Sudah sejak kapan kamu menggemari drakor? Kalau penonton lama, merasa ada yang berubah nggak? Sebagai penonton rutin drama Korea sejak tahun 2010-an, saya menyadari ada sebuah perubahan kecil. Dulu, 16 episode terasa seperti jumlah yang cukup umum untuk sebuah drakor. Sekarang, semakin banyak drama yang hadir dengan hanya 8 atau 10 episode dengan durasi per episode yang hampir sama seperti sebelumnya.
Sekilas, jumlah episode yang lebih sedikit mungkin terdengar seperti kabar baik. Cerita jadi lebih cepat selesai dan penonton tidak perlu menunggu hingga belasan episode untuk mengetahui akhir kisahnya. Namun, perubahan ini menimbulkan pertanyaan di benak saya, "Kenapa drakor jadi cepat selesai? Apakah karena menjamurnya konten video pendek, orang jadi susah fokus?"
Apakah perubahan tersebut benar-benar memengaruhi cara kita menikmati drama Korea? Atau sebenarnya ada alasan lain di balik tren drakor yang semakin singkat?
Dulu 16 Episode itu Biasa, Sekarang Jadi Terasa Panjang
Kalau terbiasa menonton drakor beberapa tahun lalu, kamu mungkin lebih familiar dengan drama yang memiliki sekitar 16 episode. Format tersebut cukup umum digunakan untuk berbagai genre, terutama drama yang tayang di televisi.
Beberapa malah memiliki lebih dari 16 episode, seperti Mr. Sunshine dengan 24 episode atau drama keluarga Homemade Love Story dengan 100 episode. Meski begitu, saya masih bisa menikmati setiap episode dengan sabar untuk sampai ke akhir cerita. Bahkan, Mr. Sunshine yang mengangkat tema cukup berat dengan alur yang panjang memiliki rating yang terhitung tinggi di Korea, mencapai lebih dari 18%.
Namun, sekarang penonton semakin sering menemukan drama dengan jumlah episode yang jauh lebih sedikit, terutama serial yang dirilis melalui platform streaming. Beberapa drakor terbaru bahkan hadir dengan 8 episode, contohnya The WonderFOOLS, If Wishes Could Kill, dan The East Palace. Jumlah tersebut memang belum bisa dikatakan sangat pendek, tetapi tetap menunjukkan adanya variasi format yang berbeda dari pola 16 episode yang dulu begitu umum.
Apakah Gara-gara Konten Pendek Tiktok, Reels, atau Shorts?
Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan perubahan cara kita menikmati tontonan adalah semakin populernya konten pendek. TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membuat kita terbiasa mendapatkan hiburan atau informasi hanya dalam hitungan detik. Belum selesai satu video, kita sudah bisa berpindah ke video berikutnya hanya dengan sekali scroll.
Namun, apakah ini berarti attention span penonton benar-benar menjadi lebih pendek gara-gara TikTok, Reels, atau Shorts? Mungkin saja. Terbiasa dengan konten pendek membuat stimulasi otak lebih cepat. Hal ini ternyata juga menimbulkan lonjakan dopamin, atau merasa senang dengan instan saat menemukan konten menarik dalam sekali scroll. Kalau sudah terbiasa dengan tontonan cepat, aktivitas seperti baca buku atau menyelesaikan seri drama panjang akan terasa membosankan dan sulit fokus.
Lebih Cepat Selesai, Tapi Banyak Detail Banyak Terlewat
Setelah banyak menonton drakor dengan format 8 - 10 episode, saya merasa cerita lebih cepat tuntas tanpa banyak basa basi. Alur biasanya perlu dibuat lebih fokus tanpa terlalu banyak cerita sampingan yang tidak berhubungan langsung dengan konflik utama.
Di sisi lain, saya merasa kepadatan cerita ini juga punya kekurangan. Cerita yang terlalu padat dapat membuat perkembangan karakter atau hubungan antartokoh terasa terburu-buru. Padahal, sebuah karakter memerlukan ruang lebih untuk ditinjau latar belakang hingga problem-solving dari masalahnya untuk berkembang.
Tantangannya bukan sekadar membuat drakor menjadi lebih pendek, melainkan memastikan cerita tetap utuh meski waktu yang tersedia semakin terbatas. Selain itu, di era attention span semakin pendek, perlu effort lebih untuk mengeksekusi cerita yang padat tanpa kehilangan premis utamanya.
Baca Juga
-
3 Fakta Menarik Songpyeon, Kue Beras Kukus Daun Pinus Khas Musim Gugur di Korea
-
Mengenal Danjong di The King's Warden, Raja Kecil yang Pernah Pimpin Joseon
-
The Castle: Menyusuri Jalan Ketidakpastian Tiada Akhir Menuju Keterasingan
-
Sense and Sensibility: Logika vs Hati, Mana yang Menang saat Hadapi Cinta?
-
Stoikisme: Tetap Peduli Sesama tanpa Terjebak dalam Kecemasan, Apakah Bisa?
Artikel Terkait
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
-
The Great King Munmu Tayang November, Ini Daftar Pemain Utamanya!
-
He Is Psychometric: Menyingkap Misteri Kejahatan dengan Kekuatan Psikometri
-
Oh My Guard Tayang Oktober, Intip Poster Jung Yong Hwa dan Hong Seung Hee!
-
Review Namib: Sisi Gelap di Balik Mimpi Menjadi Idol
News
-
Indonesia Comic Con Rayakan Satu Dekade, Digelar 3-4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran
-
Belajar Menjaga Sungai dari Tradisi Lubuk Larangan Malako Kociak
-
Efek Domino Kenaikan Avtur: Ancaman Nyata Mahalnya Tiket Pesawat bagi Pariwisata
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
World Cleanup Day 2026, Trash Ranger Menggerakkan Anak Muda Peduli Sampah
Terkini
-
Sinopsis Analog Nurse, Drama Medis Jepang yang Dibintangi Matsushita Nao
-
Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!
-
Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
-
Our Beautiful Summer: Ketika Kita Sibuk Bertahan Sampai Lupa Menikmati Hidup
-
Ke Mana Perginya Kunang-Kunang? Mengungkap Krisis Ekologi di Balik Polusi Cahaya