Sebuah rumah kosong di kawasan Ampera, Kecamatan Banjarmasin Barat, mendadak menjadi sorotan setelah terungkap dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul anak-anak di bawah umur untuk menghirup lem. Temuan tersebut terungkap saat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjarmasin melakukan penertiban berdasarkan laporan warga yang resah dengan aktivitas mencurigakan di bangunan yang sudah lama tidak berpenghuni.
Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan lima anak di bawah umur. Selain menemukan aktivitas menghirup lem, petugas juga mendapati sejumlah botol minuman beralkohol di lokasi. Orang tua para anak kemudian diminta membuat surat pernyataan, sementara pihak sekolah turut dilibatkan dalam proses pembinaan.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang rumah kosong yang disalahgunakan. Lebih dari itu, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa penyalahgunaan inhalansia di kalangan anak dan remaja masih menjadi persoalan yang nyata sekaligus sering luput dari perhatian.
Ketika Rumah Kosong Berubah Menjadi Ruang Berisiko
Bangunan kosong sering kali dianggap sebagai bagian biasa dari lingkungan permukiman. Namun, ketika minim pengawasan, tempat seperti ini dapat berubah menjadi lokasi berkumpul yang sulit dipantau.
Kondisi itulah yang terjadi di kawasan Ampera. Menurut Satpol PP Kota Banjarmasin, rumah yang tidak lagi ditempati tersebut dimanfaatkan anak-anak sebagai tempat melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan diri sendiri.
Pelaksana Tugas Kepala Satpol PP Kota Banjarmasin, Hendra, mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama apabila terdapat bangunan kosong yang berpotensi disalahgunakan. Pengawasan dari warga dinilai penting untuk mencegah munculnya gangguan ketertiban maupun persoalan sosial yang lebih besar.
Fenomena serupa sebenarnya bukan hanya terjadi di Banjarmasin. Di sejumlah daerah lain, aparat juga beberapa kali menemukan anak-anak yang menghirup lem di ruang publik, kolong jembatan, hingga bangunan terbengkalai. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan lem masih menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian bersama.
Mengapa Lem Disalahgunakan?
Lem yang umum digunakan untuk keperluan industri atau pertukangan mengandung berbagai zat kimia yang mudah menguap, seperti toluena. Ketika uap tersebut dihirup secara sengaja, zat tersebut akan masuk ke paru-paru, kemudian mengalir ke otak melalui aliran darah.
Efeknya memang muncul dengan cepat. Penggunanya bisa merasakan sensasi ringan, melayang, atau euforia sesaat. Namun, di balik efek singkat tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang jauh lebih besar.
Karena mudah diperoleh dengan harga murah, lem sering menjadi salah satu zat yang paling rentan disalahgunakan oleh anak-anak maupun remaja. Padahal, penggunaan berulang dapat menyebabkan ketergantungan dan memicu kerusakan pada berbagai organ tubuh.
Dampaknya Bukan Sekadar Mabuk Sesaat
Banyak orang mengira aktivitas "ngelem" hanya menyebabkan mabuk sementara. Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan dampaknya bisa jauh lebih serius.
Dalam jangka pendek, menghirup uap lem dapat menyebabkan pusing, mual, sakit kepala, gangguan keseimbangan, bicara pelo, hingga hilang kesadaran. Pada beberapa kasus, irama jantung dapat terganggu secara tiba-tiba sehingga meningkatkan risiko kematian mendadak, kondisi yang dikenal sebagai sudden sniffing death syndrome.
Jika dilakukan berulang, dampaknya menjadi semakin berat. Zat kimia dalam lem dapat merusak sel-sel otak sehingga menurunkan kemampuan berpikir, konsentrasi, dan daya ingat. Selain itu, hati, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf juga berisiko mengalami kerusakan permanen.
Sebuah laporan kasus yang dipublikasikan dalam Pan African Medical Journal pada 2024 bahkan menggambarkan bagaimana kebiasaan menghirup lem dapat menyebabkan hepatitis toksik akut disertai gagal ginjal pada seorang pasien. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyalahgunaan inhalansia bukan persoalan sepele, melainkan dapat berkembang menjadi kondisi medis yang mengancam jiwa.
Mengapa Anak-Anak Rentan?
Tidak ada satu penyebab tunggal yang membuat anak mencoba menghirup lem. Rasa ingin tahu, pengaruh teman sebaya, kurangnya pengawasan, hingga masalah dalam keluarga sering menjadi faktor yang saling berkaitan. Karena harganya murah dan mudah ditemukan, lem juga lebih mudah diakses dibandingkan zat adiktif lainnya.
