M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi Kumpul Lebaran (Pexels/Cedric Fauntleroy)
Yayang Nanda Budiman

Lebaran selalu dipahami sebagai momen kembali ke akar. Ia menghadirkan kehangatan keluarga, saling memaafkan, serta ruang perjumpaan yang jarang terjadi pada hari-hari biasa. Namun, di balik suasana yang seharusnya menenangkan itu, terselip tekanan sosial yang kerap luput disadari. Pertanyaan-pertanyaan klise seperti "kapan menikah", "sudah kerja di mana", atau "kapan punya anak" sering kali menjadi bagian tidak terpisahkan dari percakapan.

Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terdengar ringan, bahkan dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, bagi yang berada di posisi menerima, hal tersebut dapat menjadi beban psikologis. Lebaran yang seharusnya menjadi ruang pemulihan justru berubah menjadi arena evaluasi sosial yang tidak selalu adil.

Fenomena ini bukan hal baru. Hal ini berulang dari tahun ke tahun, seolah menjadi tradisi yang tidak pernah benar-benar dipertanyakan. Padahal, di balik kesederhanaannya, terdapat dinamika sosial yang kompleks.

Budaya Basa-basi dan Standar Sosial

Pertanyaan klise saat Lebaran berakar dari budaya basa-basi yang telah lama mengakar dalam masyarakat. Dalam banyak situasi, percakapan ringan dianggap sebagai cara untuk mencairkan suasana. Namun, ketika topik yang diangkat menyentuh aspek personal, basa-basi dapat berubah menjadi tekanan.

Masalahnya terletak pada standar sosial yang digunakan sebagai tolok ukur. Pernikahan, pekerjaan, dan memiliki anak sering dianggap sebagai indikator keberhasilan hidup. Akibatnya, pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut membawa implikasi penilaian.

Dalam konteks ini, Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, melainkan juga ruang di mana norma sosial ditegaskan kembali. Individu yang belum memenuhi ekspektasi tersebut kerap merasa "tertinggal", meskipun setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Lebih jauh lagi, standar ini sering kali tidak mempertimbangkan kompleksitas realitas. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun kondisi personal. Pertanyaan yang tampak sederhana bisa menjadi pengingat atas tekanan yang sedang dihadapi.

Dampak Psikologis yang Kerap Diabaikan

Tekanan sosial dari pertanyaan klise memiliki dampak yang nyata, meskipun sering tidak terlihat. Rasa cemas, tidak percaya diri, hingga perasaan tidak cukup baik dapat muncul sebagai respons.

Bagi individu yang sedang berjuang mencari pekerjaan, pertanyaan tentang karier bisa terasa seperti sorotan yang menyakitkan. Bagi yang belum menikah, pertanyaan tentang pasangan dapat memicu rasa tertekan. Sementara itu, bagi pasangan yang belum memiliki anak, pertanyaan serupa dapat menyentuh aspek yang sangat sensitif.

Dampak ini tidak selalu muncul secara langsung. Hal ini bisa terakumulasi dari waktu ke waktu, membentuk tekanan yang semakin besar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental.

Ironisnya, tekanan ini sering kali tidak diakui. Karena dibungkus dalam konteks kekeluargaan, banyak orang merasa tidak berhak untuk merasa terganggu. Mereka memilih untuk tersenyum, meskipun di dalam hati merasa tidak nyaman. Di sinilah pentingnya memahami bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Pertanyaan yang dimaksudkan sebagai bentuk perhatian bisa saja diterima sebagai bentuk penilaian.

Membangun Ruang Lebaran yang Lebih Empatik

Mengurangi tekanan sosial saat Lebaran bukan berarti menghilangkan percakapan, melainkan mengubah cara kita berinteraksi. Empati menjadi kunci utama dalam membangun ruang yang lebih nyaman.

Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak semua hal perlu ditanyakan. Privasi adalah bagian dari penghormatan terhadap individu. Jika ragu, memilih topik yang netral dapat menjadi alternatif yang lebih aman.

Kedua, penting untuk menggeser fokus dari penilaian ke penghargaan. Alih-alih menanyakan pencapaian, kita dapat mengekspresikan dukungan. Kalimat sederhana seperti "semoga selalu sehat" atau "semoga dimudahkan" dapat menciptakan suasana yang lebih positif.

Ketiga, bagi yang berada di posisi menerima, penting untuk membangun batasan. Tidak semua pertanyaan harus dijawab secara rinci. Menjawab dengan singkat atau mengalihkan topik adalah cara yang sah untuk menjaga kenyamanan diri.

Lebih luas lagi, fenomena ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali makna Lebaran. Apakah ia sekadar ajang berkumpul atau ruang untuk saling menguatkan? Lebaran seharusnya menjadi momen di mana setiap individu merasa diterima, bukan dihakimi. Kehangatan yang dihadirkan tidak hanya berasal dari kebersamaan fisik, melainkan juga dari rasa aman secara emosional.

Pada akhirnya, perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Ia dapat dimulai dari percakapan sederhana yang lebih bijak. Dengan demikian, Lebaran tidak lagi menjadi sumber tekanan, melainkan benar-benar menjadi ruang pulang yang menenangkan.