M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi hobi jadi pekerjaan (Pexels/Gustavo Fring)
e. kusuma .n

Budaya Everything Must Be Monetized membuat banyak orang merasa kalau semua hobi harus menghasilkan uang. Terlebih di era digital, kita sering mendengar kalimat seperti, "Kalau bisa menghasilkan uang, kenapa tidak?".

Tidak heran kalau banyak orang mulai mengubah hobi menjadi bisnis atau pekerjaan sampingan. Ada yang gemar memasak lalu membuka usaha makanan, hobi memotret menjadi fotografer lepas, hingga gemar menulis yang kemudian jadi cuan dari berbagai platform digital.

Fenomena ini melahirkan anggapan bahwa setiap kemampuan atau hobi sebaiknya menghasilkan cuan. Memang tidak ada yang salah dengan memanfaatkan hobi sebagai sumber penghasilan kedua atau bahkan utama.

Namun, pertanyaannya: apakah semua hobi memang harus selalu menghasilkan uang? Apakah benar setiap passion harus diubah menjadi sumber penghasilan?

Media Sosial dan Produktivitas Tanpa Batas

Media sosial dipenuhi cerita sukses dari orang-orang yang berhasil memperoleh penghasilan dari hal yang mereka sukai. Kita melihat konten kreator yang berawal dari hobi membuat video atau penulis yang mendapatkan bayaran dari artikelnya.

Konten seperti ini memang menginspirasi. Namun, tanpa disadari juga memunculkan tekanan baru kalau sebuah hobi tidak bisa dikatakan bermanfaat jika belum bisa menghasilkan uang. Padahal, tidak semua aktivitas harus memiliki nilai ekonomi agar layak dilakukan.

Hobi Sebagai Tempat Beristirahat

Hobi pada dasarnya adalah ruang untuk menikmati waktu, mengurangi stres, dan mengekspresikan diri. Saat mulai diukur dengan target pendapatan, tenggat waktu, atau jumlah pelanggan, hobi bisa berubah menjadi pekerjaan kedua yang menuntut performa.

Saya merasa banyak orang pernah mengalami hal ini. Aktivitas yang awalnya menyenangkan perlahan terasa melelahkan karena selalu dibayangi pertanyaan, "Bagaimana caranya supaya ini bisa menghasilkan uang?"

Menurut saya, tidak ada salahnya memiliki satu aktivitas yang benar-benar dilakukan hanya karena kita menikmatinya. Mengembalikan hobi sebagai tempat beristirahat tanpa tekanan harus jadi cuan itu bukan dosa, kok.

Tidak Semua Passion Harus Menjadi Profesi

Mengubah hobi menjadi pekerjaan memang terdengar ideal. Kita bisa memperoleh penghasilan dari sesuatu yang disukai. Namun, kenyataannya saat dijalani tidak selalu sesederhana itu.

Hobi yang menjadi sumber pendapatan akan menuntut tanggung jawab baru dengan adanya target, ekspektasi, permintaan klien, hingga tekanan untuk terus produktif. Hal ini berpotensi mengurangi rasa senang terhadap hobi yang selama ini menjadi tempat melepas penat.

Menurut saya, setiap orang berhak menentukan sendiri apakah hobinya ingin dijadikan profesi atau tetap menjadi kegiatan pribadi. Keduanya sama-sama merupakan pilihan yang baik selama kesehatan mental dan rasa bahagia jadi prioritas.

Menikmati Proses Juga Sebuah Pencapaian

Di tengah budaya side hustle dan produktivitas, saya rasa penting untuk mengingat bahwa hidup tidak harus selalu diisi dengan kegiatan yang menghasilkan uang. Sesekali melakukan sesuatu karena kita menyukainya bukan berarti membuang waktu.

Justru dari proses menikmati hobi tanpa tekanan, kreativitas sering kali berkembang lebih alami. Ironisnya, banyak karya terbaik lahir ketika seseorang tidak terlalu sibuk memikirkan keuntungan.

Jika ada kesempatan mengubah hobi menjadi penghasilan, tentu bisa dimanfaatkan. Namun, jika ingin tetap menjadikan hobi sebagai ruang beristirahat, itu pun sama sekali tidak salah. Keseimbangan adalah kunci dari pilihan ini.

Tidak Semua Hal Harus Dinilai dengan Uang

Budaya "Everything Must Be Monetized" menunjukkan kalau peluang menghasilkan uang kini semakin terbuka. Teknologi dan media sosial membuat siapa saja dapat mengembangkan kemampuan menjadi sumber penghasilan.

Namun, bukan berarti semua hobi harus mengikuti jalan yang sama. Ada kalanya sebuah hobi lebih bermakna saat tetap menjadi tempat untuk belajar, berekspresi, atau sekadar menikmati waktu tanpa tekanan.

Nilai sebuah aktivitas tidak selalu ditentukan oleh nominal yang dihasilkan, tapi juga kebahagiaan dan ketenangan yang diberikannya. Hobi jadi cuan atau ruang recharge energi tetap sama berharganya. Sebab, hidup tidak harus selalu produktif dan tidak semua hal perlu diukur dengan uang.