Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Ilustrasi Anak kecil kesepian (Pexels/Hannibal Photography)
Chairun Nisa

Saya tidak menyangka akan menangis saat menonton Suzume. Bukan karena adegan bencana yang menjadi latar cerita film tersebut, melainkan karena sebuah pelukan yang muncul menjelang akhir.

Dalam adegan itu, Suzume yang telah tumbuh dewasa bertemu dengan dirinya yang masih kecil, seorang anak yang kesepian setelah kehilangan ibunya.

Tidak ada nasihat panjang, tidak ada keajaiban yang menghapus semua rasa sakit. Hanya sebuah pelukan dan keyakinan bahwa suatu hari semuanya akan baik-baik saja.

Adegan itu membuat saya bertanya-tanya, bagaimana jika saya bisa bertemu dengan diri saya yang kecil? Apa yang akan saya katakan kepadanya?

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada istilah inner child yang belakangan semakin sering dibicarakan. Psikolog Rafika menjelaskan bahwa inner child merupakan kumpulan pengalaman masa kecil yang ikut membentuk diri seseorang.

Semua orang memiliki inner child, tetapi yang sering menjadi perhatian adalah inner child yang terluka akibat pengalaman menyakitkan seperti pengabaian, kekerasan, atau pola asuh yang tidak sehat.

Sayangnya, pembahasan tentang inner child di media sosial kadang berhenti pada pencarian siapa yang harus disalahkan. Masa lalu dianggap sebagai sumber dari hampir semua masalah yang terjadi pada seseorang saat ini.

Tidak sedikit orang yang kemudian menjadikan luka masa kecil sebagai alasan untuk bersikap kasar, mudah marah, atau menyakiti orang lain. Seolah-olah karena pernah terluka, maka semua tindakan yang dilakukan setelahnya menjadi dapat dimaklumi.

Padahal memahami inner child seharusnya bukan tentang mencari terdakwa. Tujuan utamanya adalah memahami diri sendiri. Menyadari bahwa ada pengalaman-pengalaman tertentu yang meninggalkan bekas, lalu belajar mengelolanya agar tidak terus memengaruhi kehidupan secara negatif. Luka masa kecil memang bukan pilihan kita. Namun ketika sudah dewasa, cara kita merespons luka tersebut menjadi tanggung jawab kita.

Semakin bertambah usia, saya juga mulai memahami bahwa orang tua adalah manusia biasa. Mereka tidak lahir dengan kemampuan mengasuh yang sempurna. Mereka tumbuh dalam zaman yang berbeda, dengan pengalaman yang berbeda, bahkan mungkin dengan luka yang berbeda pula.

Penulis J.S. Khairen pernah menulis bahwa ayah memiliki retaknya sendiri dan ibu memiliki retaknya sendiri. Kalimat sederhana itu mengingatkan saya bahwa jauh sebelum menjadi orang tua, mereka terlebih dahulu adalah anak-anak yang sedang bertumbuh dalam kondisi yang tidak selalu ideal.

Dulu, informasi tentang pengasuhan tidak semudah sekarang. Tidak ada media sosial yang setiap hari membahas kesehatan mental, trauma, atau pola asuh.

Tidak ada begitu banyak buku, podcast, seminar, dan konten edukasi yang bisa diakses hanya melalui telepon genggam. Banyak orang tua membesarkan anak dengan bekal yang mereka miliki saat itu, yang sering kali merupakan hasil dari pola asuh yang mereka terima sebelumnya.

Kesadaran ini tidak membuat semua luka masa lalu tiba-tiba hilang. Jika ada perlakuan yang salah, tetaplah salah. Namun setidaknya saya memahami bahwa tidak semua orang yang melukai adalah orang jahat. Sebagian hanyalah manusia yang belum sempat menyembuhkan lukanya sendiri. Pemahaman tersebut membantu saya melihat masa lalu dengan lebih jernih, tanpa harus terus hidup dalam kemarahan yang tidak pernah selesai.

Barangkali itulah alasan mengapa adegan pelukan dalam Suzume terasa begitu menyentuh. Suzume tidak kembali ke masa lalu untuk mengubah takdir atau mencari seseorang yang bisa disalahkan. Ia hanya hadir untuk menemani dirinya yang kecil melewati rasa sakit yang pernah dialami. Bukan untuk menghapus luka, melainkan untuk memastikan bahwa luka itu tidak lagi membuatnya berjalan sendirian.

Kita mungkin tidak bisa kembali ke masa lalu seperti Suzume. Namun kita masih bisa melakukan satu hal: memeluk diri kita yang terluka tanpa menjadikan luka itu alasan untuk melukai orang lain. Sebab tujuan memahami inner child bukan untuk hidup dalam kemarahan terhadap masa lalu, melainkan untuk memastikan bahwa rasa sakit yang pernah kita alami berhenti pada diri kita. Seperti kata J.S. Khairen, ayah memiliki retaknya sendiri dan ibu memiliki retaknya sendiri. Tugas kita bukan menambah retakan baru, melainkan memutus rantai luka agar tidak diwariskan kepada orang-orang setelah kita.