Di saat sebagian orang terbangun sekadar untuk menjalani rutinitas, Moh Edy Saputro membuka mata dengan keyakinan berbeda. Pria yang akrab disapa Kang Edai ini memandang desanya dengan harapan penuh. Bagi putra daerah ini, Desa Kemiren tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. Kemiren harus menjadi pelaku utama dalam menentukan nasibnya sendiri, membawa masa depan cerah dalam genggamannya.
Sebagai Ketua Desa Wisata Kemiren, Kang Edai menjelma menjadi sosok penggerak local hero yang bekerja keras untuk merangkul warga, membangun tanah kelahirannya. Desa Kemiren di Banyuwangi ini memang menyimpan kekayaan budaya Osing yang luar biasa. Tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, hingga Tari Gandrung merupakan bagian dari napas warga sehari-hari. Potensi besar inilah yang memicu Kang Edai dan masyarakat sekitar untuk bergerak bersama menjadikan Kemiren sebagai desa wisata berbasis budaya.
"Awalnya kami menggarap desa wisata ini secara mandiri," kenang Kang Edai saat menceritakan masa-masa awal perjuangan warga. Meskipun bantuan dari pihak luar saat itu masih bersifat tidak tetap, mereka tetap ingin membuktikan bahwa kekayaan budaya yang mereka miliki tidak hanya lestari, tapi juga mampu menghidupi warga secara mandiri.
Perjuangan itu perlahan menunjukkan hasil. Nama Desa Kemiren mulai dikenal di peta pariwisata nasional. Titik balik terjadi pada tahun 2024, ketika Astra masuk dan melibatkan Kemiren dalam Program Desa Sejahtera Astra. Momen tersebut semakin bermakna karena terjadi dan berjalan bersamaan dengan agenda kunjungan resmi dari Kementerian Pariwisata. Perlahan tapi pasti, posisi Kemiren semakin kukuh.
Bagi Kang Edai dan warga, kehadiran Astra bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan biasa. Mereka melihat Astra sebagai mitra strategis yang sangat tepat. Kolaborasi ini dirasa pas untuk berjalan beriringan, mempercepat peningkatan kapasitas warga, dan memperkuat fondasi desa wisata yang sudah mereka rintis bertahun-tahun sebelumnya.
"Program dari Astra ini membantu Kemiren untuk mengembangkan program yang lebih sustainable dan terikat. Astra sangat membantu peningkatan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan kapabilitas Desa Kemiren," ujar Kang Edai.
Pendampingan dalam Program Desa Sejahtera Astra menyasar empat bidang utama yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Program ini tidak hanya berfokus pada panggung pariwisata, tetapi juga membenahi kehidupan masyarakat di berbagai bidang. Mulai dari penguatan Posyandu, penyediaan alat bantu PAUD, pengelolaan sampah organik dan non-organik, hingga pembangunan dua unit biogas rumah tangga.
Meski keempat bidang tersebut saling melengkapi, Kang Edai secara strategis menjadikan bidang kewirausahaan berbasis pariwisata sebagai penggerak utama Desa Kemiren. "Bidang pariwisata diunggulkan karena semua bidang lain akan ikut naik bersamaan dengan naiknya wisata," tegas Kang Edai.
Logika ini terbukti manjur di lapangan. Ketika arus wisatawan mengalir, ekosistem ekonomi lokal langsung hidup. Saat ini, Kemiren mencatatkan lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan per tahun, baik dari dalam maupun luar negeri. Dampak ekonominya tentu bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Sebanyak 50 homestay dengan total 92 kamar kini telah beroperasi. 40 pelaku usaha UMKM kuliner dan kerajinan terus berkembang. Di samping itu, 40 anggota Pokdarwis secara aktif mengelola kegiatan pariwisata. Bahkan, pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis melambung hingga 33 persen, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
Kegigihan Kang Edai dan warga, didukung pendampingan Astra, membuahkan sederet apresiasi bergengsi. Desa Kemiren meraih Penghargaan Wonderful Indonesia Impact dan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata, serta ASEAN Tourism Award 2025. Tak berhenti di situ, Kemiren juga terpilih masuk dalam jajaran The Best Tourism Village Upgrade Program 2025 tingkat internasional.
