Kecamatan Ngimbang, tepatnya di Desa Kedungmentawar merupakan salah satu desa yang terletak dipaling selatan Kab. Lamongan. Masyarakatnya sudah menuju modern ditandai dengan perubahan sistem dalam masyarakat, perubahan pada pola pikir dan perubahan pada gaya hidup. Namun, kebanyakan masyarakatnya merupakan seorang petani. Yang pada musim kemarau kebanyakan menanam tembakau dan pada musim penghujan menanam padi. Dalam bercocok tanam pasti banyak sekali hal-hal yang membuat hasil pertanian mengalami penurunan, semisal banyaknya rumput liar, hama wereng, tikus, belalang, banjir dan angin kencang. Hal ini diperparah dengan adanya virus corona di Indonesia.
Pandemi membawa barisan duka yang belum tuntas dan terlihat semakin gencar meluas hingga sektor pertanian. Kebijakan psbb membuat terhambatnya proses distribusi pupuk. Akibatnya pupuk yang biasa digunakan petani untuk merawat padi, membuat kualitas dan kuantitas padi menurun. hal ini dikarenakan banyaknya hama yang bermunculan akibat tidak diberikan pupuk. Perawatan padi tidak pada pupuk saja, namun pada penanaman dan pencabutan rumput liar. Masyarakat Desa Kedungmentawar masih menggunakan buruh tani untuk membantu menanam padi, sistem yang digunakan yaitu sistem upah berupa uang Rp. 30.000 untuk setengah hari mulai jam 07.00 – 10.00 dan Rp. 75.000 untuk sehari mulai dari pukul 07.00 – 17.00. kemudian buruh mencabut rumput liar diupah mulai dari Rp. 35.000 – 60.000 tergantung pada luasnya sawah yang akan dicabuti rumputnya.
Kondisi yang sulit akibat pandemi membuat pendapatan petani menurun drastis, namun kebutuhan akan perawatan tanaman padi membutuhkan uang yang tidak sedikit. Hal ini membuat petani memikirkan jalan keluar apa yang dianggap saling menguntungkan, dan tercetuslah irutan. Tradisi irutan memang tidak asing dilakukan oleh masyarakat Desa Kedungmentawar, namun dengan mengudaranya globalisasi membuat sistem kehidupan masyarakat berubah seiring berjalannya waktu. Membuat minimnya buruh tani yang ada, hal ini mmebuat para petani kesulitanmencari orang untuk diminta membantu merawat sawahnya. Hal ini membuat banyak petani mencari orang diluar desa untuk merawat sawahnya. .
Dalam bahasa Indonesia irutan dapat diartikan sebagai “gantian yang berurutan”. Sistem yang ditawarkan berlaku pada petani yang sama-sama mempunyai sawah. Semisal sawah si A sedang digarap, si B, C, D ikut membantu tanpa diberikan upah dan sebaliknya. Akan tetapi masih menyediakan sarapan dan makan siang. Sistem ini tidak berlaku bagi yang tidak memiliki sawah, sebab kebanyakan buruh tani merupakan orang luar dari desa. Selain merugikan di bidang perekonomian, pandemi memperbaiki sistem masyarakat yang giyah akibat globalisasi. Pandemi membuat eksistensi irutan menyala kembali. Hal ini memperbaiki solidaritas antar petani agar kehidupan lebih sejahtera dan sistem gotong-royong masih mendarahdaging dimasyarakat Desa Kedungmentawar, Kecamatan Ngimbang Kab. Lamongan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ya Ampun! Ternyata Hanya 43% Petani yang Berhak Terima Subsidi Pupuk
-
Aksi Tanam Padi Jalanan, Petani Kampung Siluman Serang Buka Suara
-
Persawahan Jadi Lokasi Ngetrek, Polisi Sukawati Bali Tertibkan ABG Pelaku
-
13 Petani Sayur Cimenyan Bunuh Preman Tukang Palak Pakai Batu dan Besi
-
Videonya Viral, Pria yang Buang Telur Ayam ke Sawah Minta Maaf
News
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Terkini
-
Sang Putra Ikuti Jejaknya Berkarier Jadi Aktor, Begini Reaksi Mark Ruffalo
-
Di Balik Polemik UKT dan Roh Pendidikan Tinggi: Saatnya Kampus Elite Berbagi dengan Kampus Daerah
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Tune In to the Midnight Heart Season 2 Rilis 2027, Hadirkan 2 Karakter Baru
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!