Media sosial sempat dihebohkan dengan video salah seorang oknum guru yang tampak ikut menikmati makanan MBG yang seharusnya diperuntukkan siswa. Banyak warganet menuding kalau guru ‘mengambil hak siswa’ dan membuat spekulasi miring makin tersebar.
Namun, tampaknya dugaan ini nggak benar. Sang guru akhirnya membuat klarifikasi yang diunggah dalam akun Instragram @arfndii dengan menyertakan caption untuk meluruskan spekulasi warganet yang salah. “Semoga tidak ada lagi yang ngatain ‘guru ambil hak siswa’ dan ‘guru kok ikut makan punya siswa’,” tulis akun tersebut.
Klarifikasi Guru Ikut Makan MBG
Dalam video klarifikasi tersebut, sang guru menjelaskan kronologi sebenarnya yang terjadi dalam kelas. Mulai dari memastikan semua siswa sudah mendapat jatah MBG sampai menawarkan siswanya untuk mengambil jatah tambah.
Penawaran guru untuk siswa yang mau nambah dilakukan karena jatah menu MBG masih tersisa banyak. Meski begitu, MBG yang diberikan masih tersisa juga.
Sang guru pun menyampaikan kalau ada kesepakatan dengan pihak dapur dengan sekolah terkait MBG yang memang harus habis semua. Kalau nggak habis, guru boleh mengambil dan menghabiskan makanan yang tersisa.
Lewat video tersebut, guru juga berharap kalau tudingan ‘ambil hak siswa’ nggak lagi terdengar. Bukan jatah siswa yang diambil guru saat ikut makan MBG, tapi memang jatah MBG tersebut harus habis dan tray kembali dalam keadaan kosong.
Salah Paham: Guru Bantu Habiskan, Malah Dituduh Ambil Hak
Polemik MBG terus saja berlanjut, termasuk saat guru yang ikut membantu menghabiskan jatah yang tersisa karena sudah nggak ada siswa yang mau ambil lagi. Niat baik yang sebenarnya juga mendapat izin dari dapur MBG malah disalah pahami warganet.
Momen guru ikut makan MBG malah dipelintir menjadi tuduhan “Guru ambil hak siswa”. Padahal, kenyataannya makanan tersebut memang sisa, yang kalau nggak dihabiskan malah menimbulkan masalah baru dengan pihak dapur MBG.
Fakta kesepakatan dapur dengan sekolah yang akhirnya diungkap pun meluruskan kesalahpahaman ini. Sebab, dapur MBG sendiri nggak mau tahu situasi anak dan menginginkan tray MBG kembali dalam keadaan kosong tanpa sisa makanan.
Respons Warganet
Setelah video klarifikasi beredar, banyak yang kemudian bereaksi memihak pada guru. Semua komentar pun berubah haluan, yang awalnya menghujat guru jadi membela.
“Apakah salah jika guru ikut makan. Seharusnya memang guru ikut makan supaya meyakinkan anak-anak yang gamau makan, supaya makan bareng mereka dan menghidupkan suasana pas makan,” tulis salah satu warganet.
“Perasaan jadi guru salah mulu , apa-apa dikit dikomen,” balas yang lain.
“Ini memang riil fakta di lapangan ya. Suami saya juga guru. Dan sering terjadi anak-anak didiknya menyisihkan makanan MBG-nya dengan berbagai alasan. Akhirnya guru-guru lah yang harus memenej makanan-makananm tersebut,” komen warganet sesuai pengalaman pribadinya.
“Rp 15 ribu buat guru dijulidin, noh snack rapat anggota dewan Rp 117rb/orang,” timpal yang lainnya menyoroti isu sosial para wakil rakyat.
Guru Jadi Contoh, Bukan Tersangka
Guru seharusnya nggak perlu takut dicurigai saat membantu menghabiskan makanan. Justru dengan sikap itu, mereka memberi contoh bahwa menghargai makanan adalah kewajiban.
Tuduhan “ambil hak siswa” jelas nggak berdasar, karena sistem MBK memang nggak dirancang untuk mempersulit murid. Semua sudah dihitung dan tersedia dengan porsi aman.
Andai masih tersisa, bisa jadi ada murid yang absesn atau malah menolak MBG dan memilih bekal yang sudah dibawa sendiri dari rumah. Banyak situasi yang akhirnya membuat jatah MBG tersisa dan nggak semua orang paham hal ini.
Baca Juga
-
Fenomena Green Consumerism: Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Belanja?
-
Setelah Juara Langsung Jadi Manusia Silver: Kutukan Ganda Putra Indonesia?
-
Dari Tumbler ke Paylater: Kontradiksi Gaya Hidup Ramah Lingkungan Anak Muda
-
Saat Stres dan Belanja Mulai Sulit Dipisahkan, Paylater Jadi Pelarian?
-
Australian Open 2026: Wajah Indonesia Terselamatkan Gelar Tunggal Putra
Artikel Terkait
-
Flexing Nepo Kids Bikin Rakyat Murka: Kisah di Balik Demo Berdarah Nepal
-
2 Keberanian Menkeu Purbaya di Mata Ernest Prakasa: MBG Perlu Dievaluasi dan Ungkap Penyebab Demo
-
Apa Saja Isi Tuntutan Demo Nepal? Bikin Presiden dan Perdana Menteri Mundur
-
Hijau Jadi Tempat Aman: Kenapa Gen Z Lebih Nyaman Cerita di Close Friend?
-
Blusukan Gibran Picu Instruksi Tito, Jhon: Kenapa Malah Warga yang Diminta Jaga Keamanan?
News
-
IHR: Naga Sembilan Rebut Piala Paku Alam, Karnaval Meriah dan Inul Daratista Hibur Ribuan Penonton
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
KB Gantari dan Ruang Creative Jadi Ruang Anak Tumbuh Kreatif Lewat Bermain
-
Tiga Hal Saja, dan Itu Sudah Lebih Dari Cukup
-
Zuri Hotel Management Gelar Donor Darah Serentak di Berbagai Wilayah Indonesia
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Duel Senegal Vs Prancis dan Sepenggal Kenangan Masa Remaja yang Mengecewakan
-
Karya Legendaris Idrus: Menelanjangi Luka Sejarah dan Trauma Zaman Jepang
-
Lenovo IdeaPad Slim 5i Gen 9: Laptop Tipis, Performa Buas untuk Kerja dan Kuliah
-
Rayakan 10 Tahun Tayang, Drakor Love in the Moonlight Siapkan Acara Spesial
-
Evaluasi Barikade Demonstrasi: Belajar Merawat Demokrasi dari Korea Selatan