22 November 2025, menjadi awal cerita kelam di bumi serambi Mekah. Banjir besar telah meluluh lantakan beberapa wilayah di Aceh. Provinsi yang telah diberikan predikat Daerah Istimewa Aceh, seketika lumpuh. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Fasilitas publik pun lumpuh total di wilayah Aceh Tamiang. Beberapa akses penghubung antar kota terputus.
Kisah pedih yang dengan cepatnya menyebar ke penjuru dunia. Banyak warga yang terpaksa bertahan pada dahan pohon, dan atap atap bangunan yang masih tampak. Tak sedikit yang terjebak di dalam mobil dan meninggal. Mereka yang selamat masih harus berjuang untuk bisa tetap hidup. Kelaparan mulai menjadi isue dan ancaman utama. Terputusnya akses jalan menjadi penyebab sulitnya bantuan sampai ke tangan para korban.
Tapi Indonesia yang dikenal dengan gotong royongnya, bergerak dengan cepat. Semua rakyatnya dari penjuru negeri berbondong-bondong turun membantu para korban. Kerjasama dan kolaborasi dari relawan, lembaga sosial, komunitas, pengusaha yang bersinergi dengan pemerintah terus bergerak meski tak semulus harapan.
Namun Kementrian Pekerjaan Umum (PU) bersama teamnya sigap bergerak untuk mempercepat penanganan infrastruktur sanitasi.
Resiko gangguan kesehatan adalah ancaman besar yang muncul dilokasi bencana banjir. Pemerintah lewat Kementrian PU dan Bina Marga nya ingin memastikan layanan dasar masyarakat dapat segera pulih. Secara bertahap pada fase tanggal darurat, melalui Balai Penataan Bangunan, prasarana dan Kawasan Aceh melakukan upaya penyelesaian sisa volume sampah serta material pasca bencana yang menghambat akses serta berpotensi menjadi penyebab Masalah kesehatan lingkungan.
Menurut Dody Hanggodo Mentri PU, infrastruktur air dan sanitasi yang layak sangat penting dalam kondisi bencana seperti di Sumatra.
" Dalam kondisi bencana yang ditangani tidak hanya sebatas pemenuhan pangan saja, ketersediaan air dan infrastruktur juga sangat penting," terang Dody
Aceh, kondisi sulitnya akses untuk bisa menjangkau titik titik bantuan menjadi penyebab terlambatnya bantuan sampai. Terlebih lagi ada beberapa relawan yang mengeluhkan mahalnya biaya penyebrangan untuk menjangkau lokasi bencana.
Harga BBM yang mencekik dan di luar wajar membuat biaya transportasi juga semakin mahal. Tapi lagi lagi kita perlu apresiasi Indonesia dengan semangat gotong royong dan empatinya yang begitu besar untuk menolong saudaranya sebangsa.
Jarak, sulitnya medan, resiko cedera ataupun menjadi korban, biaya yang mahal tak mampu menyurutkan langkah para pejuang kemanusiaan. Mereka datang dari berbagai pelosok negeri.
Membawa motor, mengendarai mobil, naik truk, kapal bahkan ada yang menyewa pesawat pribadi demi membantu saudara-saudara di Aceh. Sekedar sebuah pelukan hangat atau sekardus mie instan dan air bersih telah menjadi kekuatan besar bagi rakyat Aceh untuk bangkit dan pulih dari keadaan.
Trauma pasti tak dapat disangkal. Tapi "show must go on ". Mereka yang masih hidup harus mau berjuang untuk pulih dan membangun kembali kotanya.
Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk anak-anak mereka yang masih harus berjuang meraih masa depannya. Berjuang untuk kehidupan yang lebih baik .
Tapi perjuangan tidak akan mudah jika dilakukan sendiri. Butuh sebuah sinergi manis yang mampu mempersatukan berbagai hal. Keterlibatan Bina Marga, relawan, dan rakyat tentu akan mampu mempercepat pemulihan Aceh.
Oleh karena itu dibutuhkan semangat positif dan sinergi yang saling menguatkan demi menjaga kesatuan bangsa. Aceh akan bangkit dan pulih dengan gotong-royong. Mari fokus membangun dan pulih. Aceh butuh tak sekedar bahan pangan, tapi butuh perbaikan infrastruktur dan penanganan trauma pasca bencana.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Lebih dari Sekadar Aspal: Menenun Kembali Harapan di Tanah Sumatera
-
Pemulihan Infrastruktur Sukses, Senyum Aceh Balik Kembali
-
Menyambung Nadi, Memulihkan Asa: Wajah Kemanusiaan di Balik Pemulihan Infrastruktur Aceh
-
Bina Marga Percepat Pemulihan Akses Jalan di Aceh Pascabencana
-
Asa Menuju Pulih Pasca Bencana Sumatra
Terkini
-
Mengenal Inka Williams, Pacar Channing Tatum yang Dekat dengan Budaya Bali
-
Lebih Baik Baca Buku daripada Membaca Hasil AI
-
Rekap Malaysia Open 2026 Day 2: Jojo Menang Straight Game, Alwi Kalah Rubber
-
Misteri Pelita Kecil di Jembatan, Saat Pergi Membeli Bakso
-
Malaysia Open 2026: 5 Wakil Indonesia Berjuang untuk Lolos ke Perempat Final