Linimasa media sosial kita belakangan ini mendadak berubah fungsi jadi ruang sidang tanpa hakim. Gara-gara satu pria bikin ulah, seketika seluruh kaum adam sejagat raya ikut kena tudingnya. Sebaliknya, begitu ada yang sedikit mengkritik sistem patriarki, langsung dituduh sedang mengobarkan kebencian pada laki-laki. Di tengah hiruk-pikuk saling-silang inilah, istilah bernama “misandry” alias paham antipati pada kaum pria, ikut berseliweran meramaikan panggung jagat maya.
Padahal kalau mau jujur, duduk perkaranya tidak serumit itu. Jika ada satu oknum pria yang hobi bikin onar, ya jelas oknum itu yang harus kita jewer bersama-sama. Masalahnya jadi lucu kalau kekesalan pada satu mantan yang menyebalkan, malah diperluas skala cakupannya hingga membuat seluruh laki-laki di muka bumi dicap sebagai biang kerok peradaban. Menghukum satu pelaku itu kewajiban, tapi menyamaratakan semua pria tentu urusan lain yang bikin kita geleng-geleng kepala.
Biar tidak salah paham sampai urat leher tegang, mari kita sepakati dulu bahwa patriarki itu bukan hal yang sama dengan “laki-laki”. Patriarki itu sebuah “sistem” aturan main kuno yang kebetulan mendudukkan pria di kursi empuk kekuasaan sambil membiarkan ketimpangan gender terus langgeng. Kata WHO, sistem yang timpang ini bikin sebagian pria merasa punya privilege, sementara kebebasan kaum perempuan terpaksa disunat di sana-sini.
Dampaknya pun bukan jadi bumbu penyedap buat baku hantam di kolom komentar saja. WHO dan UN Women bahkan sampai turun tangan mencatat bahwa ketimpangan ini melahirkan kepedihan fisik dan batin yang nyata bagi perempuan, berakar dari kebiasaan lumrahnya kekerasan tersebut. Jadi, kalau ada yang orang-orang yang mengkritik patriarki ini, mereka sebetulnya sedang membongkar borok nyata yang selama ini bersembunyi di balik tirai kehidupan kita.
Mengkritik sistem itu jelas beda perkara dengan membenci orangnya secara personal. Biar tidak dikira asal cuap, penelitian Aífe Hopkins-Doyle dkk tahun 2024 di jurnal Psychology of Women Quarterly sudah pasang badan. Setelah menguji 9.799 partisipan lewat enam studi, mereka menemukan fakta bahwa kaum feminis ternyata tetap peduli dan berpikiran positif pada laki-laki, sama sekali tidak ada bedanya dengan kaum non feminis.
Temuan ini penting agar kita tidak hobi bagi-bagi stempel "misandry" ke sembarang orang. Kata Tris Hedges dalam Feminist Review (2024), kemarahan perempuan itu sering kali karena reaksi spontan akibat jengkel dicurangi oleh sistem yang timpang. Jadi, sebelum kita buru-buru menempelkan label pembenci pada seseorang, ada baiknya kita pelajari dulu duduk perkaranya agar tidak salah sasaran.
Memahami keadaan tentu bukan berarti kita boleh menghalalkan segala cara. Kalimat sakti "semua laki-laki sama saja" itu jelas sebuah generalisasi yang kelewat kreatif. Kita paham rasa trauma bisa bikin orang curiga setengah mati. Tapi kalau setiap pengalaman pahit dibalas dengan memelihara kebencian massal pada satu kelompok, kita ini sebenarnya cuma sedang mengalihkan arah perhatian kita saja, tanpa pernah menyelesaikan akar masalahnya.
Urusan kesetaraan gender ini ujung-ujungnya butuh obat yang lebih paten daripada sekadar adu otot di kolom komentar, yaitu rasa saling menghormati. Kata UN Women, kaum pria justru harus diajak duduk bersama untuk ikut mencegah kekerasan dan mengubah aturan main di masyarakat. Membongkar sistem yang timpang itu tujuannya demi memanusiakan manusia, jadi tidak perlu sampai menjadikan seluruh laki-laki sebagai musuh bersama.
Paham "misandry" tidak perlu dipelihara hanya untuk membalas dendam pada paham misogini. Kalau mimpi besar kita adalah menciptakan ruang hidup yang aman dan tenteram, yang kita butuhkan bukanlah kompetisi mencari gender mana yang paling sah untuk dibenci. Melainkan, keberanian untuk berhenti menjadikan dosa satu oknum masa lalu sebagai alasan menghakimi orang baru yang bahkan belum sempat melakukan apa-apa.
Baca Juga
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
Boro-boro Financial Freedom, Gen Z Masih Paycheck to Paycheck
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen
Artikel Terkait
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah
-
Beban Menjadi Pria Perkasa: Mengapa Toxic Masculinity Menggerus Laki-Laki?
-
Aliansi Laki-Laki Baru: Membangun Ruang bagi Laki-Laki untuk Belajar tentang Kesetaraan
-
Gugat Dosa Struktural Negara, FIAD Nyatakan Indonesia Darurat Keadilan
Kolom
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Tidak Semua Harus Dibagikan, Ini Alasan Pentingnya Membangun Batas Privasi di Dunia Maya
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
-
Menjeda Rutinitas Sejenak, Menemukan Kebahagiaan Sederhana di Tempat Camping
Terkini
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya