Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi kumpul keluarga saat Lebaran (Pexels/Alfatah Bilal Afdam)
e. kusuma .n

Lebaran selalu datang dengan dua hal yang tak pernah absen, aroma opor ayam yang menggoda dan daftar pertanyaan klasik yang terasa semakin tajam dari tahun ke tahun. Dulu, saat masih kecil, Lebaran adalah tentang baju baru, amplop THR, dan berkumpul tanpa beban.

Sekarang, sebagai orang dewasa, ada satu “menu tambahan” yang hampir selalu tersaji di ruang tamu. Bukan lagi silaturahmi atau berbagi THR, tetapi ajang interogasi sosial yang dibungkus basa-basi.

“Sekarang kerja apa?”

“Kapan nikah?”

“Sudah ada calon belum?”

“Kalau sudah nikah, kapan nambah momongan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering dilontarkan dengan senyum hangat. Namun, entah kenapa terasa seperti ujian lisan yang harus dijawab dengan benar agar dianggap “lulus” dalam hidup.

Saya pernah ada di titik di mana saya mempersiapkan jawaban-jawaban itu sebelum datang ke acara keluarga di momen Lebaran. Seolah-olah Lebaran bukan hanya tentang momentum silaturahmi, tapi juga tentang mempertanggungjawabkan hidup saya di hadapan keluarga besar.

Jawaban harus terdengar meyakinkan, tidak boleh ragu, dan sebisa mungkin membanggakan. Situasi ini seolah memberi tekanan dan beban saat berkumpul dengan keluarga. Yah, tampaknya ini juga menjadi masalah klasik tahunan bagi semua orang.

Masalah Klasik, Haruskah Dinormalisasi?

Meski menjadi masalah klasik, tapi pertanyaan yang terkesan memojokkan ini tidak seharusnya dinormalisasi. Masalahnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai timeline yang dianggap “ideal” oleh masyarakat.

Ada yang di usia tertentu belum menikah, bukan karena tidak laku, tapi karena masih berproses memahami diri sendiri. Ada yang belum punya anak, bukan karena tidak ingin, tapi karena ada hal-hal yang tidak sesederhana itu untuk dijelaskan di meja makan.

Ada yang pekerjaannya tidak “terlihat keren”, tapi justru sedang berjuang membangun sesuatu yang berarti. Ada yang sedang tidak baik-baik saja dan ingin berkumpul dengan keluarga, tapi jadi ragu karena takut diserang pertanyaan ini.

Namun, di momen Lebaran, semua kompleksitas itu sering diringkas menjadi satu kalimat sederhana: “Kok belum?”. Di situlah saya mulai melihat bahwa pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi, tapi bagian dari fenomena sosial yang lebih besar.

Kita hidup dalam masyarakat yang masih sangat menilai keberhasilan dari pencapaian yang terlihat, seperti pekerjaan tetap, pernikahan, dan anak. Seolah-olah hidup punya checklist yang harus dicentang satu per satu, dan jika ada yang terlewat, maka ada yang “salah”.

Realitas Sosial yang Beragam

Fenomena yang masih tumbuh subur tadi seharusnya mulai di-cut off. Terlepas dari tujuan bertanya, faktanya realitas sosial setiap orang sangatlah beragam.

Saya punya teman yang memilih fokus karier terlebih dahulu karena ingin membantu keluarganya secara finansial. Ada juga yang memilih tidak menikah dulu karena masih ingin menyembuhkan luka masa lalu. Bahkan ada yang sudah menikah tapi memilih menunda punya anak karena alasan kesiapan mental dan ekonomi.

Sayangnya, pilihan-pilihan ini sering tidak mendapat ruang yang cukup untuk dipahami. Yang muncul justru standar tunggal yang dipaksakan kepada semua orang tanpa melihat konteks masing-masing.

Dari situ, saya belajar bahwa pertanyaan-pertanyaan Lebaran sebenarnya bukan tentang kita sepenuhnya. Sering kali, itu adalah refleksi dari cara pandang generasi sebelumnya terhadap kehidupan. Mereka tumbuh di masa di mana jalur hidup lebih “linear” tentang sekolah, kerja, menikah, punya anak. Maka, wajar jika mereka menganggap itu sebagai ukuran normal.

Dunia Sudah Berubah

Namun, dunia sudah berubah. Hari ini, hidup terasa lebih kompleks. Pilihan lebih banyak, tapi tantangan juga lebih besar. Stabilitas finansial tidak selalu mudah dicapai. Kesehatan mental menjadi perhatian yang semakin penting. Dan hubungan pun tidak lagi sekadar soal “cepat-cepat menikah”, tapi tentang kesiapan dan kualitas.

Di tengah perubahan ini, benturan antara ekspektasi lama dengan realitas baru menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Momentum Lebaran pun sering menjadi panggung yang sialnya terus terjadi dari tahun ke tahun dan generasi ke generasi.

Lalu, Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapinya?

Saya sempat merasa kesal, bahkan defensif. Namun, seiring waktu, saya mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda. Saya mulai memahami bahwa tidak semua pertanyaan dimaksudkan untuk menghakimi. Sebagian hanya bentuk kepedulian yang disampaikan dengan cara yang kurang tepat.

Namun, memahami bukan berarti harus selalu menoleransi tanpa batas. Saya belajar untuk membuat batasan dengan cara yang tetap sopan. Kadang cukup dengan jawaban singkat dan senyum. Kadang dengan mengalihkan topik. Dan di momen tertentu, saya juga berani menjelaskan bahwa hidup tidak selalu bisa disederhanakan menjadi satu pertanyaan.

Tentang Esensi Lebaran

Lebaran akhirnya mengajarkan saya dua hal penting. Pertama, tentang penerimaan diri, bahwa perjalanan hidup saya tidak harus sama dengan orang lain. Tidak apa-apa jika belum mencapai hal-hal yang dianggap “wajib”, selama saya tahu arah yang saya tuju.

Kedua, tentang empati, bahwa suatu hari nanti saya juga bisa berada di posisi yang sama, menjadi orang yang bertanya kepada generasi berikutnya. Dan saya tidak ingin mengulang pola yang sama pada generasi selanjutnya. 

Mungkin, daripada bertanya “kapan nikah?”, kita bisa mulai dengan “apa kabar?” dan benar-benar mendengarkan jawabannya. Daripada “kapan punya anak?”, mungkin kita bisa bertanya “lagi sibuk apa sekarang?” dengan rasa ingin tahu yang tulus.

Karena pada akhirnya, Lebaran seharusnya bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai “standar hidup”, tapi tentang kembali, bukan hanya ke rumah, tapi juga ke rasa kemanusiaan yang lebih hangat dan penuh pengertian.

Dan mungkin, dari situlah kita bisa mulai mengubah tradisi, dari menghakimi menjadi memahami agar momen kekeluargaan ini bisa tetap hangat tanpa ada satu anggota keluarga yang tertekan.