“Kami ingin garam tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.” Ucap Nyoman Nadiana.
Memang yang disampaikannya ini terdengar sederhana namun sangat membekas dan bermakna, bahwa apa yang sedang ia bicarakan sebenarnya bukan hanya tentang hari ini melainkan tentang masa depan.
Dari desa Les kita paham ada saatnya perubahan besar datang bukan dari kota yang besar tetapi dari kota kecil yang punya keunikan. Inilah desa Les, Buleleng, Bali, yang punya cara tersendiri untuk bercerita tentang masa depan. Bukan lewat gedung-gedung tinggi atau industri yang besar melainkan melalui laut, garam, lingkungan, dan orang-orang yang memilih bertahan untuk mengembangkan desanya. Di tengah perjalanan itu, ada penggerak yang ikut memastikan potensi lokal Desa Les tidak berhenti begitu saja. Ada petani yang mampu merawat dan menjaga hasil bumi. Ada tradisi yang selalu diwariskan hingga kelak anak-anak muda semangat dan percaya diri untuk melanjutkannya.
Di balik itu, sosok inilah yang dikenal sebagai Local Champion Desa Sejahtera Astra dimana ia turut menghidupkan potensi desa. Beliau adalah Nyoman Nadiana, sosok yang dikenal sebagai Local Champion di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali.
Bagi orang yang baru mendengar nama Local Champion, mungkin belum tau. Beliau merupakan salah satu penggerak desa yang perannya sangat penting dan bermanfaat bagi perubahan desa.
Dengan kita melihat lebih dekat perjalanan Bli Nyoman bersama Desa Les, perannya tentu sangat bermakna. Karena tak mudah bagi anak muda untuk selalu berjuang hingga menjadikan sebuah desa kecil menjadi desa yang semakin berkembang, tanpa takut kehilangan jati dirinya.
Nyoman Nadiana dan Segenggam Produk Lokal yang Penuh Rasa
Di desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali terdapat produk unggulan lokal yang bernama Garam Palungan. Garam palungan merupakan salah satu warisan yang masih tetap dijaga oleh masyarakat di tengah perubahan zaman saat ini. Dari garam inilah, garam bukan hanya sekadar bumbu dapur, melainkan menjadi penanda identitas tersendiri bagi desa Les.
Produksi garam yang satu ini memang masih menggunakan metode tradisional. Dengan metode air laut, tanah pesisir, dan bantuan cahaya matahari. Proses pembuatan Desa Les seperti menyaksikan pengetahuan kuno yang masih hidup. Tanah pantai dicampur air laut, diaduk dan dibolak-balik berulang kali hingga menyerap kadar garam. Setelah itu tanah disaring menggunakan tinjung, alat tradisional berbentuk kerucut yang menjadi ciri khas produksi garam di daerah ini. Air garam pekat yang dihasilkan kemudian dijemur hingga menghasilkan kristal-kristal putih yang siap dipanen. Semua dilakukan dengan kesabaran. Kesabaran yang mungkin sudah mulai langka di dunia yang serba instan.
Proses pembuatan garam ini memang sederhana. Akan tetapi di sinilah tradisi yang sederhana ini butuh perjuangan untuk mempertahankan itu. Bli Nyoman atau dikenal juga dengan nama Nyoman Nadiana menyebutkan persoalan saat ini hanya sekitar 15 petani yang masih aktif memproduksi garam tradisional di Desa Les.
“Jumlah petani garam memang tidak sebanyak dulu. Karena itu upaya pelestarian dan pengembangan sangat penting agar tradisi ini tetap bertahan,” kata Nadiana dalam wawancara yang dimuat detikBali pada Juni 2026.
Bayangkan, jika tidak ada lagi generasi yang mau melanjutkan entah apa jadinya produk khas lokal ini. Padahal yang hilang bukan hanya produk, tetapi juga pengetahuan tentang bagaimana leluhur mengolah laut menjadi sesuatu yang berharga.
Itulah mengapa hadirnya Bli Nyoman tidak tanggung-tanggung, tak hanya menjadi penggerak tapi juga mampu mempertahankan tradisi desa agar masa depan desa lebih baik. Dan masa depan itu salah satunya datang melalui nilai ekonomi.
