M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Poster film Setannya Cuan (instagram/setannyacuan)
Ryan Farizzal

Film Setannya Cuan, juga dikenal dengan judul alternatif Djoerig Salawe, adalah sebuah karya horor komedi Indonesia yang telah lama dinanti. Disutradarai oleh Sahrul Gibran dan Jay Sukmo, film ini diproduksi sejak tahun 2019 namun mengalami penundaan panjang hingga akhirnya tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 5 Maret 2026. Durasi film mencapai 106 menit, menggabungkan elemen horor supranatural dengan humor slapstick yang khas Indonesia, membuatnya cocok sebagai hiburan ringan di bulan puasa yang menekankan pengendalian diri terhadap godaan.

Sinopsis: Rahasia Kekayaan Asep dan Ritual Gelap

Tangkapan layar salah satu adegan yang ada di film Setannya Cuan (instagram/setannyacuan)

Cerita berlatar di era 1970-an di sebuah desa kecil di Cicalengka, Jawa Barat, di mana masyarakat tergila-gila dengan togel sebagai jalan pintas menuju kekayaan. Plot utama mengikuti persaingan antara Adang (Joe P Project) dan Asep (Anyun Cadel) dalam perebutan kursi lurah. Adang keluar sebagai pemenang, tapi nasibnya berbalik: ia bangkrut dan ditinggal istri. Sebaliknya, Asep mendadak kaya raya berkat angka togel yang didapat dari dukun bernama Rojan (Candil). Rahasia ini terungkap melalui Ujang (Fico Fachriza), yang mengungkap bahwa Asep bersekutu dengan makhluk gaib. Untuk mendapatkan nomor togel, mereka melakukan ritual gelap seperti mencuri batu nisan arwah, yang kemudian memicu kekacauan: pocong bangkit, tuyul berkeliaran, dan babi ngepet meneror warga. Di tengah itu, muncul Mince (Nadine Alexandra), janda muda yang menjadi objek perebutan, menambah lapisan drama romantis dan kecemburuan. Konflik memuncak ketika dendam Rojan terhadap Nila (kembang desa) terkuak, membawa tema penebusan dan perlawanan terhadap kekuatan gelap oleh Ujang.

Secara plot, Setannya Cuan berhasil menyajikan narasi yang linier tapi penuh twist tak terduga. Elemen horor tidak terlalu menakutkan, lebih condong ke jump scare ringan yang diselingi humor absurd, seperti adegan warga berburu pesugihan massal. Tema utama adalah satir terhadap keserakahan manusia yang ingin kaya instan tanpa usaha, mirip kritik sosial pada masyarakat modern yang tergoda judi online atau skema cepat kaya. Ini relevan dengan rilis di bulan Ramadan, di mana film mengajak penonton merefleksikan pengendalian nafsu. Akan tetapi, beberapa bagian terasa repetitif, terutama ritual gaib yang berulang, membuat pace cerita agak lambat di pertengahan. Secara keseluruhan, plotnya thought-provoking, menggabungkan folklore Indonesia seperti tuyul dan pocong dengan komentar budaya tentang tradisi dan keserakahan.

Review Film Setannya Cuan

Tangkapan layar salah satu adegan yang ada di film Setannya Cuan (instagram/setannyacuan)

Dari segi akting, para pemain tampil solid meski dengan karakter yang stereotipikal. Joe P Project sebagai Adang berhasil menampilkan transformasi dari pemimpin sombong menjadi korban keserakahan, dengan ekspresi komikal yang natural. Anyun Cadel sebagai Asep memberikan humor fisik yang menggelitik, sementara Candil sebagai Rojan mencuri perhatian dengan aura misterius dan dialog dialek Sunda yang autentik. Nadine Alexandra sebagai Mince tampil mempesona, menambahkan elemen sensualitas tanpa berlebihan, meski karakternya bisa lebih dalam. Fico Fachriza sebagai Ujang berperan sebagai pahlawan anti-pesugihan, memberikan keseimbangan moral. Yang spesial adalah penampilan Babe Cabita, yang menjadi salah satu film terakhirnya sebelum meninggal pada 2024. Babe membawa energi komedi unik, membuat adegannya tak terlupakan sebagai tribute bagi almarhum. Pemain pendukung seperti Dimas Andrean, Ben Kasyafani, Mega Carefansa, Gabriella Desta, dan Aming (sebagai Kang Sayur) menambah warna, meski beberapa terasa underutilized.

Aspek teknis film ini cukup memadai untuk produksi independen. Sinematografi menangkap suasana desa 1970-an dengan warna gelap dan efek kabut yang menciptakan ambiance creepy, tapi efek visual makhluk gaib seperti pocong terlihat agak murahan, mungkin karena budget terbatas. Sound design bagus, dengan musik latar yang membangun ketegangan di adegan horor dan lagu-lagu Sunda yang menambah autentisitas. Editing cukup rapi, meski transisi antar adegan komedi dan horor kadang terasa abrupt. Sutradara Sahrul Gibran berhasil menyeimbangkan dua genre, membuat film ini bukan sekadar tawa tapi juga refleksi.

Kelebihan utama adalah humor yang relatable bagi penonton Indonesia, terutama sindiran savage terhadap mental pengen kaya tanpa proses. Ini membuat film lebih dari hiburan; ia menjadi cermin sosial tentang obsesi cuan. Kekurangannya adalah plot yang predictable di akhir dan elemen horor yang kurang inovatif, mirip film-film pesugihan sebelumnya seperti Suzzanna atau Pengabdi Setan. Skor rata-rata dari review awal di IMDB dan Instagram sekitar 7-9.5/10, menunjukkan penerimaan positif sebagai campuran dark comedy dan commentary budaya.

Secara keseluruhan, Setannya Cuan adalah rekomendasi bagi pencinta horor komedi lokal. Cocok ditonton bersama keluarga atau teman untuk tertawa sekaligus merenung. Dengan tayang hari ini, 5 Maret 2026, di berbagai bioskop seperti XXI, CGV, dan Cinepolis dengan harga tiket mulai Rp35.000, film ini berpotensi jadi hit tontonan di saat bulan Ramadan. Rating dariku: 7.5/10. Jangan lewatkan ya guys, kalau kamu pengin hiburan yang menggelitik tapi bermakna.