Bimo Aria Fundrika | M. Iqbal
Situasi insfratruktur kembali membaik pascabencana Sumatra (Suara.com)
M. Iqbal

Tanggal 26 November 2025 menjadi hari yang sangat kelam bagi Sumatra, termasuk Aceh. Dalam kurun waktu satu minggu, dua siklon kuat terbentuk dan memicu rangkaian bencana. Sebagai orang yang merasakan langsung dampak banjir tersebut, rasanya kami tak lagi melihat langit yang terang.

Awan hitam dan angin kencang menyelimuti langit selama berhari-hari, menciptakan petaka besar yang menakutkan bagi warga Sumatra.

Seolah bencana dan krisis baru benar-benar dimulai saat banjir datang. Hari-hari mencekam bermula pada malam Kamis, ketika listrik mulai padam. Pasokan listrik Aceh yang berasal dari Sumatra Utara terputus. Banyak desa terjebak banjir, tetapi informasi sulit diakses karena jaringan internet lumpuh. Saya baru memperoleh kabar setelah berhasil mendapatkan pasokan listrik dan internet di kantor. Saat itulah saya sadar, bencana besar sedang menghantui.

Sebagai warga yang tinggal di Banda Aceh, hanya beberapa titik yang terdampak banjir. Namun, kondisinya sangat berbeda di wilayah lain seperti Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, hingga Gayo Lues. Daerah-daerah tersebut merasakan dampak yang jauh lebih besar. Puluhan ribu hektare tutupan hutan telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan kawasan pembukaan hutan.

Ketika siklon yang kala itu seolah menetap lama di daratan Sumatra datang, bencana pun tak terelakkan. Perubahan tutupan lahan menyebabkan rusaknya fungsi hidrologis hutan. Kemampuan tanah menyerap air menurun drastis dan memicu aliran permukaan yang bersifat destruktif.

Tanah di hulu tak mampu lagi menampung debit air besar dan akhirnya meluapkannya ke sungai. Banjir bandang pun seakan siap datang, dipicu kombinasi hujan deras di hulu dan kayu gelondongan yang terbawa arus.

Banyak desa di wilayah hilir terdampak secara nyata. Mereka tidak hanya diterjang air bah, tetapi juga dihantam kiriman kayu gelondongan berukuran besar yang menghancurkan permukiman serta memutus akses jalan dan jembatan.

Banjir berlangsung lama, terutama di Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Air baru surut pada 1 Desember, sementara banjir telah terjadi sejak 26 November. Artinya, banyak warga harus bertahan hidup selama lima hari di atas genteng rumah, pertokoan, dan tempat-tempat tinggi. Mereka kedinginan, kelaparan, dan kekurangan air bersih—pengalaman memilukan yang seharusnya diketahui semua orang tentang betapa pedihnya bencana Sumatra, dengan Aceh sebagai salah satu wilayah terdampak terparah.

Pengalaman Besar Menghadapi Tsunami Kedua

antrian BBM pasca banjir

Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf (Mualem), menyebut Banjir Sumatra sebagai tsunami kedua. Alasannya, cakupan wilayah terdampak jauh lebih luas dan kompleks. Banjir ini melanda tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan luas terdampak yang disebut setara dengan Pulau Jawa. Bencana ini dapat dikatakan sebagai peristiwa luar biasa karena melibatkan siklon dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama.

Bagi saya, pernyataan tersebut sangat tepat. Saya adalah saksi hidup tsunami 2004 dan Banjir Sumatra 2025. Meski tidak terdampak langsung oleh banjir, penderitaan akibat Banjir Sumatra terasa sangat pedih dan berkepanjangan. Selama hampir dua minggu, kami hidup dalam gelap tanpa penerangan. Bahan bakar minyak langka, sementara harga kebutuhan pokok melonjak tajam.

Pada peristiwa gempa dan tsunami 2004, bencana merenggut ratusan ribu nyawa dalam waktu singkat. Namun, hanya dalam hitungan dua hari, bantuan kemanusiaan mulai berdatangan. Para pengungsi mendapatkan makanan layak, air bersih, serta tempat penampungan dengan dapur umum yang berfungsi.

Berbeda dengan banjir kali ini. Pemerintah terkesan tidak peka dan lamban mengambil tindakan. Tidak adanya penetapan status bencana nasional membuat beban penanganan ditanggung daerah dengan dukungan pusat yang terbatas, padahal cakupan wilayah terdampak sangat luas, akses infrastruktur rusak di banyak titik, dan sebagian lokasi berada di daerah terpencil.

Pada tsunami 2004, wilayah terdampak berada di pesisir sehingga akses laut menjadi opsi paling memungkinkan untuk menjangkau desa-desa. Sementara dalam banjir kali ini, banyak desa berada di wilayah hulu yang sulit diakses melalui jalur darat. Upaya penjangkauan hanya memungkinkan melalui bantuan udara untuk mencapai daerah-daerah pelosok.

Selain itu, banjir membutuhkan waktu lama untuk surut. Berbeda dengan tsunami yang airnya kembali ke laut pada hari yang sama tanpa meninggalkan endapan lumpur tebal. Banjir justru menyisakan endapan lumpur padat yang menutupi permukiman. Banyak desa terendam lumpur basah hingga mengeras, seolah menghilang dari peta. Bahkan, sejumlah alur sungai berubah dan membentuk jalur baru. Ini adalah pengalaman yang saya saksikan langsung, ketika derasnya arus air membuka jalan sendiri dan menjadikan desa-desa sebagai korbannya.

Bencana Banjir Sumatra dalam Data

banjir sumatra

Selama hampir 3 minggu saya ditugaskan satu dari bagian banyak orang yang menginput data bencana hidrometeorologi. Untuk Provinsi Aceh, ada sebanyak 543 orang meninggal dunia, 474 mengalami luka berat akibat bencana. Lalu ada sebanyak 214.084 jiwa terpaksa mengungsi yang berasal dari 56.777 KK. Sedangkan yang terdampak secara tak langsung mencapai 2.583.376 jiwa atau hampir separuh penduduk Aceh merasakannya terutama dampak ekonomi. Bahan baku langka, terutama BBM dan sembako.

Banjir juga menghantam sumber penghidupan warga. 144.942 rumah rusak, menandai skala kehilangan tempat tinggal yang masif. Sektor ekonomi rakyat ikut terpukul berat karena ada sebanyak 63.187 ekor ternak hilang atau mati, 53.519 hektare sawah terendam dan berubah wujud, 39.910 hektare tambak rusak dan 27.620 hektare kebun terdampak. Perih saat melewati sejumlah sawah hijau, perkebunan kopi warga, hingga tambak yang harus berubah wujud dalam sepekan saja.

Lalu ada banyak desa yang seakan rusak dan terdampak yakni 3038 di 200 kecamatan. Di dalam semua itu yang paling penting fasilitas umum yang harus segera diperbaiki. Sebab ada fasum ini mampu menunjang masyarakat pasca banjir kini telah tiada. Itu mulai dari pondok pesantren sebanyak 670 unit, 1.027 sekolah, 638 tempat ibadah, 468 jembatan, 227 kantor pemerintah, hingga RS/PKM berjumlah 150 unit.

Data ini menunjukkan bahwa banjir bukan hanya krisis kemanusiaan, tetapi juga krisis pangan dan ekonomi jangka panjang. Sebagai orang yang sudah terjun langsung ke lapangan pasca banjir, saya sudah pergi ke Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, hingga Aceh Tamiang. Hal paling dibutuhkan para pengungsi pasca banjir tentu saja pasokan logistik secepat mungkin. Di sana mulai dari sembako, peralatan mandi, air bersih hingga pakaian buat balita dan ibu. Mereka kedinginan berhari-hari menunggu bantuan tiba.

Membuka Akses, Menjangkau Daerah Terisolir

jembatan kutablang

Sebagai ASN, saya sempat menjadi relawan di minggu awal hingga beberapa hari lalu. Sudah 3 kali saya pergi ke sejumlah wilayah yang terdampak. Meskipun belum menjangkau hingga ke semua lokasi yang terdampak khususnya mengantarkan pasokan makanan dan logistik lainnya. Kendala utama dari Banda Aceh yakni hanya terbatas sampai di Kuta Blang, Bireuen. Selebihnya tidak bisa sebab jembatan utama Kuta Blang putus diterjang banjir bandang.

Alhasil bantuan hanya menjangkau sejumlah wilayah terdampak seperti di Pidie Jaya dan Bireuen saja. Bila ingin mengantarkan logistik harus menggunakan boat nelayan setempat. Jelas sulit apalagi tak ada kendaraan penghubung yang bisa mengantarkan sampai ke tujuan. Saat bencana banjir terjadi, fasum paling krusial untuk segera diperbaiki tentu saja jalan dan jembatan. Ada banyak jalanan yang rusak parah. Apakah itu putus, tertimbun lumpur hingga terkelupas aspalnya.

Di sinilah peran Bina Marga jadi sangat krusial. Jalan dan jembatan tak sebatas urusan infrastruktur fisik melainkan urat nadi kemanusiaan saat bencana terjadi. Tanpa akses darat yang memadai, drop logistik terhambat dan banyak masyarakat di daerah yang kelaparan. Helikopter memang cepat tapi daya angkutnya terbatas dan biayanya jauh lebih mahal.

Berbagai cara dilakukan dalam percepatan ini dan saya melihat langsung meskipun ini butuh waktu yang sangat lama. Misalnya penanganan proses percepatan jalan yang putus dengan mengerahkan alat berat, pembersihan material lumpur yang menggenangi hingga pembangunan jembatan darurat (Bailey) yang mampu menghubungkan ke sejumlah daerah yang terisolir.

Ada sejumlah jembatan darurat sementara yang telah siap, jembatan Bailey ini menghubungkan ke sejumlah terisolir. Misalnya saja buat warga Bireuen yang mau menyeberang di Jembatan Kuta Blang harus memilih jalan alternatif yang agak jauh yakni ke Awe Geutah. Di sana sudah ada jembatan alternatif yang bisa dilalui sementara meskipun agak jauh, minimal sudah bisa membawa kendaraan terutama logistik. Selain itu juga, Jembatan di Juli daerah Bireuen sudah diselesaikan sehingga masyarakat sekitar bisa ke Kota Bireuen maupun sebaliknya.

Akses ke Bener Meriah dan Aceh Tengah yang paling memilukan. Ada dua akses untuk ke sana yakni via Bireuen dan Simpang KKA alias melalui Gunung Salak. Keduanya sudah bisa dilalui meskipun sistem buka tutup, misalnya saja via Bireuen yakni Kilometer 60, Kec. Pintu Rime Gayo, Jembatan Tenge Besi, penghubung Kec. Gajah Putih dan Pintu Rime Gayo dan Jembatan Umah Besi, Kec. Gajah Putih. Daerah ini punya longsor paling besar dan terdampak.

Sedangkan via Jalan lintas KKA lebih dekat tapi terjal dan macet, sebab ada banyak badan jalan yang tertutup lumpur. Buat akses ke sana juga memerlukan kendaraan ekstra seperti motor trail atau kendaraan 4 x 4 agar bisa tiba. Di sini peran dari Bina Marga yakni membersihkan material lumpur, kayu, dan batu yang menutup badan jalan. Apalagi ini masih musim penghujan dan cuaca sulit ditebak karena banjir dan longsor bisa terjadi dalam hitungan sekejap.

Akses pertama yang bisa terbuka datang melalui Kab. Nagan Raya, ruas ini jadi pilihan alternatif saat via Lintas Bireuen dan Lintas KKA masih putus. Daerah yang terputus sebelumnya berada di Kec Celala Kuyun yang tertimbun material longsor parah. Berhasil pertama kali dibuka dan sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat dengan kapasitas tertentu. Bagi masyarakat Gayo, akses ini penting sekali sekaligus memutus rantai isolasi pasca bencana dan memudahkan pasokan bantuan dan keperluan warga.

Total ada 20 titik ruas longsor yang menutupi ruas ini terutama longsor, memang ada satu jembatan yakni di Beutong Ateuh, Di daerah Banggalang yang sudah dibuat ulang dengan metode jembatan Bailey. Ini melibatkan banyak pihak di dalamnya mulai dari petugas gabungan TNI, Polri, BNPB, PURP hingga masyarakat sekitar. Mereka rela bekerja dalam keterbatasan termasuk risiko mengintai dari longsoran susulan dan banjir bandang. Memastikan akses darurat bisa kembali terhubung dalam memudahkan pasokan logistik, pelayanan kesehatan, dan mobilitas warga Gayo.

Sejumlah daerah dari berita yang saya baca, misalnya saja di Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues mengandalkan Tali Sling terutama di desa-desa yang terisolir. Banyak masyarakat yang mengandalkan sistem ini karena akses jembatan masih terbatas dan daerahnya terisolir. Ada banyak tenaga medis yang berjibaku untuk tiba ke lokasi mengandalkan tali sling sembari jembatan atau akses lainnya terhubung. Saya pun mendengarkan langsung teman-teman medis yang berhasil menyeberang dengan tali sling, antar deg-degan pengalaman wahana flying fox dipadukan adrenalin buat membantu warga sekitar.

Sling cukup berguna dalam drop logistik ke desa-desa, bisa dibilang lebih murah tanpa harus membuat jembatan darurat. Ada orang yang siap menerima dan mengantarkan bantuan, selain itu juga konsep sling sudah lama digunakan buat di daerah yang terdampak bencana. Wujudnya tali Sling dan nantinya ada semacam kotak yang jadi tempat menaruh muatan yang ingin diseberangkan. Daerah seperti di Bener Meriah, pelosok Aceh Tengah hingga di Beutong sangat mengandalkan sistem ini. Cepat dan aman buat perpindahan barang dari info teman-teman di lapangan.

Selain itu, ada banyak lokasi banjir yang kembali banjir dan ini sangat menakutkan bagi masyarakat sekitar. Misalnya di Pidie Jaya sejak banjir akhir November lalu sudah dua kali didera banjir, Batee iliek di Pijay, Bireuen di Peudada sedangkan di Bener Meriah terutama di Lampahan, Pintu Rime Gayo dan sejumlah wilayah lain mengalami hal serupa.

Jembatan darurat yang sudah dibuat sering mengalami namanya Logjam atau penumpukan kayu pada sejumlah titik terutama jembatan. Ini berbahaya karena bisa merusak fasilitas yang sudah dibuat termasuk banjir bandang susulan. Di sini peran Bina Marga yakni membersihkan sejumlah akses dari logjam agar sungai saat banjir tidak terhambat dan membuka jalur baru dalam membuang air ke hilir.

Jembatan juga dibuatkan midstream atau barrier yang bisa menghambat kayu-kayu menghantam pinggiran jembatan. Pengalaman yang saya lihat di lapangan yakni banyak dari jembatan-jembatan tadi mengalami kerusakan parah akibat ditabrak kayu-kayu. 

Selain itu, ada tanggul yang melindungi kaki-kaki jembatan yang membuat saat sungai mengalami abrasi tidak mengikis pinggiran jembatan. Kita semua tak mau apa yang dibuat darurat ini kembali terhambat, ia rusak dikala alam masih cukup ganas untuk dijinakkan. Membuat sebaiknya untuk membuat masyarakat bisa beraktivitas kembali secara normal.

Bila akses sudah lancar, recovery jadi mudah dilakukan sebab harga-harga barang sudah kembali normal. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi bisa berjalan semestinya. Selama ini hal paling sulit tentu saja bagaimana barang-barang kebutuhan pokok bisa kembali normal dan tak ada lagi petani yang menempuh puluhan kilo hanya untuk membawa bahan pokok seperti cabai hingga sampai ke Kota Lhokseumawe.

Mereka bisa menggunakan kendaraan yang layak, bukan kaki-kaki yang telah lelah berjalan atau mendaki bukit longsor yang terjal. Nyawa mereka jadi taruhan, meskipun tak ada pilihan lain untuk bertahan tapi perbaikan sarana membantu mereka dan tak ada lagi korban jiwa. 

Selain itu juga, kini para petani telah diajak bekerja sama. Mereka tak perlu membawa turun hasil alam dari tanah Gayo hingga pesisir Aceh. Sejumlah bantuan relawan bisa disalurkan dengan metode tukar guling dengan sejumlah bantuan logistik. Nantinya hasil alam dari petani juga dijual dengan harga yang layak. Ada banyak yang rela menampung banyak hasil alam dan pesawat kargo pulangnya bisa membawa sejumlah hasil alam, tak lagi kosong. Ekonomi masyarakat terbantu dan mereka siap menata kembali hidup baru.

Pengalaman Menjadi Relawan di Aceh Tamiang

infrastruktur rendam lumpur

Mungkin Ibukota Kuala Simpang, Aceh Tamiang yang menyimpan pilu paling dalam. Bagaimana tidak di sana masyarakat merasakan penderitaan banjir paling kentara. Hampir sebulan setelah bencana, masih belum sepenuhnya pulih. Semua fasilitas umum rusak parah dan bisa dibilang Kota Kuala Simpang harus ditata ulang kembali seperti sedia kala. Tak ada yang tersisa apapun kecuali genangan lumpur pekat dan kerusakan yang sangat masif.

Pada Minggu ketiga saya menjadi orang yang merasakan bagaimana pedihnya masyarakat di sana. Tugas kami di sana memang tak lama, hanya tiga hari. Perjalanan dari Banda Aceh ke Kuala Simpang begitu sulit. Umumnya hanya ditempuh dalam waktu 9 jam, namun kondisi sepanjang jalan yang rusak parah seakan membuat perjalanan butuh waktu hingga 14 jam. Harus melalui jalan terjal menyerang Kabupaten Bireuen di Awe Geutah, sebab jembatan utama di Kuta Blang belum beroperasi kala itu.

Sepanjang jalan pemandangan pilu terlihat, melewati Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan baru memasuki Aceh Tamiang. Rasanya sangat pilu, ada banyak rumah terendam lumpur dan bahkan sebagian besar tak bisa digunakan. Mereka yang tinggal di tepi sungai, kini sungai telah mengubah rumah mereka jadi sungai baru yang sewaktu-waktu bisa meluap kapan saja ia mau.

Lalu sampai di Tamiang, daerah yang mulai gelap kala itu. Ada ada cahaya sedikitpun, namun dalam gelap itu ada banyak orang yang masih bertahan. Seakan berharap masa sulit ini bisa segera berlalu, satu hal bahwa mereka sabar. Meskipun saat kami tiba, kondisi sudah gelap. Karena tantangan sepenuhnya baru dimulai esok hari saat matahari terbit.

Di hari pertama di Tamiang kami bertugas untuk membersihkan fasilitas umum salah satunya kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat Gampong Provinsi Aceh Tamiang. Sebagai orang yang bekerja di DPMG Provinsi, membersihkan fasilitas umum dan perkantoran sangat penting. Banyak pekerja yang terdampak dan mereka tak punya peralatan yang memadai dalam menunjang kerja untuk pembersihan.

Inisiasi ini penting dan sangat membantu, semua tim bekerja sama membersihkan lokasi sehingga bisa layak digunakan dalam waktu dekat. Selain itu wujud kepedulian kita bersama pada daerah yang terdampak. Saya sangat senang bisa menjadi bagian meskipun harus menghabiskan waktu dua hari di jalan tapi itu wujud nyata dalam membantu sesama.

Sedangkan pada hari kedua, kami membagikan sejumlah peralatan salat dan Al-Quran di sejumlah lokasi mushola dan pesantren. Peralatan yang sangat dibutuhkan masyarakat, apalagi sebelumnya mushaf al-quran banyak yang rusak terendam air dan lumpur. Ini juga kepedulian kita pada korban yang bisa terhubung dengan ilahi.

