Menjadi Manusia Itu Susah, Ya! adalah buku reflektif karya Sherly Pitaloka yang berbicara tentang satu hal yang sering kita anggap sepele, tapi justru paling kompleks. Menjadi manusia itu sendiri.
Buku ini tidak menjual motivasi klise. Ia justru mengajak pembaca masuk ke ruang paling sunyi dalam diri. Ruang tempat pikiran, emosi, logika, dan nurani saling bernegosiasi.
Sejak kecil, kita dibesarkan dengan satu mantra besar: “Pakai otakmu.” Berpikir rasional. Jangan baper. Jangan pakai perasaan. Nah, buku ini mengajak kita mempertanyakan asumsi tersebut.
Isi Buku
Otak memang penting, tetapi bukan satu-satunya pusat kendali perilaku manusia. Ada akal, ada hati, ada nurani, ada emosi. Semuanya membentuk satu sistem keputusan yang kompleks.
Menjadi Manusia Itu Susah, Ya! menegaskan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup hanya dengan logika, dan tidak pernah sepenuhnya digerakkan oleh emosi. Kita selalu berada di antara keduanya.
Salah satu gagasan utama buku ini adalah tentang pentingnya mengenal diri. Karena tanpa mengenal diri sendiri, manusia akan selalu salah menafsirkan emosinya, salah membaca pikirannya, dan salah mengambil keputusan.
Tertawa tidak selalu berarti bahagia. Diam tidak selalu berarti tenang. Senyum tidak selalu berarti kuat. Buku ini membongkar ilusi sosial tentang ekspresi emosi, bahwa apa yang tampak di luar sering kali tidak mewakili apa yang terjadi di dalam.
Secara ilmiah, buku ini juga memperkuat argumennya dengan pendekatan neuropsikologi. Salah satunya melalui peran ventromedial prefrontal cortex (vmPFC)—bagian otak yang berperan dalam pembuatan keputusan, pemrosesan emosi, memori, persepsi diri, dan kognisi sosial.
Artinya, emosi bukan pengganggu logika, tetapi justru bagian dari sistem pengambilan keputusan itu sendiri. Tanpa emosi, manusia justru tidak mampu membuat keputusan secara utuh.
Sebuah studi tahun 2012 yang dikutip dalam buku ini bahkan menyimpulkan bahwa lebih dari 90% keputusan manusia didasarkan pada emosi dan perasaan. Logika sering kali hanya menjadi pembenaran setelah keputusan emosional itu terjadi.
Ini membalik cara pandang lama yang menganggap logika sebagai pengendali utama hidup manusia. Faktanya, emosi adalah pintu pertama, logika adalah pengolah berikutnya.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini tidak mengglorifikasi emosi secara membabi buta. Emosi memang penting, tetapi tidak boleh dibiarkan menguasai hidup sepenuhnya.
Di sinilah konsep emotional-loop diperkenalkan: setiap emosi sejatinya hanya bertahan sekitar 90 detik secara biologis. Setelah itu, yang tersisa hanyalah pengulangan pikiran dan makna yang kita bangun sendiri. Artinya, manusia sebenarnya bisa memilih: mempertahankan emosi itu, atau melepaskannya.
Dalam konteks pengambilan keputusan, buku ini menawarkan pendekatan yang seimbang. Gunakan emosi untuk memberi makna pada informasi. Gunakan logika untuk mengolah makna itu menjadi keputusan rasional. Gabungkan dengan berpikir kritis dan kreativitas. Perluas sudut pandang, tambah data, dan pertimbangkan risiko.
Ini bukan pertentangan antara hati dan otak, tapi kolaborasi antara keduanya.
Buku ini juga diperkuat oleh pandangan ilmuwan psikologi seperti Russell Hurlburt dari University of Nevada, Las Vegas, yang menyimpulkan bahwa pikiran manusia jauh lebih kompleks dan bervariasi daripada yang kita kira. Tidak semua orang berpikir dengan kata-kata.
Banyak proses batin terjadi tanpa bahasa, tanpa narasi, tanpa struktur verbal. Manusia sering kali tidak sadar bagaimana pikirannya sendiri bekerja.
Pada akhirnya, Menjadi Manusia Itu Susah, Ya! bukan buku yang menggurui, tapi menemani. Ia tidak memaksa pembaca menjadi “lebih baik”, tapi mengajak menjadi “lebih sadar”. Lebih sadar akan emosi sendiri. Lebih jujur pada ketakutan sendiri. Lebih berani menerima bahwa menjadi manusia memang rumit.
Karena menjadi manusia bukan soal selalu kuat. Bukan soal selalu benar. Bukan soal selalu tenang.
Tapi tentang belajar hidup dalam keseimbangan. Antara emosi dan logika, antara hati dan akal, antara rasa dan pikir, antara luka dan tumbuh.
Dan mungkin, justru di sanalah maknanya. Menjadi manusia itu memang susah, dan itu wajar.
Identitas Buku
- Judul: Menjadi Manusia itu Susah, Ya!
- Penulis: Sherly Pitaloka
- Penerbit: Solusi Multi Digital
- Tahun Terbit: Mei 2023
- Tempat Terbit: Yogyakarta
- ISBN. 978-6239-647-32-2
- Tebal: 168 Halaman
- Genre: Self-Improvement/Pengembangan Diri
Baca Juga
-
Potret Perempuan dalam Sejarah Islam: Membaca Kembali Ummahatul Mukminin
-
Mati Berkali-kali, Tetap Harus Masuk Kerja: Dilema Eksistensi dalam Mickey7
-
51 Kisah di Buku Berjalan Jauh: Hangat Seperti Pelukan di Hari yang Panjang
-
Bermental Tangguh dan Berprinsip Teguh: Filosofi China di Buku Dao De Jing
-
Mr. Queen (2020): Drama Kerajaan Paling Absurd yang Justru Bikin Nagih
Artikel Terkait
-
Review Buku Etiket Bekerja: Upaya Meningkatkan Kualitas Diri
-
iPusnas Error Berminggu-minggu: Bukti Literasi Masih Jadi Anak Tiri?
-
Review Novel Satine: Realitas Pahit Menjadi Budak Korporat di Jakarta
-
Tuhan Nggak Butuh Pengacara: Belajar Beragama "Santuy" tapi Berisi Bareng Mbah Nun
-
Mau Glowing Luar Dalam? Cobain 200 Resep Sehat JSR dari dr. Zaidul Akbar
Ulasan
-
Gara-gara Bastian Steel, Kita Sadar Gombalan Bocah 2010-an Itu Sangat Genius
-
Habis 5 Jam di Cafe Catarina: Tempat Reuni yang Bikin Lupa Waktu Sekaligus Ramah Kantong!
-
Bahagia Tak Perlu Menunggu: Pelajaran dari Seni Membahagiakan Diri Sendiri
-
Review Leadership Mastery: Apakah Buku Ini Layak Jadi Kitab Wajib Para Pemimpin Masa Kini?
-
"Bara Sang Pengarang", Novel Fantasi Misteri Sarat Makna
Terkini
-
Sains di Balik Jatuh Cinta: Kenapa Otak Kita Mendadak Jadi "Gila"?
-
Merangkai Harapan dari Manik-Manik: Cerita Hangat dari Anak-Anak Legok Jambi
-
4 Ide OOTD Dark Glamour ala Shuhua I-DLE yang Elegan dan Super Classy!
-
My Royal Nemesis Viral, Ini 5 Drama Korea Terkenal dari Lim Ji-yeon!
-
Selamat Tinggal Password! Microsoft Resmi Pensiunkan Kata Sandi