Bagi Bli Nyoman, barangkali di situlah tantangan yang sebenarnya. Mempertahankan tradisi tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa tradisi itu penting. Tradisi harus tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat. Ketika sebuah produk mampu memberikan penghasilan, ketika anak muda melihat ada peluang di desanya sendiri, ketika masyarakat memiliki alasan untuk terus merawat lingkungan, maka warisan tersebut memiliki kesempatan untuk terus hidup.
Karena itu, cerita tentang Bli Nyoman tidak berhenti pada garam. Ada masyarakat yang perlu diberdayakan, ada generasi muda yang perlu dipersiapkan, ada lingkungan yang harus dijaga, dan ada kesehatan yang menjadi fondasi kehidupan warga. Di sinilah peran Bli Nyoman terasa semakin penting. Ia bukan orang yang bekerja sendirian, apalagi mengambil alih apa yang telah dimiliki masyarakat. Ia justru menjadi penghubung yang membantu berbagai potensi desa untuk bergerak bersama.
Gimana keren, kan?
Desa Les Melangkah Lebih Jauh Bersama Astra
Berawal dari perjuangan Bli Nyoman yang terus mencoba berusaha menjadikan garam palungan agar bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Hingga Bli Nyoman akhirnya menemukan jalannya.
Sebuah produk lokal yang takkan kuat bertahan jika hanya mengandalkan masyarakat sekitarnya. Apalagi produk tersebut hanya dikenal oleh masyarakat sekitar saja. Ia membutuhkan jalan untuk bertemu dengan lebih banyak orang, pasar yang lebih luas, dan tentu saja nilai ekonomi yang dapat kembali kepada masyarakat.
Di sinilah perjuangan Bli Nyoman tak sia-sia. Perjalanan Bli Nyoman akhirnya menemukan titik terangnya. Ketika Bli Nyoman bertemu dengan Astra yang hadir dengan programnya yang luar biasa yaitu Desa Sejahtera Astra (DSA).
Keseriusan Bli Nyoman dan masyarakat dalam mengembangkan potensi tersebut juga membawa Desa Les meraih Juara Umum kategori Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Saat penghargaan tersebut diterima, Nadiana hadir sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Astra telah mendampingi desa Les melalui KBA sejak 2018 bahkan pendampingan pada DSA di Desa Les sejak 2024. Dalam pendampingan ini, Astra berfokus memberikan arahan pada empat bidang utama yaitu kewirausahaan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Menariknya, dari empat bidang ini masing-masingnya mampu memberikan pembangunan atas potensi desa yang selama ini dibiarkan begitu saja.
Produk Lokal dengan Jalan Penghidupan Bagi Masyarakat
Bagaimana jadinya satu produk lokal yaitu garam palungan yang lahir dari tanah dan laut Desa Les ini mampu menghidupkan masyarakat desa? Dalam bidang kewirausahaan, yakni untuk produksi garam tradisional akan terus diperkuat. Selain itu, pada saat pemasaran garam pun didukung oleh BUMDes. Dan kini kehadiran Astra ikut membantu produk lokal agar dikenal oleh masyarakat luas. Dalam pemberitaan detikFinance, Nadiana menyebutkan:
“Astra membantu membuka jalan untuk pemasaran garam Desa Les, dan diharapkan ke depannya bisa semakin meningkat.”
Menurutku inilah saatnya desa Les bertumbuh bersama Astra. Produk lokal desa Les seperti garam palungan yang tak begitu dikenal oleh masyarakat luar, kini hadirnya Astra membawa angin segar bagi desa Les. Sebab Astra dapat membantu mempromosikan produk lokal ini agar dapat dikenal oleh banyak orang di luar sana.
Dan diperluas jalannya agar produk lokal tersebut dapat bertemu dengan pasarnya. Untuk pemasaran garam Desa Les ini tentunya mendapat dukungan melalui kerja sama dengan BUMDes Giri Segara dan Pemerintah Provinsi Bali. Permintaan pembelian disebut mencapai sekitar satu ton per bulan, dengan nilai hampir Rp 25 juta per bulan. Inilah kehidupan masyarakat berubah drastis, menjadi lebih cerah.