Satu hal yang cukup cepat dan layak yakni sudah banyak dibangun rumah shelter sementara. Sebab di pengungsian berat sekali dan kami yang tidur di tenda saya kesulitan tidur selain lembab juga banyak sekali nyamuk yang menyerang terutama di malam hari. Adanya rumah sangat membantu para pengungsi untuk bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak.

Perjalanan Kedua ke Tamiang, Membersihkan Sekolah Agar Siswa Bisa Sekolah

membersihkan fasilitas umum di Tamiang

Di awal tahun 2026, saya lanjut kembali pergi ke Aceh Tamiang. Misinya hampir sama tapi difokuskan untuk melakukan pembersihan ke sejumlah fasilitas seperti sekolah. Sudah lebih 40 hari anak-anak di sana belum tak merasakan pergi sekolah. Di saat musim libur telah berakhir, mereka belum bisa ke sekolah. Memang pilu selain rumah mereka ada yang rusak, terendam hingga tak berwujud kembali. 

Sekolah seakan jadi ladang mereka untuk berbagi cerita dengan teman sekolah. Pilu hidup yang telah lama dirasakan selama banjir hingga di barak pengungsian, sekolah sekolah menjadi pelarian. Bisa duduk di kursi idaman, bisa bermain di lapangan olahraga, hingga ke perpustakaan. Tapi nyatanya sekolah di Kuala Simpang, Aceh Tamiang masih jauh dari kata layak. Semuanya terendam parah akibat genangan lumpur, tingginya tak main-main hingga 1 meter.

Kondisi yang sulit untuk para guru bisa membersihkan di tengah beratnya masalah mereka. Harapan ada pada relawan yang siap kotor membersihkan sekolah mereka. Hal yang tentu bagi sebagian sulit, butuh tekad yang besar dalam membersihkan sekolah-sekolah di Tamiang khususnya di daerah Karang Baru.

Dalam misi kedua ini, kami pun mendapatkan tugas membersihkan SMK 1 Karang Baru, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Lokasinya berbatasan dengan lahan sawit yang cukup luas, seakan dari peta terlihat hamparan luas seperti karpet permadani. Saat banjir, sekolah SMK ini merasakan dampak yang cukup besar, tinggi banjirnya mencapai 7 meteran. Sesuatu yang tak masuk akal apalagi genangan lumpur yang ia sisakan.

Dalam hal ini ada banyak relawan yang membersihkan setiap ruang sekolah dan kami mendapatkan tugas membersihkan ruang guru dan pustaka. Di sana genangan lumpur cukup mengerikan, tinggi mencapai 60 cm. Hampir menutup sepatu boot hanya untuk bisa melewati lumpuran yang hampir padat. 

Cangkul demi cangkul seakan mengikis endapan lumpur. Seakan sulit dipercaya bagaimana bisa lumpur bisa masuk ke sana. Padahal ruangan tertutup tetapi air cukup pintar, ia membawa genangan lumpur melalui ventilasi seakan membuatnya terjebak dan membeku di sana.

Menyisakan ruangan penuh dengan gumpalan coklat. Tapi kami punya misi, membersihkan setiap ruangan selama 2 hari, apapun itu dengan peralatan seadanya. Sebab ada banyak siswa yang berharap segera kembali sekolah dan tenaga para relawan sangat dibutuhkan.

Perlahan lantai pustaka dan olahraga kembali terlihat. Bola dan alat olahraga lainnya kembali terlihat dan dibersihkan dan diletakkan pada rak seperti sedia kala. Barang-barang yang tak berwujud lainnya diletakkan di luar ruangan, kini ruangan kembali bersih dan bisa digunakan. Awalnya kami ragu ruangan itu bisa dibersihkan tapi tekad yang kuat semuanya bisa dibersihkan.

Keringat hasil kerja keras seakan bisa membuat Aceh Tamiang bisa bangkit, satu hal yang pasti adalah rasa capek itu bisa hilang digantikan senyum dari kepala sekolah yang berkata: tanya bapak-bapak sekalian mungkin akan lebih lama lagi bisa bangkit. Seakan petang membawa kami pulang ke penginapan di Langsa. Di perjalanan pun terlihat hunian sementara (Huntara) mulai rampung dibuat, kini perlahan masyarakat bisa mendapatkan hunian layak. Bukan lagi di tenda yang pengap di siang hari dan dingin di malam hari. Semoga bisa cepat bangkit sumatraku.

