"Sore itu di akhir bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburnya setelah dua puluh satu tahun kematian."
Sejak halaman pertama dibuka, novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan langsung membawa pembaca dalam kebingungan. Melalui pintu masuk yang ganjil, saya seolah diajak melangkah ke dalam labirin Halimunda, sebuah kota fiktif yang menjadi panggung bagi berkumpulnya mitos, dendam, dan sejarah kelam yang berdarah-darah. Namun, bagi saya, daya tarik utama mahakarya realisme magis ini bukan sekadar pada mayat yang bangkit, melainkan pada keberaniannya yang brutal dalam membongkar mitos kecantikan dan menelanjangi tragedi perempuan di tengah kungkungan patriarki.
Di dalam masyarakat modern, kecantikan sering kali dipuja sebagai anugerah tertinggi, sebuah tiket emas menuju kebahagiaan dan penerimaan sosial. Namun, lewat karakter Dewi Ayu dan ketiga anak perempuannya yaitu Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi, Eka Kurniawan menjungkirbalikkan fantasi tersebut dengan cara yang ekstrem.
Saya melihat bagaimana kecantikan dalam novel ini tidak pernah menjadi berkah; ia justru menjelma sebagai kutukan purba, sebuah magnet yang menarik nafsu, eksploitasi, dan kekerasan seksual dari laki-laki yang haus kekuasaan. Dewi Ayu, seorang perempuan Indo-Belanda yang sangat jelita, dipaksa menjadi pelacur pangkalan pada masa pendudukan Jepang. Tubuhnya menjadi medan pertempuran, wilayah yang dijajah dan dijarah berulang kali oleh moncong senapan dan ego maskulinitas.
Tragedi ini terus berlanjut dan mengalir seperti warisan genetik kepada putri-putrinya. Saya merasa pilu sekaligus geram ketika menyadari bahwa kecantikan luar biasa yang dimiliki Alamanda atau Maya Dewi tidak memberi mereka agensi atau kebebasan atas hidup mereka sendiri. Mereka tetap menjadi komoditas, objek rampasan, dan korban pemerkosaan yang dibungkus dalam institusi pernikahan yang dipaksakan.
Kecantikan memaksa mereka menjadi tawanan dalam sangkar emas yang diciptakan oleh tatanan sosial laki-laki Halimunda. Eka Kurniawan secara radikal menunjukkan bahwa dalam struktur patriarki yang timpang, tubuh perempuan yang cantik bukanlah milik perempuan itu sendiri, melainkan hak milik publik yang siap diperebutkan dan dihancurkan.
Puncak dari dekonstruksi mitos kecantikan ini mewujud dalam keputusan sadar Dewi Ayu saat mengandung anak keempatnya. Saya menangkap rasa frustrasi yang luar biasa mendalam ketika Dewi Ayu berdoa agar anak yang dikandungnya lahir dengan rupa seburuk mungkin. Bayangkan, seorang ibu yang memohon agar bayinya terlahir buruk rupa demi melindunginya dari kekejaman dunia.
Ketika anak itu lahir dengan kulit hitam legam dan hidung menyerupai colokan listrik, Dewi Ayu justru menamainya "Cantik". Kontras yang ironis ini bagi saya adalah sebuah satire yang sangat tajam sekaligus bentuk protes paling radikal. Melalui si Cantik yang buruk rupa, mitos bahwa perempuan harus berparas menawan untuk memiliki nilai akhirnya runtuh berantakan.
Lebih jauh lagi, saya memandang nasib para perempuan di Halimunda ini sebagai alegori dari sejarah Indonesia sendiri. Eka Kurniawan dengan sangat cerdas menjahit penderitaan tubuh perempuan dengan linimasa sejarah bangsa. Mulai dari kolonialisme Belanda, fasisme Jepang, euforia kemerdekaan yang semu, hingga pembantaian massal 1965. Seperti tubuh Dewi Ayu yang dijarah oleh berbagai penguasa bergantian, tanah air kita pun mengalami pemerkosaan sejarah yang serupa.
Kebrutalan narasi yang ditulis tanpa sensor ini tidak membuat saya merasa risi, melainkan justru memaksa saya untuk menghadapi realitas yang selama ini sering disembunyikan di balik narasi sejarah yang rapi dan sopan.
Bagi saya, membaca Cantik itu Luka adalah sebuah pengalaman yang mengguncang. Eka Kurniawan berhasil membuktikan bahwa keindahan sastra tidak selalu harus lahir dari hal-hal yang manis. Melalui gaya penceritaan yang blak-blakan, novel ini sukses meremukkan ilusi romantis tentang kecantikan fisik. Bagi saya, novel ini adalah sebuah gugatan sejarah yang kuat, sebuah pengingat abadi bahwa luka-luka yang dialami oleh perempuan dalam sejarah kita terlalu nyata untuk sekadar ditutupi oleh bedak kecantikan.
Identitas Buku:
Judul Buku: Cantik itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2018
Jumlah Halaman: 508
ISBN: 9786020312583
Baca Juga
-
Eksplorasi Batas Sains dan Kedalaman Empati dalam Film Project Hail Mary
-
Berlari Bersama Forrest Gump: Mengapa Ketulusan Adalah Senjata Terkuat Menghadapi Dunia yang Kejam
-
Menakar Kontrol Sosial Masyarakat Modern Lewat Kasus Penyekapan di Bandung
-
Cara Saya Mengubah Kesepian Menjadi Ruang Terbaik untuk Mengenal Diri
-
Cara Saya Menemukan Kembali Makna Proses di Balik Lembar Pengesahan Skripsi
Artikel Terkait
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
-
Ulasan Novel Paranoid, Perjalanan Gabi Dalam Menghadapi Skizofrenia
-
Ulasan Novel "Lotus Taxi", Perjalanan Malam yang Membuka Rahasia Hidup
-
Ulasan Novel Sewelas, Kelahiran Seorang Anak yang Dianggap Sebagai Kutukan
-
Novel The Lost Library: Cerita Misteri Ringan dengan Pesan Mendalam
Ulasan
-
Post Kantoor Cikini, Restoran Vintage di Bekas Kantor Pos Zaman Belanda
-
Mencinta Hingga Terluka: Mengelola Luka, Membebaskan Diri
-
Doctor on the Edge: Sajikan Sisi Humanis Dunia Medis yang Penuh dengan Tawa
-
Review Petaka Gunung Welirang: Saat Mitos Lokal Berhasil Digali dengan Apik
-
Di Balik Bullying Mahasiswi Populer: Teror Bangkawarah yang Menjemput Nyawa
Terkini
-
Makan Bergizi Gratis: Program Gizi atau Program Pencipta Lapangan Kerja?
-
4 Mix and Match OOTD Dark Streetwear ala Seonghwa ATEEZ, Modis Tanpa Ribet!
-
Prancis vs Maroko: Mengapa Penunjukan Wasit Argentina Menuai Polemik Pencinta Sepak Bola?
-
Bukan Bengkel Perbaikan! Pesantren Tak Bisa Gantikan Peran Orang Tua
-
Amerika Serikat Gugur, Christian Pulisic Soroti Klinisnya Lini Depan Belgia