M. Reza Sulaiman | Kayla Widyanti
Suasana kota Sydney dengan arsitektur bangunan yang estetik. (Pexels/Sora Shimazaki)
Kayla Widyanti

Bekerja atau melanjutkan studi di Negeri Kangguru menjadi impian bagi sebagian besar anak muda. Namun, kehidupan di sana tidak melulu seindah video yang biasa lewat di FYP TikTok atau Instagram kamu, loh.

Simak baik-baik artikel ini agar kamu tidak mengalami culture shock saat nanti menginjakkan kaki di sana.

1. Berobat Gratis, Tapi Tetap Bayar?

Warga lokal dan pemegang Permanent Resident (PR) di sana berhak mendapatkan fasilitas kesehatan bersubsidi dari pemerintah yang bernama Medicare. Menurut Department of Health Australia, Medicare membiayai penuh pengobatan rumah sakit umum, namun pasien tetap dikenakan biaya tambahan (gap fee) saat berkonsultasi dengan dokter spesialis atau dokter umum privat karena tarif klinik swasta melebihi budget subsidi pemerintah.

Bagi pendatang atau mahasiswa asing yang tidak berhak atas Medicare, pemerintah mewajibkan mereka untuk memiliki Private Health Insurance sebagai jaminan mandiri. Bedanya, asuransi ini tidak mendanai seluruh biaya medis, sehingga kamu masih harus mengeluarkan uang untuk membayar harga obat dan pelayanan jasa yang tidak tercover.

2. Visa Susah dan Mahal

Paspor Australia

Mendapatkan izin tinggal jangka panjang atau status PR di Australia dikenal sangat kompetitif dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Berdasarkan kebijakan terbaru, Pemerintah Australia menaikkan biaya perpanjangan visa PR (subkelas 155) sebesar 1.475 dolar Australia atau setara dengan Rp18,4 juta.

Peluang kelolosan visa sangat bergantung pada sistem penilaian berbasis poin (Skilled Independent) yang menghitung usia, kemampuan bahasa Inggris, serta pengalaman kerja kamu. Jika kamu memiliki keahlian khusus yang masuk dalam daftar profesi langka di Australia (seperti tenaga medis, insinyur, atau IT), kamu berpeluang besar mendapat rekomendasi atau sponsor dari negara bagian untuk mempercepat proses kelolosan.

3. Siap-Siap Pajak Meroket

Jangan kaget ya, kalau melihat slip gaji bulanan kamu terpotong cukup besar akibat sistem perpajakan mereka. Pemerintah setempat menerapkan sistem pajak progresif, yang artinya persentase potongan akan semakin tinggi karena disesuaikan dengan bertambahnya nominal gaji yang telah kamu terima.

Total tarif pajak individu yang berlaku di sana mulai dari 0-45%. Konsep ini menuntut para warga untuk lebih bijak lagi dalam mengatur pengeluaran bulanan agar tabungan mereka tidak boncos akibat potongan pajak.

Pemotongan Gaji untuk Pajak

4. Banyak Orang Indonesia

Meskipun berada di luar negeri, kamu dijamin tidak akan pernah merasa kesepian atau merindukan suasana kampung halaman. Sebab, setiap kamu berjalan di kota-kota besar seperti Sydney atau Melbourne, kamu akan dengan sangat mudah menjumpai komunitas WNI, toko Asia, hingga restoran nusantara.

Ramainya populasi ini didorong oleh tingginya arus migrasi mahasiswa, turis, serta warga negara asing yang memilih menetap sejak puluhan tahun lalu. Hal ini yang menjadikan lingkungan sosial disana terasa begitu akrab, sehingga dapat mempermudah proses adaptasi bagi para perantau.

Tinggal di luar negeri memang menawarkan banyak peluang karier sekaligus tantangan yang menuntut kesiapan mental. Semua fasilitas yang ditawarkan di sana selalu berjalan beriringan dengan aturan hukum serta biaya hidup yang sangat ketat.

Bagaimana, setelah tahu realitanya, apakah kamu sudah merasa siap dan mantap untuk merantau ke Australia?

Baca Juga