M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi Ramadan di era digital (Pexels/RDNE Stock project)
e. kusuma .n

Ramadan identik dengan suasana khusyuk, refleksi diri, dan peningkatan ibadah. Namun, di era media sosial, nuansa bulan suci terasa sedikit berbeda. Lini masa dipenuhi konten ngabuburit estetik, OOTD bukber, video bagi-bagi takjil, hingga dokumentasi sedekah yang dikemas secara sinematik.

Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: di tengah derasnya arus digital, apakah Ramadan masih murni tentang ibadah atau perlahan berubah menjadi panggung pencitraan?

Media sosial memang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X memungkinkan siapa saja membagikan momen personal, termasuk aktivitas selama Ramadan. Di satu sisi, hal ini bisa menjadi sarana dakwah dan inspirasi. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang niat yang bergeser: apakah kita berbagi untuk menginspirasi atau sekadar ingin dilihat dan divalidasi?

Fenomena Ramadan yang "Instagramable"

Selama bulan puasa, konten bertema Ramadan meningkat drastis. Mulai dari video sahur estetik, tutorial menu berbuka, hingga dokumentasi aktivitas sedekah pun tidak luput dari sorotan kamera. Tidak sedikit konten berbagi yang sebenarnya membawa dampak positif. Melihat orang lain berbagi bisa memicu semangat untuk ikut berbuat baik. Algoritma media sosial bekerja dengan memperluas jangkauan konten yang menarik sehingga pesan kebaikan dapat menyebar lebih luas.

Dari sisi ini, media sosial menjadi alat dakwah modern yang efektif. Namun, persoalannya muncul ketika batas antara berbagi dan pamer menjadi kabur. Ketika setiap kebaikan harus direkam, diedit, dan diunggah, muncul pertanyaan apakah ini tentang makna ibadah atau impresi publik?

Ibadah dan Validasi Sosial

Dalam psikologi sosial, manusia secara alami membutuhkan validasi. Kita ingin diakui, diapresiasi, dan dianggap baik oleh lingkungan. Media sosial memperkuat kebutuhan ini melalui fitur like, komentar, dan share hingga setiap notifikasi memberi rasa kepuasan tersendiri.

Di bulan Ramadan, dorongan untuk terlihat religius bisa meningkat. Orang berlomba-lomba menunjukkan rutinitas ibadah, target khatam Al-Qur'an, hingga kegiatan sosial. Tidak salah membagikan perjalanan spiritual, tetapi ketika fokus bergeser pada angka engagement, makna ibadah bisa tereduksi. Ramadan sejatinya adalah momen untuk memperbaiki hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama. Jika ibadah justru dilakukan demi citra di ruang digital, ada risiko kehilangan esensi keikhlasan.

Antara Inspirasi dan Pencitraan

Tidak semua konten Ramadan bisa langsung dicap sebagai pencitraan. Banyak kreator yang tulus berbagi ilmu agama, tips menjaga konsistensi ibadah, atau pengingat spiritual yang relevan dengan kehidupan anak muda. Konten semacam ini justru membantu generasi digital untuk lebih dekat dengan nilai-nilai keagamaan.

Masalah muncul ketika konten lebih menonjolkan estetika daripada substansi. Misalnya, sedekah yang direkam tanpa mempertimbangkan privasi atau malah menjadi strategi branding personal. Di era personal branding, citra diri memang menjadi aset. Namun, Ramadan bukan sekadar momentum membangun reputasi sebagai "pribadi religius". Ada garis tipis antara berbagi inspirasi dan memanfaatkan momen suci demi popularitas.

Gen Z dan Tekanan Sosial Digital

Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, media sosial adalah ruang utama interaksi. Ramadan pun tidak lepas dari tekanan sosial digital. Ketika melihat teman-teman mengunggah kegiatan positif, muncul rasa tertinggal atau FOMO (fear of missing out). Akibatnya, ada dorongan untuk ikut memamerkan aktivitas religius agar tidak dianggap kurang baik.

Tekanan ini bisa berdampak pada kesehatan mental. Alih-alih fokus memperbaiki diri, seseorang justru sibuk membandingkan perjalanan spiritualnya dengan orang lain. Padahal, ibadah bersifat personal dan setiap orang memiliki proses yang berbeda. Ramadan seharusnya menjadi ruang refleksi, bukan kompetisi. Tidak ada standar untuk menentukan siapa yang lebih saleh, dan kualitas ibadah tidak bisa diukur dari seberapa rapi feed Instagram atau konten dakwah viral.

Menemukan Makna di Tengah Sorotan Digital

Ramadan di era media sosial adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Teknologi bukan musuh, melainkan alat, dan yang menentukan nilainya adalah bagaimana kita menggunakannya. Di tengah sorotan kamera dan notifikasi yang terus berdenting, tantangan terbesar justru ada pada hati. Apakah kita masih mampu beribadah tanpa perlu disaksikan? Apakah kita tetap konsisten berbuat baik meski tidak ada yang tahu?

Keikhlasan memang tidak terlihat, tidak bisa diukur dengan jumlah like atau komentar. Namun, justru di situlah esensi Ramadan berada. Bulan suci ini mengajarkan pengendalian diri, termasuk mengendalikan ego yang ingin diakui. Pada akhirnya, Ramadan bukan tentang seberapa indah kita menampilkan ibadah, tetapi seberapa dalam kita memaknainya. Di era media sosial, mungkin yang paling sulit bukan menahan lapar dan haus, melainkan menahan keinginan untuk selalu terlihat baik sebagai ujian yang sesungguhnya.