Pencapaian ini mempertegas bahwa budaya mampu menggerakkan dan mengubah nasib suatu desa. Bagi Kang Edai, kunci utamanya terletak pada keseimbangan. Pelestarian budaya tetap menjadi prioritas yang tak boleh dikorbankan demi komersialisasi semata. Hal ini disesuaikan dengan adaptabilitas terhadap perkembangan zaman agar tetap relevan. Keseimbangan ini harus dijaga agar tujuan jangka panjang bisa tercapai.
Jalan menuju keberhasilan ini tentu tidak selalu mulus. Berbagai tantangan teknis maupun sosial kerap datang menyapa. Namun, Kang Edai mengaku tak pernah ragu untuk melangkah maju. Mereka sadar bahwa semua rintangan dan tekanan justru membuat pondasi solidaritas mereka menjadi jauh lebih tangguh.
"Konsisten menjadi kunci yang dibarengi dengan skill bersosialisasi, mawas diri dengan tahu kelebihan dan kekurangan, adaptif terhadap demografi dan sosiografi," tutur Kang Edai membagikan prinsip kepemimpinannya.
Di balik seluruh piagam dan angka pertumbuhan ekonomi tersebut, impian Kang Edai sebenarnya sangat sederhana. Dia ingin seluruh lapisan warga Desa Kemiren bisa hidup dengan baik, menikmati standar kelayakan yang pantas, dan mandiri secara ekonomi di tanah kelahirannya sendiri.
"Saya berharap generasi muda bisa terus terlibat di dalamnya dengan melakukan hal-hal positif sesuai dengan bidangnya masing-masing. Yang paling penting, jangan pernah lupa pada daerah sendiri," pesannya.
Terakhir, Kang Edai juga berharap hubungan baik yang telah terbangun antara Desa Kemiren, Astra, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya dapat terus terjalin secara berkelanjutan demi masa depan desa yang lebih cerah.
Kisah dari Kemiren membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari luar, melainkan dari keberanian seorang putra daerah yang peduli pada tanah kelahirannya. Setiap daerah memiliki potensi yang sama asalkan ada pihak yang berani memulai langkah pertama. Waktunya turun tangan. Sekarang, giliran kamu yang membuat perubahan!
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Desa Kemiren: Menjaga Budaya, Menguatkan Warga dan Mengembangkan Pariwisata
-
From Zero to Hero, Kisah Kang Edai Bawa Budaya Osing Mendunia
-
Saat Budaya Osing dan Senyum Astra Menggerakkan Desa di Ujung Sawah Kemiren
-
Menemukan Makna Pulang di Les: Belajar dari Nyoman Nadiana dan Desa Sejahtera Astra
-
Tour de Les dan Perjuangan Bli Nyoman Mengubah Sepinya Bali Utara
News
-
UPH Festival 2026 Bekali Hampir 7.000 Mahasiswa Baru Temukan Jati Diri dan Panggilan sebagai Menemu
-
Jelang HUT ke-81 RI, 81 Pesawat hingga Rafale Bakal Hiasi Langit Istana Merdeka
-
Atasi Ketergantungan Energi Fosil, ITS Kembangkan Pembangkit Hibrida Angin dan Surya
-
From Zero to Hero, Kisah Kang Edai Bawa Budaya Osing Mendunia
-
Menemukan Makna Pulang di Les: Belajar dari Nyoman Nadiana dan Desa Sejahtera Astra
Terkini
-
Membaca Daya Beli dari Antrean SPBU: Potret Ekonomi di Balik Pilihan BBM
-
Saturnus dan Bumi
-
Our Sticky Love: Saat Gangster Berhati Lembut Selamatkan Cinta Pertamanya
-
Bye-Bye Wajah Pucat! Ini 5 Pilihan Ombre Blush untuk Rona Pipi Menawan
-
Setelah 10 Tahun Cristiano Ronaldo Akhirnya Menikahi Georgina Rodriguez