Pagi itu di sebuah kampung di kaki pegunungan Aceh, suara air masih terdengar berat, seolah masih menyimpan amarah. Lumpur pun mengering di dinding rumah, menyisakan garis kecoklatan setinggi dada orang dewasa. Harun masih termenung di depan rumahnya yang sudah setengah runtuh dan dipenuhi lumpur. Ia juga menatap ke arah sungai yang beberapa hari lalu berubah menjadi air yang menakutkan. Ia selamat, begitu pula keluarganya. Namun jiwanya, sama seperti warga yang lain, masih tertinggal di malam bencana itu.
Bencana banjir bandang dan longsor tidak hanya merenggut keluarga, rumah, ternak bahkan ladang. Tapi juga merenggut rasa aman yang dalam hitungan jam berubah menjadi kepanikan yang menyeramkan. Suara gemuruh tanah, gelonggong kayu yang terbaru arus derasnya sungai seketika menjadi ingatan yang berulang di kepala.
Aceh bukan wilayah asing dengan bencana. Sejarah panjang gempa dan tsunami telah membentuk ketangguhan seluruh warganya. Namun, meskipun begitu setiap bencana tetaplah menjadi pengalaman baru dan pasti mengguncang. Tidak ada yang siap dengan bencana, tidak ada pula yang tahu kapan bencana itu datang, dan tidak ada yang siap juga untuk kehilangan keluarga, rumah, harta benda. Selain membutuhkan bantuan pemulihan emosi pascabencana, percepatan pembangunan infrastruktur pun menjadi hal yang utama karena kehidupan masih harus terus berjalan.
Melalui bantuan pemerintah, sebagian penanganan infrastruktur sudah dilaksanakan secara bertahap. Mulai dari fase tanggap darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Mulai dari bantuan alat berat untuk membersihkan sisa lumpur yang mengerak, layanan sanitasi dan ketersediaan air bersih. Saya percaya bahwa percepatan bantuan infrastruktur adalah bentuk empati yang paling nyata. Karena empati bukan hanya soal mendengar keluh kesah tetapi bertindak dan meringankan beban.
Ketika alat berat segera diturunkan, ketika jalan mulai terbuka dan jembatan mulai bisa dilewati, disitulah warga merasakan bahwa mereka tidak diabaikan. Kehadiran pemerintah dan instansi terkait terasa bukan hanya sekedar kata-kata tapi juga kerja nyata.
Namun percepatan perbaikan infrastruktur ini tidak boleh tergesa-gesa. Karena pembangunan kembali harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Agar bisa meminimalisir dampak dan risiko apabila di hadang bencana longsor di masa yang akan datang. Jalan harus kuat, jembatan harus tangguh, disertai dengan tanggul yang kokoh sehingga dapat menghadapi debit air yang ekstrem.
Pada akhirnya percepatan bantuan infrastruktur pascabencana ini bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak, tetapi tentang memulihkan emosi manusia. Di balik setiap jalan yang terbuka, ada anak yang kembali ke sekolah, ada ayah yang bisa bertemu kembali dengan keluarganya, dan ada keluarga yang bisa melihat kembali rumahnya. Bukan untuk saat ini, tapi ini tentang membangun masa depan.
Aceh telah berkali-kali bangkit dari bencana. Namun setiap proses kebangkitan itu membutuhkan lebih dari sekedar ketangguhan warganya saja tapi butuh kehadiran para pemangku kepentingan yang cepat, empatik dan berpihak. Sebab diantara puing dan penantian percepatan infrastruktur adalah jembatan menuju harapan baru.
Harapan baru di tahun baru. Awal 2026 ini menjadi awal yang menggembirakan. Masyarakat Aceh bisa sedikit demi sedikit pulih melalui dukungan dari Bina Marga yang berkomitmen mendukung konektivitas dengan memulihkan 10 titik jembatan yang terdampak secara bertahap.
Kolaborasi intensif antara Kementerian PU Bersama jajaran TNI dan Polri ini mempercepat proses pembersihan material pascabencana. Jembatan Lawe Mengkudu 1 misalnya, yang kini menjadi urat nadi utama bagi Masyarakat dalam menjalankan aktivitas harian. Sudah bisa dilalui secara normal sehingga warga bisa memulai kembali aktivitas ekonomi yang sempat terhenti. Kedepannya petugas akan memastikan bahwa seluruh jalur strategis di Aceh bisa terhubung kembali secara fungsional dengan kepentingan Masyarakat luas khususnya yang terdampak.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Padang Pulih: Menanti Matahari dan Kembali Bangkitnya Ranah Minang
-
Banjir yang Berulang: Peringatan Sistemik yang Tak Kunjung Didengar
-
Kejar Target Sebelum Ramadan, Satgas Galapana DPR RI Desak Sinkronisasi Data Huntara di Aceh
-
Peta Aceh Harus Digambar Ulang, Desa-Dusun di 7 Kabupaten Hilang Diterjang Bencana
-
Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang
News
-
Padang Pulih: Menanti Matahari dan Kembali Bangkitnya Ranah Minang
-
Keistimewaan Jembatan Kabanaran: Infrastruktur Unik Penghubung Bantul-Kulon Progo
-
Tren Skincare Minimalis 2026, Perawatan Lebih Sederhana Kulit Lebih Sehat
-
Jadwal Lebaran dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah Berdasarkan Maklumat Terbaru
-
Jurnalisme di Era Sosial Media Apakah Masih Relevan?
Terkini
-
5 Facial Foam untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat, Bebas Rasa Ketarik!
-
X-Men Kembali! Teaser Avengers: Doomsday Tampilkan Xavier, Magneto, Cyclops
-
Manohara Ungkap Putus Kontak dengan Ibu: Tak Ingin Dieksploitasi?
-
Penampilan Baru Vidi Aldiano Berkumis di Tengah Hiatus Curi Perhatian
-
Fenomena Brondong Dekati Janda: Apa Tips Sukses Asmara Beda Usia?