PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah melarang setiap penumpang mengisi daya perangkat elektronik yang memiliki kapasitas daya tinggi. Setiap stopkontak di gerbong kereta api biasanya telah terpasang stiker yang mencantumkan perangkat elektronik yang diperkenankan untuk diisi daya, seperti gawai, laptop, dan tablet.
Perangkat elektronik lainnya yang memiliki konsumsi daya tinggi—seperti hair dryer, setrika rambut (catokan), ketel listrik, dan rice cooker—sering kali dilarang untuk dicas di stopkontak kereta api karena kapasitas daya yang terbatas. Namun, larangan ini memicu sorotan publik ketika konten yang diunggah oleh akun TikTok @kata.ega merekam perangkat elektronik di kereta makan.
Adanya microwave, freezer, hingga kulkas yang tentu memiliki kapasitas daya tinggi ini seolah-olah menjadi contoh ketidaksetaraan fasilitas antara area gerbong penumpang dan restorasi. Ketika publik ramai mempertanyakan persoalan tersebut, akun Instagram resmi @kai121_ kemudian mengunggah video pendek berdurasi 1 menit 56 detik yang berisi penjelasan secara teknis untuk menanggapinya.
Beda Peruntukan, Beda Kapasitas Daya
Ade Zuhri, seorang teknisi kereta api, menjelaskan bahwa stopkontak di kabin penumpang hanya boleh digunakan untuk mengecas perangkat elektronik dengan konsumsi daya kecil. Berbeda halnya dengan yang ada di kereta makan, instalasi listrik di sana dirancang khusus untuk mendukung operasional layanan makanan dan minuman selama di perjalanan, sehingga sistemnya bisa menampung beban daya tinggi.
Melalui penjelasan singkat ini, kita seharusnya memahami bahwa kapasitas pembangkit listrik kereta api juga terbatas. Sumber listrik di kereta api saat melaju bergantung pada kereta pembangkit yang berfungsi untuk menyuplai kebutuhan listrik dalam satu rangkaian, seperti lampu, penyejuk udara, perangkat elektronik, dan lain sebagainya.
Apabila stopkontak di setiap kursi yang berdaya tinggi dipakai secara bersamaan, genset di kereta pembangkit akan mengalami anjlok dan satu rangkaian kereta api bisa mati lampu, hingga memicu kebakaran hebat yang mengancam nyawa. Risiko korsleting listrik inilah yang menjadi alasan mengapa KAI membuat peraturan tentang jenis-jenis perangkat elektronik yang boleh dicas di kabin penumpang.
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan
Kereta api adalah moda transportasi umum, bukan dapur berjalan yang bisa digunakan untuk memasak nasi, mencatok, ataupun membuat mi rebus. Fasilitas stopkontak sederhananya diperuntukkan bagi para penumpang yang kehabisan baterai gawai, laptop, dan tablet selama di perjalanan. Terutama bagi mereka yang sedang bekerja atau mengerjakan tugas, pastinya sangat membutuhkan fasilitas tersebut.
Jika selama perjalanan kereta api dibolehkan untuk mengecas perangkat elektronik dengan daya tinggi, para penumpang nantinya bisa saja memanfaatkan waktunya dengan hal konyol. Misalnya, membuka jasa setrika baju, menjual berbagai jenis makanan, hingga menyediakan layanan rebonding rambut. Meskipun apa yang saya katakan terlihat jenaka, publik kita sejatinya sering kali mempunyai ide-ide unik yang tak terduga.
Pada akhirnya, dampaknya akan menyebar ke penumpang lain dan kabin penumpang bisa menjadi bau akibat hawa panas dari perangkat elektronik. Selain mengganggu kenyamanan, KAI pun harus merombak total sistem kelistrikan di ratusan gerbong yang membutuhkan biaya besar. Alhasil, efek modifikasi ini nantinya justru akan dibebankan ke harga tiket kereta api yang melambung tinggi.
Oleh karena itu, sebelum menaiki kereta api, mari kita memperhatikan setiap larangan yang diberlakukan. Setiap aturan memiliki tujuan yang sama, yakni demi keselamatan penumpang. Ketika menggunakan transportasi umum, kita tentu ingin merasa nyaman. Akan tetapi, kadang kita sulit memahami bahwa kenyamanan itu perlu dijaga dan dirasakan bersama-sama. Setop memperdebatkan kapasitas daya stopkontak di kabin hanya karena ego pribadi.
Yuk, jadi penumpang yang cerdas dan beretika. Manfaatkan stopkontak di kereta api sebagaimana fungsinya: mengecas gawai, tablet, atau laptop. Simpan dulu catokan, hair dryer, dan kompor listrik rapat-rapat di dalam koper sampai tiba di tujuan!
Baca Juga
-
Validasi Sosial Mengalahkan Literasi: Mengapa Kita Lebih Takut Kusam daripada Bodoh?
-
"Diutus" Presiden: Mengapa Ucapan Ketua MPR Ahmad Muzani Picu Kontroversi Konstitusi?
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Saat Semua Saran Tak Lagi Membantu: Belajar Menerima Rasa Lelah Lewat Lagu "Teh Hijau" Tulus
-
Maling Itu Empat Langkah dari Rumahku
Artikel Terkait
-
128 Juta Penumpang Transportasi Pilih Kereta dalam Tiga Bulan
-
Desain Mewah Gambir Jadi Lifestyle Hub, KAI Masih Rahasiakan Kapan Proyek Dimulai
-
Melejit 300 Persen! Penumpang Stasiun JIS Membeludak di Akhir Pekan, Tiket Rp1 Jadi Magnet
-
Libur Sekolah Mau Habis? Cek 64 Ribu Tiket Kereta Daop 1 dan Diskon Gede 30 Persen!
-
Terungkap! Ini Alasan Penumpang Tetap Setia Naik Kereta Meski Tarif Naik
Kolom
-
Stop Monetizing Your Hobby: Mengapa Hidup Tidak Selalu Tentang Produktivitas
-
Dari Istana ke Paspor: Mengapa Politik Menentukan Kesempatan Kerja?
-
Tren Soft Launching Pacar: Estetika Romantis atau Taktik Manipulasi Berkedok Privasi?
-
Euforia Kelulusan: Mengapa Perayaan Boleh, Tapi Penggunaan Gelar Harus Ditahan?
-
Ketika Negara Tidak Kompak, Rakyat Harus Apa?
Terkini
-
Review Film Pemikat Jiwa: Pelet, Ego, Obsesi, dan Cinta Laknat
-
Mudah Dipakai Pemula! 5 Liquid Eyeliner untuk Hasil Garis Tajam dan Presisi
-
BabyMonster Rilis MV 'I Like It': Cara Jenius Taklukkan Musim Panas dengan Keberanian!
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026