M. Reza Sulaiman | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Arsyad dan Burung Bernama Rio (Gemini AI)
Ukhro Wiyah

Pagi pertama Ramadan datang bersama cahaya keemasan yang menyelinap melalui celah tirai kamar Arsyad. Jam dinding baru menunjukkan pukul 05.15. Suara azan subuh masih menggantung tipis di udara, memantul di antara atap-atap rumah kompleks Melati Indah yang rapi berderet.

Di sudut ruang tamu, sangkar burung berwarna putih tergantung dekat jendela. Biasanya, setiap kali langit mulai terang, burung kecil berwarna hijau-kuning itu sudah berkicau riang, mematuk-matuk jeruji, dan melompat lincah dalam sangkar. Namanya Rio. Namun, pagi itu sangkar terasa lebih sunyi.

Arsyad berjalan pelan mendekat. Ia masih mengenakan sarung kecil dan kaus longgar. Matanya setengah mengantuk karena tadi ikut bangun sahur untuk pertama kalinya secara penuh.

"Rio...," panggilnya pelan.

Burung itu membuka mata bulatnya. Ia menoleh, lalu mengepakkan sayap sekali sebelum kembali diam di atas ranting kayu kecil. Arsyad mengernyit. Biasanya, saat ia mendekat, Rio akan bersiul panjang, meminta biji-bijian atau sekadar perhatian.

"Kok tidak ribut, sih?" gumam Arsyad.

Dari dapur, terdengar suara ibunya mencuci piring bekas sahur. "Syad, jangan lupa bersiap-siap sekolah."

"Iya, Bu!" jawabnya.

Ia menatap lagi sangkarnya. Tempat makan Rio masih terisi penuh. Air minumnya jernih. Tidak ada yang berubah, kecuali sikap Rio yang jauh lebih tenang.

Hari itu panas datang lebih cepat. Siang menggantung berat di atas atap rumah. Arsyad pulang sekolah dengan wajah lemas. Tenggorokannya terasa kering, dan aroma gorengan dari warung depan gang terasa seperti ujian kecil yang menggelitik. Ia membuka pintu rumah perlahan. Ruang tamu sepi. Sangkar Rio tetap di tempatnya.

"Assalamualaikum," ucap Arsyad pelan.

Rio hanya memiringkan kepala tanpa suara. Arsyad menjatuhkan tasnya di sofa, lalu duduk di depan sangkar.

"Kamu tidak lapar?" tanyanya pelan, meski tahu Rio tetap makan seperti biasa.

Rio meloncat satu kali, lalu diam lagi. Arsyad memperhatikan mangkuk makan yang masih utuh. Aneh. Biasanya, biji-bijian sudah berserakan di dasar sangkar menjelang siang.

"Bu!" panggil Arsyad.

Ibunya muncul dari dapur. "Kenapa?"

"Rio tidak banyak makan hari ini."

Ibunya tersenyum kecil. "Mungkin dia juga mengikuti suasana Ramadan."

Arsyad tertawa pendek. "Burungnya ikut puasa?"

Ibunya mengangkat bahu. "Yang jelas, Ramadan memang membuat suasana rumah berbeda, kan?"

Arsyad terdiam. Ia menatap Rio lagi. Burung itu kini berdiri diam, bulunya tampak lebih rapi, matanya setengah terpejam seperti sedang menikmati angin yang masuk dari jendela.

***

Hari kedua, ketiga, dan keempat Ramadan, pola itu tetap sama. Rio tetap makan dan minum, tetapi tidak seagresif biasanya. Ia jarang berkicau keras. Jika pun bersuara, hanya siulan pendek yang lembut.

Suatu sore menjelang berbuka, Arsyad duduk sendirian di ruang tamu. Cahaya matahari menyentuh lantai keramik, membentuk bayangan jeruji sangkar yang panjang. Perutnya berkeroncongan pelan. Ia menatap jam dinding. Masih tiga puluh menit lagi sebelum azan magrib. Rio memiringkan kepala, menatapnya.

"Aku lapar," bisik Arsyad.

Rio mengepakkan sayap kecilnya, lalu diam. Arsyad menghela napas panjang. Ia ingat bagaimana siang tadi hampir saja membeli es teh di kantin sekolah.

