalah bila menundanya. Padahal, perubahan signifikan justru berasal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Berita baiknya, kebiasaan ini bisa diubah. Salah satu metode paling ampuh adalah dengan tidak menunggu waktu yang tampak “sempurna”. Sebab, waktu yang benar-benar ideal jarang sekali muncul.
Mulailah dengan langkah yang sangat kecil. Jika ingin membaca buku, mulailah dengan satu halaman. Jika ingin berolahraga, cukup lima menit. Jika ingin merapikan ruangan, fokuslah pada satu sudut terlebih dahulu. Tindakan kecil jauh lebih efektif dibanding rencana besar yang terus tertunda.
Selain itu, biasakan untuk menggantikan kata “nanti” dengan waktu yang lebih konkret. Misalnya, alih-alih mengatakan “nanti belajar”, katakanlah “pukul 8 malam saya akan belajar selama 20 menit”. Semakin jelas target waktu yang ditetapkan, semakin besar kemungkinan untuk mengambil tindakan tersebut.
Pada akhirnya, banyak perubahan dalam hidup tidak terjadi karena keputusan besar yang luar biasa, melainkan karena langkah-langkah kecil yang kita ambil hari ini.
Jadi, jika ada sesuatu yang sudah lama ingin kamu lakukan, mungkin inilah saatnya. Karena terlalu banyak mengucapkan “nanti” bisa membuat kita kehilangan waktu dengan cara yang tidak kita sadari.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pertemanan Tanaman Plastik: Tampak Hidup di Story, Mati di Kehidupan Nyata
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa
-
Ketika Luka Batin Dibahas dengan Hangat dalam Loving the Wounded Soul
-
Empower Yourself: Pengingat Bahwa Hidup Dimulai dari Cara Kita Berpikir
-
Buku Untukmu yang Mudah Rapuh: Kerapuhan Adalah Pintu Menuju Pemulihan
Lifestyle
-
4 Inspo Daily OOTD Lee Se Young dengan Vibes Urban Chic yang Kekinian!
-
Bye Iritasi! 4 Physical Sunscreen Probiotic Jaga Microbiome Kulit Sensitif
-
Vivo X500 Series Resmi Meluncur September 2026, Usung Kamera 200 MP dan Video Sinematik
-
Rekomendasi 7 Sepatu Gunung Terbaik dan Awet: Mulai 500 Ribuan Aja!
-
Nggak Lagi Ragu Ganti Provider, Saatnya Beralih ke XL yang Terbukti Juara
Terkini
-
Review Film 27 Steps of May: Perjalanan Panjang Berdamai dengan Trauma
-
Ulasan Film Rumah Singgah: Cerita Mengharukan tentang Kasih dan Pengorbanan
-
Sebelum Remaster Rilis, Toy Story 3 Akan Dihapus dari Xbox
-
My Lovely Journey: Pengingat untuk yang Merasa Hidup Jalan di Tempat
-
Pindah ke Gresini, Joan Mir Akui Nyontek Marc Marquez