Spanduk toko makanan Pecel Lele Lamongan sudah lama menjadi bagian dari pemandangan jalan-jalan di Indonesia. Warna-warna terang seperti kuning, hijau neon, dan merah terang serta gambar ayam goreng dan ikan lele yang besar membuatnya mudah dikenali, terutama pada malam hari. Di balik penampilan yang tampaknya sederhana, ternyata tersembunyi strategi komunikasi visual yang kini lagi-lagi jadi pembicaraan publik setelah diunggah melalui akun TikTok @fajar.spanduk.
Melalui berbagai postingan video, akun tersebut menampilkan cara membuat spanduk secara manual, mulai dari menggambar sketsa awal, mengoleskan cat pada latar, melukis gambar makanan, hingga menulis tulisan khas yang menjadi ciri khas warung Lamongan. Tayangan tersebut tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa setiap bagian pada spanduk memiliki peran dalam pemasaran yang sudah terbukti selama bertahun-tahun.
Pemilik akun TikTok @fajar.spanduk, Fajar, menyebutkan bahwa pemilihan warna pada spanduk tidak hanya mengikuti selera, tetapi didasarkan pada pengalaman para pelukis yang panjang dalam menarik perhatian calon pembeli.
"Kami tidak memilih warna karena sedang tren. Warna yang cerah digunakan agar spanduk tetap terlihat jelas dari jarak jauh, terutama pada malam hari ketika hanya ada sinar dari lampu toko," kata Fajar.
Menurutnya, warna kuning dipilih karena bisa memantulkan cahaya dengan baik sehingga lebih mudah dilihat oleh pengemudi. Warna merah digunakan untuk menonjolkan nama menu atau teks yang penting, sedangkan warna hijau digunakan sebagai aksen untuk memperkuat perbedaan visual.
Perpaduan tersebut membuat spanduk Lamongan memiliki identitas yang jelas dan mudah dikenali oleh masyarakat, bahkan dari jarak puluhan meter.
Selain warna, gambar makanan juga memiliki peran yang sangat penting. Ayam goreng, ikan lele, bebek, serta sambal digambarkan dengan ukuran besar dan detail yang membuat selera jadi lebih terangsang. Teknik ini bertujuan agar makanan yang dijual terlihat enak dan menggugah selera, meskipun pelanggan belum masuk ke warung.
Fajar menjelaskan bahwa para pelukis berusaha membuat gambar terlihat hidup agar dapat membangkitkan rasa lapar pada calon pembeli.
Jika gambar ayam terlihat kering atau lele tidak menarik, orang mungkin langsung lewat saja. "Karena itu, kami membuat gambar yang sebaik mungkin agar orang bisa langsung membayangkan rasanya," katanya.
Hal lain yang sering tidak diperhatikan oleh masyarakat adalah cara menempatkan tulisan di spanduk. Kata-kata seperti "Pecel Lele", "Pecel Ayam", "Nasi Uduk", atau nama warung sering ditulis dengan huruf besar dan tebal agar mudah terlihat dalam waktu yang singkat.
Menurut Fajar, kondisi itu sangat penting karena sebagian besar pelanggan melihat spanduk saat mereka berkendara.
Pengemudi hanya memiliki waktu beberapa detik untuk membaca. Oleh karena itu, tulisan harus sederhana, besar, dan mudah dibaca. "Jika terlalu rumit, mereka sudah lewat," katanya.
Video-video yang diunggah oleh @fajar.spanduk mendapat tanggapan baik dari pengguna TikTok. Banyak warganet mengatakan mereka baru tahu bahwa desain spanduk Lamongan sebenarnya memiliki konsep visual yang sudah terencana dengan baik. Banyak orang juga mengatakan bahwa melukis secara manual memberikan perasaan tenang atau memuaskan karena kita bisa melihat setiap langkahnya secara rinci.
Fenomena itu menunjukkan bahwa seni tradisional masih relevan dan tetap bisa ditemukan di tengah kemajuan teknologi digital. Sekarang, proses yang dulu hanya bisa dilihat oleh pemilik warung bisa dinikmati oleh jutaan pengguna media sosial dari berbagai daerah.
Di sisi lain, kemajuan teknologi cetak digital membuat banner hasil cetak semakin mudah ditemukan. Meski proses produksinya lebih cepat, banyak pedagang masih memilih menggunakan spanduk lukis manual karena dinilai lebih memiliki daya tarik visual yang kuat.
Fajar berpendapat bahwa setiap gerakan menyapu menghasilkan tanda khas yang tidak bisa dibuat oleh mesin cetak.
"Spanduk manual selalu punya karakter. Meski bentuknya serupa, hasilnya selalu berbeda. Di situlah letak nilai seninya," katanya.
Melalui konten yang dibagikannya di TikTok, Fajar ingin agar masyarakat tidak lagi memandang spanduk Lamongan hanya sebagai alat promosi warung makan. Bagi dia, setiap karya adalah hasil dari gabungan pengalaman, kreativitas, serta pemahaman tentang cara berperilaku konsumen yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Akun @fajar.spanduk menjadi contoh bahwa seni tradisional masih bisa bersaing di zaman digital saat ini. Di balik warna-warna terang yang terpajang di jalanan setiap malam, tersembunyi prinsip pemasaran yang mudah namun efektif, sekaligus menjadi bagian dari identitas pandangan makanan Indonesia yang patut dijaga keberadaannya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
-
Profil Emiten Cetak Spanduk yang Dibeli Raffi Ahmad Ratusan Miliar
-
Gedung Kantor Sendiri 'Digerogoti'! KPK Ungkap Kerugian Rp35,7 M di Proyek Pemkab Lamongan
-
Suporter Rusuh Lagi! Sanksi Komdis PSSI Tak Efektif, Sampai Kapan Sepak Bola Indonesia Begini?
-
Terbongkar dari Nyanyian Penjual Pecel Lele: Kronologi Sopir MBG Ditangkap saat Nyambi Kurir Sabu
Lifestyle
-
4 Masker Wajah Kandungan Heartleaf, Andalan Redakan Kemerahan dan Jerawat
-
Jangan Asal Beli! 5 HP Gaming Rp2 Jutaan yang Paling Worth It
-
Hati-hati! Samsung Ancam Hapus Data Kesehatan Anda Jika Menolak Pelatihan AI
-
6 Sabun Mandi Antibakteri yang Efektif Melawan Kuman Penyebab Bau Badan
-
4 Acne Cleansing Tissue, Solusi Sat-set Bersihkan Makeup dan Lawan Jerawat
Terkini
-
Cetak Brace, Jude Bellingham Bisa Kejar Rekor Messi?
-
Rilis Yo-I-Don! NCT Wish Sebarkan Semangat Memulai Awal Baru Penuh Harapan
-
Syarat Segunung, Nasib Menggantung: Wajah Birokratis Rekrutmen di Indonesia
-
Dari Euro 1992 ke Piala Dunia 2026: Benarkah Skandinavia Sedang Menuju Masa Kejayaan Baru?
-
Ironi Demokrasi: Ketika Pembelaan Hanya Milik Mereka yang Berkuasa