Merawat Manusia, Merawat Masa Depan Desa
Sebuah desa tidak akan benar-benar sejahtera hanya karena produk lokalnya laku di pasaran saja. Di balik setiap usaha yang tumbuh, ada manusia yang harus tetap sehat untuk menjalankannya. Karena itu, perjalanan Desa Les menuju kesejahteraan juga dimulai dari hal yang paling mendasar: kesehatan manusianya.
Bli Nyoman juga didampingi oleh Astra bersama masyarakat dan kader desa melakukan kegiatan di bidang kesehatan seperti Posyandu, edukasi kehamilan, serta pemberian makanan tambahan bagi anak yang mengalami stunting dan gizi buruk. Seorang ibu yang mendapatkan pengetahuan tentang kehamilan sedang dipersiapkan untuk melahirkan generasi yang lebih sehat. Seorang anak yang mendapatkan perhatian terhadap gizi sedang dipersiapkan untuk tumbuh. Dan kader Posyandu yang semakin aktif sedang memperkuat fondasi kesehatan desa.
Bli Nyoman percaya begitu orang-orang di dalam desa tumbuh sehat, maka pembangunan desa pun mampu bertumbuh lebih pesat. Oleh karenanya, kesehatan itu menjadi satu hal yang penting untuk diperjuangkan.
Membekali Anak Muda dengan Pengetahuan dan Keterampilan
Nyoman Nadiana sendiri pernah menulis tentang Mia Juni Antari, anak muda Desa Les yang menjadi pemandu wisata sekaligus menularkan kemampuan bahasa Inggris kepada teman-teman sebayanya. Ada pula Ayu Restia Putri, generasi muda Desa Les yang melatih tari kepada anak-anak desa.
Ketika pengembangan kapasitas generasi muda menjadi bagian penting dalam DSA Desa Les. Di bidang pendidikan, ada satu hal yang menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan desa yaitu generasi muda. Karena siapa lagi yang akan meneruskan, jika bukan generasi muda. Jika hari ini tidak lagi ada anak muda, maka gimana masa depan desa Les nantinya?
Karena itu, kelas bahasa Inggris dan pelatihan pariwisata yang mempersiapkan anak muda untuk menjadi local guide. Kegiatan pendidikan yang juga mendorong perkembangan usaha lokal, pengelolaan wisata, promosi digital, dan berbagai inisiatif kreatif berbasis masyarakat, apapun itu mendapat dukungan dari Astra.
Menariknya, Desa Les sudah memiliki contoh bahwa anak muda bisa mengambil peran tersebut. Dari sini kita bisa melihat bahwa regenerasi bukan sekadar meminta anak muda “tinggal di desa”. Mereka harus diberi alasan untuk merasa bahwa desa mereka punya masa depan.
Di sinilah pendidikan memiliki makna yang lebih bermakna. Anak muda tak hanya dibekali kemampuan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga diberi kesempatan untuk menemukan peran di tempat mereka berasal.
Dari Laut hingga Daratan, Perjuangan Bli Nyoman dalam Merawat Lingkungan Desa
Laut membutuhkan masyarakat yang peduli. Daratan membutuhkan warga yang mau bergerak. Dan desa membutuhkan generasi yang memahami bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan bagian dari kehidupan mereka sendiri.
Di sinilah peran Bli Nyoman menjadi menarik. Tak hanya berdiri sebagai orang yang menjaga lingkungan. Justru kekuatannya juga terletak pada kemampuannya yang ikut mengajak masyarakat untuk kerjasama dalam tanggung jawab pada lingkungan.
Seperti halnya yang telah diterapkan di daratan melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Program Les Grow mendorong warga untuk mulai memilah sampah dari rumah. Sampah organik kemudian dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sehingga kompos ini menjadi sesuatu hal yang berguna kembali dan memiliki manfaatnya.
