Hikmawan Firdaus
GOODTALK, Good News From Indonesia (GNFI)Talkshow & Networking Session.[Hernawan/Yoursay]

Yogyakarta masih menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Di tengah meningkatnya jumlah wisatawan serta hadirnya berbagai bentuk wisata baru, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana masa depan pariwisata Kota Pelajar ini dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas budayanya. Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam acara GOODTALK, Good News From Indonesia (GNFI) yaitu Talkshow & Networking Session bertajuk "Turisme dan Kebudayaan: Menerka Masa Depan Pariwisata Yogyakarta" dengan menghadirkan Narasumber yang sangat kompeten dibidangnya yaitu Ade Saputra selaku Vice President Corporate Planning & Strategic Delivery Unit PT Hotel Indonesia Natour (InJourney Hospitality) dan Paksi Raras Alit selaku Budayawan sekaligus pegiat seni, sastra, dan budaya Jawa. Acara GoodTalk ini diselenggarakan pada Kamis, 9 Juli 2026, di Grand Hotel De Djogja.

Acara dibuka oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik dari UKM Seni Kesenian Fakultas Vokasi UNY yang menghadirkan nuansa budaya khas Yogyakarta. Setelah itu, memasuki sesi utama yaitu sesi diskusi yang dipandu oleh moderator acara Febriansyah Tri P. selaku Produser Eksekutif GNFI, yang mengajak para narasumber membedah tantangan sekaligus peluang pengembangan pariwisata Yogyakarta di masa mendatang.

Narasumber pertama yaitu Ade Saputra, memaparkan pentingnya membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa InJourney memiliki enam ekosistem usaha yang saling terintegrasi, yaitu airport, aviation service, hospitality, tourism development corporation, destination management, serta retail. Menurutnya, InJourney Hospitality tidak hanya bergerak di sektor perhotelan, tetapi juga mendukung pengembangan kesehatan dan pariwisata nasional.

Ade turut memaparkan kondisi pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan data tahun 2025. Wisatawan mancanegara yang paling banyak berkunjung berasal dari Malaysia, China, dan Singapura. Selain itu, kawasan Borobudur Yogyakarta Prambanan (BYP) tercatat memiliki skor pariwisata berkualitas tertinggi dibandingkan destinasi prioritas nasional lainnya. Menurutnya, salah satu kekuatan utama Yogyakarta terletak pada tradisi masyarakat yang masih terjaga dan rutin diselenggarakan sehingga menjadi daya tarik yang tidak dimiliki daerah lain.

Ade menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari kekuatan budayanya. Ia mengatakan, "Pariwisata tidak lepas dari kebudayaan sehingga warga Jogja bisa menjaga pariwisata dan kebudayaan yang ada di Jogja, tidak hanya budaya tetapi juga seni kontemporer yang ada di Jogja," (9/7/2026).

Dalam mendukung pariwisata berkelanjutan, Ade menjelaskan sejumlah inisiatif strategis yang tengah dikembangkan, di antaranya memperluas konektivitas dengan negara-negara berlatar belakang budaya Buddha dan Hindu, meningkatkan kualitas akomodasi melalui pelayanan yang berorientasi pada keramahan, mengintegrasikan akses transportasi kawasan Joglosemar, serta menghadirkan berbagai agenda internasional secara rutin untuk meningkatkan daya saing destinasi.

Sementara itu, narasumber kedua yaitu Paksi Raras Alit, mengajak peserta melihat perubahan identitas wisata Yogyakarta dari perspektif budaya. Menurutnya, wajah wisata Yogyakarta saat ini ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan, ramainya kawasan Malioboro, antrean kuliner legendaris seperti sate klathak, hingga citra bakpia yang telah menjadi ikon kota meskipun masih kerap memunculkan berbagai perdebatan mengenai keasliannya maupun praktik wisata tertentu. Di sisi lain, Ia menilai tingkat pengeluaran wisatawan rombongan masih relatif rendah dan tren kuliner semakin tersegmentasi. Menariknya, meskipun lalu lintas Kota Yogyakarta semakin padat, budaya masyarakat Jogja yang santun tetap tercermin dari minimnya suara klakson di jalan.

Paksi menjelaskan bahwa identitas budaya Yogyakarta selama ini sering dipahami melalui sudut pandang masa lalu, keaslian tradisi, nilai etika seperti unggah-ungguh dan tata krama, hingga munculnya kekhawatiran terhadap dampak globalisasi. Namun menurutnya, wajah baru pariwisata Yogyakarta justru menunjukkan kemampuan kota ini untuk terus beradaptasi. Berbagai festival seperti Prambanan Jazz, penyelenggaraan ARTJOG, hingga berkembangnya budaya menikmati suasana malam di berbagai sudut kota menjadi bukti bahwa identitas wisata Yogyakarta terus berkembang mengikuti zaman.

Meski demikian, perubahan tersebut tidak harus dimaknai sebagai hilangnya jati diri. Paksi menegaskan, "Wong Jowo ilang Jowo-ne adalah salah satu kekhawatiran dari pengaruh kebudayaan luar, namun Jogja tidak pernah berubah, tetapi Jogja selalu beradaptasi untuk selalu siap menghadapi globalitas," (9/7/2026).

Melalui acara GOODTALK GNFI, diskusi mengenai masa depan pariwisata Yogyakarta memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai pembangunan destinasi, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, serta kemampuan masyarakat untuk terus beradaptasi menghadapi perubahan. Di tengah arus globalisasi yang semakin cepat, Yogyakarta dinilai memiliki modal kuat untuk tetap menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mampu mempertahankan identitas budaya sebagai ruh utama kota tersebut.