Dari Tanggap Darurat ke Masa Pemulihan Pasca Bencana

Huntara

Bisa dibilang proses pemulihan banjir Sumatra jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan Gempa Bumi dan Tsunami tahun 2004. Selain area yang luas, dampaknya jauh merusak terutama endapan lumpur yang merusak fasum, rumah warga, persawahan hingga akses. Apalagi kini semua yang menangani tanpa bantuan asing jelas proses pemulihan sangat lama.

Tapi di sinilah koordinasi lintas sektor coba digalakkan dari pemerintah daerah dan pusat.  Melibatkan disana BNPB dan BPBA daerah, TNI-Polri, hingga Ditjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dalam kolaborasi #PascaBencana.

Masyarakat yang sudah hampir sebulan tinggal di pengungsi tentunya butuh waktu untuk membersihkan rumah-rumahnya khususnya yang terendam lumpur. Proses membersihkan lumpur tak sebatas lumpur pekat tetapi ada banyak rumah yang harus tenggelam oleh lumpur padat yang membuat rumah warga tertimbun. Proses pembersihan ini sangat sulit kalau hanya mengandalkan cangkul dan sekop saja, dua bulan belum tentu bisa bersih.

Di sini butuh sekali excavator ukuran besar dan kecil, yang besar untuk membuang lumpur menjauh dari pemukiman warga sedangkan excavator kecil digunakan buat mengeruk rumah warga dari timbunan lumpur.

Alat berat saja tak cukup tapi harus dibarengi dengan perencanaan pemulihan yang terarah dan tentu saja mobil air khusus buat membersihkan dinding-dinding rumah warga. Tanpa air rasanya sulit rumah warga bisa bersih karena ini sifatnya padatan lumpur padat dari hulu.

Selain itu, lumpur yang dikeruk bila tak dibuang semestinya, saat hujan turun akan kembali ke pemukiman warga. Jika salah ditangani dengan tepat akan jadi masalah lanjutan. Apakah itu menimbun lahan warga, menyumbat alur sungai sampai pada banyak lokasi tanah orang yang berubah letaknya. Memang nantinya tanah timbunan itu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk alami dengan unsur hara, tetapi kini pasca bencana tentunya menyelamatkan aset-aset warga yang masih tersisa. Siapa sih yang nggak mau melihat kembali wujud rumahnya yang sempat tenggelam.

Nah... selain itu harus ada desain yang tepat karena ini pekerjaan melelahkan dan panjang dan tentunya membutuhkan air bersih yang sangat banyak.  Membangun lokasi sanitasi yang layak hingga fasilitas kesehatan. Pastinya banyak warga yang trauma pasca bencana. Saya mendengarkan banyak cerita dari warga yang tinggal di pinggir sungai, mereka sangat trauma untuk bisa kembali. Seakan air sungai datang dengan suara yang sangat menakutkan di malam itu. Itu bukan dirasakan oleh 1 atau 2 warga saja, ada ribuan hingga puluhan ribu orang lainnya yang trauma pada sungai.

Apalagi bencana banjir selalu mengintai di masa depan, artinya mereka butuh tempat tinggal yang layak di lokasi tepat. Butuh relokasi besar-besaran yang melibatkan banyak desa dan memindahkan masyarakat ke zona nyaman. Banyak rumah yang kasat mata berdiri, tetapi strukturnya sudah lemah dan lelah akibat digerus air dan tertimbun lumpur hari-hari. Membangun desa butuh waktu panjang termasuk kembali menanam pohon akibat rusaknya hutan.

Banjir Sumatra bukan peristiwa sekali lewat, melainkan peringatan keras bahwa pola pembangunan, alih fungsi lahan, dan perlindungan kawasan hulu harus dibenahi secara serius. Jika fase pemulihan hanya berhenti pada membersihkan lumpur dan membangun ulang rumah, tanpa memperbaiki akar persoalan, maka bencana serupa hanya menunggu musim hujan berikutnya.