"Sedikit saja, Arsyad. Tidak ada yang tahu," kata temannya waktu itu.

Namun, ia menolak. Ia memilih menahan diri, menunggu bel pulang. Sekarang, duduk di depan sangkar, ia merasa aneh. Seolah-olah Rio mengerti sesuatu.

"Kamu hari ini tidak rewel ya, Rio," katanya pelan. "Usually kamu ribut kalau aku terlambat mengganti air."

Rio melompat turun ke dasar sangkar, mematuk satu biji, lalu kembali naik tanpa suara. Arsyad menyandarkan punggung ke dinding.

"Apa menahan diri itu memang bisa membuat kita lebih tenang?" Pertanyaan itu menggantung di udara sore yang hangat.

Suatu malam setelah tarawih, Arsyad duduk bersama ayahnya di teras. Udara malam terasa lebih sejuk. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak berlarian membawa petasan kecil. Ayahnya menyeruput teh hangat. "Bagaimana puasamu?"

"Lancar, Yah," jawab Arsyad.

Ayahnya tersenyum. "Sulit?"

Arsyad mengangguk kecil. "Kadang-kadang."

Ia terdiam sebentar, lalu berkata, "Yah, Rio kok jadi pendiam ya selama Ramadan ini."

Ayahnya tertawa pelan. "Memangnya kamu mau dia ceramah?"

Arsyad tersenyum tipis. "Bukan begitu, Ayah. Maksud Arsyad, biasanya dia ribut sekali."

Ayahnya menatap ke arah ruang tamu, tempat sangkar tergantung. "Mungkin dia mengikuti ritme di rumah. Kita bangun sahur, kita lebih banyak membaca Al-Qur'an, lebih sedikit menyalakan televisi. Suasana jadi lebih tenang."

Arsyad mengingat malam-malam sebelum Ramadan. Televisi sering menyala keras. Ia kadang bermain gim dengan suara tinggi. Rio sering ikut bersuara, bersaing dengan bunyi dari layar. Sekarang, malam-malam terasa lebih hening. Hanya suara bacaan Al-Qur'an atau lantunan doa pelan sebelum tidur.

***

Hari terakhir Ramadan tiba. Sore itu, Arsyad membersihkan sangkar Rio dengan lebih teliti. Ia mengganti alas, mencuci tempat makan, dan mengelap jeruji satu per satu.

"Besok Lebaran, Rio," katanya ceria.

Rio melompat-lompat kecil, kali ini lebih aktif daripada biasanya. Arsyad tertawa. "Kamu juga senang ya?"

Ketika azan magrib berkumandang menandai akhir Ramadan, Arsyad duduk di depan sangkar seperti malam-malam sebelumnya. Rio tiba-tiba berkicau panjang. Nyaring, cerah, dan berulang-ulang.

Arsyad terkejut, lalu tertawa kecil. "Nah, ini Rio yang biasa!"

Keesokan paginya, suasana rumah ramai. Televisi menyala menyiarkan takbir. Saudara-saudara datang berkunjung. Tawa dan obrolan memenuhi ruang tamu. Rio kembali berkicau riang, bersahut-sahutan dengan suara orang.

Arsyad berdiri memperhatikannya. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Selama sebulan, ia melihat bagaimana burung kecil itu tetap makan dan minum, tetapi tidak berlebihan. Tetap hidup seperti biasa, tetapi lebih tenang. Tidak banyak bersuara, seolah ikut menjaga suasana. Arsyad mendekatkan wajahnya ke sangkar.

"Terima kasih, Rio," bisiknya.

Rio memiringkan kepala, lalu bersiul pendek.

Di tengah keramaian hari raya, Arsyad teringat kembali akan hening dini hari Ramadan itu. Saat ia duduk bersama burung kecilnya, menahan lapar, menahan keinginan, dan menemukan bahwa dalam diam ada ketenangan yang tidak perlu banyak suara. Dan setiap kali ia mendengar Rio berkicau riang setelah Ramadan berlalu, ia tahu bahwa ia pernah belajar sesuatu dari makhluk kecil bersayap itu: tentang menahan diri, tentang suasana hati, dan tentang bagaimana ketenangan bisa tumbuh ketika kita memilih untuk diam di antara dunia yang terlalu berisik.