Sayangnya, banyak anak tidak memahami risiko kesehatan yang sebenarnya. Mereka hanya mengetahui efek sesaat tanpa menyadari bahwa kerusakan organ dapat terjadi secara perlahan.
Oleh karena itu, pendekatan yang mengedepankan edukasi dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan hukuman. Anak-anak perlu memahami bahaya penyalahgunaan inhalansia, sementara orang tua dan sekolah berperan penting dalam membangun komunikasi yang terbuka sejak dini.
Pengawasan Lingkungan Tidak Bisa Diabaikan
Kasus di Banjarmasin menunjukkan bahwa pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan aparat. Lingkungan sekitar memiliki peran yang sama pentingnya. Warga dapat melaporkan aktivitas mencurigakan, sementara pemilik bangunan kosong sebaiknya memastikan propertinya tidak mudah diakses oleh orang yang tidak berkepentingan.
Di sisi lain, sekolah juga dapat memperkuat edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan zat adiktif, termasuk inhalansia yang selama ini sering luput dari pembahasan. Kolaborasi antara keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus berulang.
Alarm yang Perlu Didengar Bersama
Penggerebekan rumah kosong di kawasan Ampera mungkin berhasil menghentikan aktivitas lima anak pada hari itu. Namun, persoalan yang lebih besar belum tentu selesai.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa penyalahgunaan lem masih mengintai anak-anak di berbagai daerah. Jika pengawasan lingkungan longgar, edukasi minim, dan komunikasi dalam keluarga tidak terjalin dengan baik, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan kembali terulang di tempat lain.
Rumah kosong memang bisa dikunci. Namun, menjaga anak-anak agar tidak mencari pelarian yang membahayakan membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar dari seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga
-
Bocah Jenius atau Terlatih? Mengenal Nala, Anak TK yang Fasih Bicara Soal Biomedis
-
Kenapa Salah Kita Terasa Masuk Akal, Tapi Salah Orang Sulit Dimaafkan?
-
Pintar tapi Tidak Bermoral? Inilah Alasan Mengapa Kecerdasan Bukan Jaminan Kebaikan
-
Mencari Diri Sendiri di Atas Awan: Mengapa Kamu Perlu Mencoba Mendaki Sekali Seumur Hidup
-
Jangan Keburu Parno! Ini Rahasia Membaca Angka Detak Jantung agar Tidak Gampang Panik
Artikel Terkait
-
Kepala BPN Banjarbaru Berganti, Ombudsman Diminta Tetap Kawal Sengketa Tanah yang Viral
-
Bukan Warga Nekat! Satpol PP Ungkap Sosok Orang 'Penting' yang Viral Berenang di Kolam Bundaran HI
-
Perangi Narkoba, Bobby Nasution Kerahkan Satpol PP, Polisi hingga TNI Patroli Gabungan di Asahan
-
Bersih-Bersih Blok M, 5 Gerobak dan 4 Boks Minuman Disita dari 9 PKL
-
Darurat Mafia Tanah, BPN Banjarbaru Dilaporkan ke Ombudsman Buntut Sengketa di Jalan Aneka Tambang
News
-
Che Cupumanik Rilis Single 'Luka Kolektif' Bersamaan dengan Buku 'Luka Kolektif Manusia Digital'
-
Cegah Pelecehan Siber Berkedok Candaan, Dosen Unpam Bekali Siswa SMK Telkom "Red Flag Detector"
-
Bukan Lagi Fiksi Ilmiah, Taksi Tanpa Sopir Asal China Kini Siap Kuasai Jalanan
-
Atasi Masalah Ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD Sukseskan Program Bank Sampah di Sorosutan
-
Trakindo Gelar Misi Hijau Bersama Trash Ranger Indonesia, Edukasi Lingkungan Lewat Aksi Nyata
Terkini
-
Membongkar Mitos Kecantikan dan Tragedi Perempuan dalam Cantik itu Luka
-
Post Kantoor Cikini, Restoran Vintage di Bekas Kantor Pos Zaman Belanda
-
Makan Bergizi Gratis: Program Gizi atau Program Pencipta Lapangan Kerja?
-
4 Mix and Match OOTD Dark Streetwear ala Seonghwa ATEEZ, Modis Tanpa Ribet!
-
Prancis vs Maroko: Mengapa Penunjukan Wasit Argentina Menuai Polemik Pencinta Sepak Bola?