Jadinya, ini sebenarnya kesempatan kita membangun kembali alam, kita sudah salah jalan atau sejumlah pihak serakah yang merusak alam. Butuh perencanaan yang baik dan di sini salah satunya peran Bina Marga bekerja keras. Bekerja saat bencana itu taruhannya nyawa, di saat lokasi longsor dan terisolir coba kembali dibuka, jelas para pekerja bertaruh nyawa di sana.

Membangun kembali daerah terdampak #PascaBencana punya arti luas, bukan sekadar memulihkan apa saya yang rusak dan hilang, melainkan memperbaiki kesalahan yang terlalu lama kita biarkan. Jalan dan jembatan yang kembali dibangun ulang harus selaras dengan mendukung riset dan selaras dengan alam. Mengikuti alur kontur alam yang memberikan sungai untuk bernapas. Kini ada banyak sungai yang sudah melebar dan mendangkal, proses pengerukan membutuhkan waktu yang sangat panjang dan lama.

Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) kembali ditanami tumbuh-tumbuhan yang mampu mengikat tanah agar abrasi di sepanjang sungai tetap terjaga. Ruangan ini seakan menjaga pemukiman warga andai bencana serupa terjadi, tak ada lagi kerusakan parah dan korban jiwa akibat amukan alam. Kita belajar panjang atas banjir Sumatra bisa terjadi di mana saja di Indonesia.

Peran Bina Marga tak hanya sebatas pelaksana teknis di atas meja tapi mereka juga turun langsung ke lapangan dalam menjaga nalar pembangunan. Seakan memastikan tiap infrastruktur yang lahir pasca bencana justru membuat manusia aman dan nyaman. Memang butuh waktu panjang membangun kembali apa yang telah hancur, tapi kita semua saling bergandengan tangan. Mulai dari membersihkan lumpur, menyambut akses hingga membangun hunian layak seperti seperti badai itu datang.

Di tengah kondisi pelik, akses jalan dan jembatan menjadi harapan pertama yang dicari masyarakat saat bantuan akan datang. Nadi kehidupan akan kembali berdenyut dan di sini negara bisa benar-benar hadir di saat paling dibutuhkan. Kita tak jadi penonton tapi rela berpeluh keringat dan merasakan lumpur yang sama seperti yang saudara kita rasakan.

Ada Secercah Pelangi Setelah Badai Berlalu

banjir sumatra

Saya ingat saat badai siklon perlahan menjauh di siang hari tanggal 27 November. Seakan terlihat pelangi panjang yang kemudian terlihat cahaya matahari yang seakan telah sepekan tenggelam jauh dalam balutan awan pekat. Seakan penderitaan menyakitkan itu sudah mencapai puncaknya, kini ia coba turun meskipun meninggalkan luka yang masih basah. Pertanda akan ada isyarat kecil bahwa harapan itu belum sepenuhnya pergi.

Pelangi di siang itu memang tak serta merta menghapus duka, ia juga tak serta merta mengeringkan lumpur yang merendam ribuan rumah warga. Namun ia seakan memberikan jeda di tengah kelelahan panjang, dari sanalah saya belajar bahwa membangun yang runtuh harus berdampingan dengan alam.

Aceh pernah terluka sama beratnya 21 tahun lalu dan mampu kembali bangkit, kini ujian itu kembali datang dalam wujud banjir besar. Seakan kembali menguji kembali lagi rasa peduli dan empati kita pada sesama. Mulai dari berdonasi, bergotong royong, membangun kembali akses dan permukiman warga. Serta tentu saja melestarikan alam yang sudah rusak. Kini secercah pelangi itu bukan sekadar simbol sesaat melainkan janji bahwa pemulihan itu sedang berjalan.

Semoga Sumatra tetap menjaga pelindung paru-paru dunia dengan keanekaragamannya dan bencana ini seakan cara untuk bangkit dan membangun kembali apa yang sudah hilang.

Baca Juga