Usaha Memerangi Pornografi terus dilancarkan oleh pemerintah dengan melakukan aksi blokir. Hal ini juga digencarkan oleh beberapa platform lain seperti Google yang menyedian fitur safesearch utuk membendung hal hal yang berbau mesum.
Sayangnya upaya pemerintah dan pemilik platform dalam aksi blokir, pornografi tetap saja tidak bisa hilang dari internet, khususnya media sosial. Terlebih lagi bebas nya akses yang ada di Twitter. Para pengguna mendapatkan kebebasan untuk berekspresi. Media sosial ini menjadi alternatif terbaik untuk menyebarkan dan mendapatkan konten dewasa.
Pornografi tidak diblokir di platform ini, maka tidak heran hal hal berbau pornografi sering muncul. Kita tidak tau bagaimana algoritma yang ada di Twitter sehingga bisa menjadi sebuah tren dan tagar yang muncul di pencarian Twitter.
Pornografi memang menjadi suatu ha yang menarik bagi banyak orang, terbukti dengan seringnya tagar berbau porno naik menjadi trending. Kita tidak tau kapan sebuah konten akan viral. Namun yang jelas di saat semua orang menyukai dan mencari tau hal hal ini sebuah konten mau tidak mau harus menjadi trending dan akhirnya semakin banyak orang yang tertarik dengan konten tersebut.
Tidak sedikit juga netizen yang mencari penghasilan dari media sosial. Mereka memanfaatkan pornografi sebagai konten yang banyak diminati khalayak. Mereka akan terus menerus berusaha bagaimana pornografi tetap menjadi trending, dengan cara jual beli video porno atau bahkan menyediakan jasa pemuasan Hasrat konsumen.
Hal ini tentu sangat berbahaya bagi generasi muda kita saat ini, mengingat Twitter adalah media sosial yang dapat diakses oleh siapa saja. Siapa sangka saat orang menggunakan Twitter untuk mencari berita hangat di trending, namun yang muncul adalah pornografi. Yang ditakutkan nantinya akan terbawa arus dan malah ikut menikmati pornografi tersebut.
Mauro Coletto, dalam dalam papernya berjudul “Pornography Consumption in Social Media” (2016), mengatakan bahwa media sosial memudahkan orang-orang untuk membentuk jaringan menyimpang. Salah satu topik populernya ialah pornografi.
Konten pornografi mungkin menguntungkan bagi platform media sosial, tetapi dalam hal ini anak-anak, harus menjadi pihak utama yang harus dilindungi. Jaga diri dan keluargamu dari provokasi pornografi di media sosial. Awasi adik adik mu, jangan biarkan bermain Twitter jika otaknya belum siap dan mentalnya belum dewasa.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Viral Petugas Rampas Ponsel Saat Evakuasi Jenazah, Warganet Ungkap Detik 35
-
Jakarta Banjir! Publik Bandingkan Era Anies dan Ahok: Mendingan Zaman Ahok!
-
Viral! Detik-detik Nakes Sita Ponsel Warga Rekam Evakuasi Jenazah Covid 19
-
Viral! Perbedaan Orang Miskin dan Kaya saat Bicarakan Banjir
-
Sindir Anies soal Banjir, Ferdinand: Program Kacangan tapi Klaim Sukses!
News
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?
-
Opornya Hangat, Tapi Kok Hati Dingin? Rahasia di Balik Rasa Hampa Saat Bulan Suci
-
Seni Memilah Prioritas di Buku Mencari Intisari Karya Sherly Annavita
-
Kisah Kolaborasi Mengejutkan: Pramuka dan Kophi Jateng Satukan Kekuatan Jaga Lingkungan
Terkini
-
Ramadan: Puasa Bukan Sekadar Lapar, tapi Momen Latihan Mental Menahan Diri
-
Femisida dan Pergeseran Narasi dalam Kasus UIN Suska
-
Belajar Empati dari Buku Menjadi Manusia itu Susah, Ya!
-
Ramadan dan Ujian Cinta: Menguatkan atau Malah Menggoyahkan Hubungan?
-
Membaca Gadis Minimarket: Satire Tajam Tentang Standar Ganda Masyarakat