Mikroplastik yang selama ini identik dengan pencemaran lingkungan ternyata telah ditemukan pada plasenta manusia. Temuan tersebut menjadi perhatian para peneliti karena menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan mencapai organ yang berperan penting selama masa kehamilan.
Isu tersebut turut dibahas dalam kelas daring Less Waste Talk yang diselenggarakan YourSay bersama Suara Hijau. Dalam kesempatan itu, Kepala Divisi Program dan Aksi Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Yogyakarta, Nurhayati, menyoroti ancaman mikroplastik yang kerap luput dari perhatian masyarakat.
Kekhawatiran tersebut sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International. Melansir jurnal Environment International pada Jumat (5/6/2026), tim peneliti yang dipimpin Antonio Ragusa menemukan keberadaan mikroplastik pada empat dari enam plasenta yang dianalisis.
Partikel tersebut ditemukan pada sisi maternal, sisi fetal, dan membran korioamnion plasenta. Temuan itu menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil dapat mencapai organ yang berperan penting dalam mendukung perkembangan janin.
Menurut Nurhayati, persoalan mikroplastik tidak dapat dilepaskan dari tingginya jumlah sampah plastik yang masih dihasilkan setiap tahun. Dalam pemaparannya, ia menyebut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2025 menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 29,81 juta ton sampah per tahun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 6,14 juta ton atau 20,59 persen merupakan sampah plastik. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang masih dihadapi dalam pengelolaan sampah di Indonesia.
"Mikroplastik ini sangat memiliki ancaman yang tinggi," ujar Nurhayati.
Ia menjelaskan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tubuh melalui berbagai jalur, mulai dari udara yang dihirup, makanan yang dikonsumsi, hingga kontak dengan kulit. Salah satu sumber yang kerap tidak disadari berasal dari aktivitas sehari-hari.
"Mencuci pakaian serat dari plastik, maka ada pelepasan-pelepasan mikroplastik dan masuk ke dalam tubuh," jelasnya.
Pakaian berbahan sintetis seperti poliester dan nilon diketahui dapat melepaskan serat mikro saat dicuci. Serat tersebut kemudian berpotensi masuk ke saluran air, mencemari lingkungan, dan pada akhirnya kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
Ia menambahkan bahwa mikroplastik juga dapat masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan laut yang telah terkontaminasi. Sampah plastik yang mencemari sungai dan laut dapat terurai menjadi partikel yang lebih kecil sebelum dikonsumsi oleh biota laut.
Partikel tersebut kemudian dapat masuk ke rantai makanan manusia. Kondisi inilah yang membuat mikroplastik semakin sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, dampak mikroplastik tidak selalu langsung dirasakan. Menurut Nurhayati, paparan partikel tersebut cenderung bersifat akumulatif sehingga efeknya baru muncul setelah waktu yang panjang.
"Dampaknya memang gak langsung, membutuhkan jangka waktu yang lama baru akan terasa dampaknya pada tubuh kita," katanya.
Namun, ancaman yang tidak terlihat tersebut justru menjadi salah satu alasan mengapa kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup less waste masih relatif rendah. Banyak orang belum merasa perlu mengubah kebiasaan karena belum merasakan dampaknya secara langsung.
"Ketika belum merasakan dampaknya secara langsung, kesadaran untuk menerapkan prinsip-prinsip less waste ini jadi masih rendah," ungkap Nurhayati.
Dalam pemaparannya, ia juga menyebut budaya konsumtif, fenomena fear of missing out (FOMO), serta kecenderungan masyarakat memilih kepraktisan sebagai tantangan dalam mengurangi penggunaan produk sekali pakai. Faktor-faktor tersebut membuat perubahan gaya hidup ramah lingkungan sering kali tidak mudah dilakukan.
Meski demikian, Nurhayati meyakini perubahan dapat dimulai dari keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pilihan konsumen memiliki pengaruh terhadap arah pasar dan kebijakan produsen.
"Pilihan hidup kita, mengurangi produk sekali pakai akan berdampak ke pasar. Ketika permintaannya turun, maka produsen juga akan berpikir untuk beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan," tuturnya.
Di tengah temuan mikroplastik pada plasenta manusia dan tingginya produksi sampah plastik di Indonesia, penerapan gaya hidup less waste dinilai dapat menjadi langkah sederhana untuk membantu mengurangi paparan mikroplastik. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten juga dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan untuk jangka panjang.
Baca Juga
-
Woody dan Buzz Kini Bisa Dipakai di Kaki, Kolaborasi Adidas x Toy Story 5!
-
Setelah Lama Vakum, ASUS Kembali Bawa Tablet dengan Teknologi OLED Berbeda!
-
Tanpa Layar dan Tanpa Langganan, Google Fitbit Air Tantang Dominasi Whoop?
-
Mobil F1 Kini Jadi Sandal? Crocs dan Red Bull Racing Bikin Gebrakan Unik
-
Prambanan Tak Hanya soal Candi, Sun Flower Angel Tawarkan Nuansa Fantasi!
Artikel Terkait
News
-
Dolar AS Tembus Rp 18.000, Rupiah Cetak Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
-
Prambanan Tak Hanya soal Candi, Sun Flower Angel Tawarkan Nuansa Fantasi!
-
Tak Sekadar Game Anak, Roblox Jadi Wadah Kompetisi Musik dan Ruang Berkarya
-
Bukan Cuma Hobi, Fanatisme Anime Kini Jadi Sektor Bisnis Kreatif Indonesia!
-
Sering Promosi di Instagram, WO di Jaktim Ternyata Penipu: 58 Pasangan Jadi Korban
Terkini
-
Ulasan Drama Unnatural Fire, Tiga Detektif Kebakaran Penyingkap Tabir Kelam
-
Kiamat Kecil Bernama Baterai Sisa Satu Persen dan Ponsel Ketinggalan
-
Sukses dengan Live-Action, Manga Gifted Resmi Diadaptasi Jadi Anime 2027!
-
"Anak Saya Sehat, Perlu Vaksin?" Ini Alasan Mengapa Anggapan Itu Bisa Berbahaya
-
Kenapa Gen Z Makin Jarang Memasak? Ini Dampak Tersembunyi di Baliknya