Belakangan ini, kematian mendadak lumba-lumba di sungai Amazon, Brazil. Lumba-lumba air tawar tersebut dikenal dengan warnanya yang pink ditemukan mati. Kondisi tersebut diduga kekeringan bersejarah akibat panas ekstrem dan suhu air yang mencapai rekor tertinggi di beberapa wilayah di negara itu.
Melansir dari akun Instagram @frix.id, berdasarkan laporan Kementerian Ilmu Pengetahuan Brazil Mamiraua Institute, lumba-lumba yang mati semuanya ditemukan di Danau Tafe selama tujuh hari terakhir. Lembaga tersebut mengatakan, tingginya jumlah kematian lumba-lumba tersebut merupakan hal yang tidak biasa.
Mamiraua Institute memperkirakan, suhu danau yang mencapai rekor tertinggi serta kekeringan bersejarah di Amazon mungkin menjadi penyebabnya. Laporan terbaru tersebut kemungkinan akan menambah kekhawatiran para ilmuwan iklim atas dampak aktivitas manusia dan kekeringan ekstrem terhadap wilayah tersebut.
Peneliti di Mamiraua Institute, kematian lumba-lumba tersebut masih diselidiki termasuk penyakit dan kontaminasi limbah. Peneliti itu juga menambahkan bahwa kedalaman air dan suhu yang merupakan komponen utama dari kematian mamalia itu, pada jam enam sore waktu setempat suhu di Danau Tafe mencapai lebih dari 39 derajat.
Suhu tersebut dianggap sebagai suhu ekstrem karena suhu 37 derajat saja, sudah dianggap sebagai permandian air panas bagi manusia. Saat ini, Brazil telah mengalami cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir akibat dari gangguan iklim yang disebabkan oleh manusia dan EI Nino.
Pada waktu yang hampir sama, memang sebagian besar wilayah selatan negara tersebut telah mengalami banjir akibat badai hujan yang sangat deras, sedangkan untuk di wilayah timur justru mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang dahsyat.
Ketinggian air di sungai terbesar di dunia itu telah mengalami penurunan mencapai 30 meter setiap harinya selama dua minggu terakhir.
Tahun ini, wilayah tersebut telah mengering sebanyak 7,4 meter, kedalaman rata-rata saat ini di Manuas lebih rendah 4,4 meter dari puncak musim hujan.
Kematian lumba-lumba tersebut dianggap sebagai kejadian yang tidak masuk akal oleh ahli biologi setempat. Pasalnya, lumba-lumba dianggap sebagai indikator kesehatan sebuah sungai yang sangat penting bagi mereka yang tinggal di sepanjang tepi sungai.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
News
-
Di Balik Gerakan Tanpa Kata, Bagaimana Pantomim Jadi Ruang Memulihkan Diri?
-
Di Balik Jendela TransJakarta: Ada Cerita Perjuangan yang Sering Kita Lewatkan
-
Paradoks Transportasi Jakarta: Penumpang Naik Pesat, Kenapa Macet Makin Parah?
-
In This Economy: Gengsi Nggak Bisa Bayarin Bensin, Naik Transum Is The New Flex!
-
90 Mahasiswa Indonesia Lanjut S2 Lewat Erasmus Mundus, Uni Eropa Perkuat Investasi pada Talenta Muda
Terkini
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
-
Ulasan Novel Tuan Besar Gatsby: Saat Kekayaan Tak Mampu Membeli Cinta
-
Ketimpangan Relasi Kerja: Mengapa Loyalitas Hanya Berlaku Satu Arah?
-
Leave No One Behind Membawa Napas Baru Lewat Aksi Bertema Perdagangan Orang
-
Samakdo: Film Horor Korea Selatan Terbaik dengan Misteri Sekte yang Sesat!