Selain itu, upaya Bli Nyoman dan masyarakat untuk terus menjaga kawasan pesisir dan ekosistem laut melalui konservasi serta transplantasi terumbu karang. Karena salah satunya desa ini punya laut yang indah, pesisir, aktivitas snorkeling dan diving, serta lanskap desa yang menghubungkan kawasan pegunungan dan laut.
Dan tentunya ada pula konservasi dan transplantasi terumbu karang untuk menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Cara berpikir seperti ini sejalan dengan pandangan Bli Nyoman mengenai hubungan gunung dan laut. Karenanya lingkungan tidak akan pernah selesai jika hanya dilakukan setengah-setengah oleh satu orang saja.
Nyoman Nadiana, Bergerak dari Desa Demi Menjaga Masa Depan
Desa Les bukanlah desa yang baru menemukan potensi yang dimilikinya. Nyoman Nadiana menyebutkan Desa Les sebagai salah satu desa tua atau Bali Mula, yang telah ada sejak abad ke-9. Sejarah panjang tersebut berjalan berdampingan dengan kekayaan alam, budaya, kehidupan masyarakat, hingga potensi wisata yang terus dikembangkan.
Di titik inilah perjalanan Bli Nyoman bergerak menuju masa depan. Ia hadir di tengah cerita yang sudah ditulis oleh leluhur dan masyarakat selama bertahun-tahun, kemudian ikut memastikan agar cerita itu tidak berhenti di generasinya. Ia berusaha agar nilai ekonomi maju terus di masa depan. Karena kesejahteraan masyarakat tidak mungkin dibangun dalam sekejap.
Ada anak-anak muda yang dibekali serta mampu mengambil peran dalam perkembangan desanya. Sebab di balik laut, pesisir, dan lingkungan yang dirawat ada kehidupan dan penghidupan masyarakat di sana. Bli Nyoman dan masyarakat Desa Les tetap menjadi bagian penting dari cerita itu.
Bahkan sebuah program tidak akan berarti jika tak ada masyarakat yang mau bergerak. Dan seorang Local Hero, Bli Nyoman yakin bahwa sesuatu yang sudah dimiliki desa ternyata masih bisa tumbuh lebih besar.
Bli Nyoman bergerak dari desa, bersama masyarakat, dan untuk masa depan desa itu sendiri. Pada akhirnya, segenggam garam dari Desa Les yang akan membawa rasa yang jauh lebih besar untuk kemajuan desa Les tercinta. Terlebih penggerak dari anak muda desa Les juga memilih ikut turun tangan untuk memastikan pertumbuhan desa itu tetap memiliki arah di masa depannya.
Artikel Terkait
-
Bukan Sekadar Desa Wisata, Ini Rahasia Osing Kemiren Merawat Lingkungan Tetap Lestari
-
Kang Edai, Sosok di Balik Warisan Budaya Desa Kemiren
-
Mikroplastik Ditemukan pada Garam Laut di Lombok, Akankah Ganggu Keamanan Pangan?
-
Genjer, Stigma, dan Kang Edai, Sang Penggerak Desa Sejahtera Astra Kemiren
-
Menjaga Laut, Garam, dan Tradisi Desa Les di Tengah Modernitas
News
-
Kang Edai, Sosok di Balik Warisan Budaya Desa Kemiren
-
Nelayan Kecil Merugi, Mengapa Penangkapan Ikan Ilegal Terus Merajalela?
-
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
-
Kisah Bli Nyoman 'Don Rare': Pulang Kampung Mengubah Garam Desa Les Jadi Emas Pariwisata
-
Wajah Baru Pasar Godean Usai Relokasi, Pedagang Masih Perlu Beradaptasi
Terkini
-
Merayakan Kemerdekaan?
-
Bukan Sekadar Desa Wisata, Ini Rahasia Osing Kemiren Merawat Lingkungan Tetap Lestari
-
Cegah Penuaan! 4 Serum Anti-Aging Korea Kunci Wajah Awet Muda dan Kenyal
-
Cara Sederhana Ibu Rayakan Kemerdekaan, Lomba Hias Tumpeng di Sekolah Anak
-
Satu Porsi Sehari Bukan Solusi: Logika MBG di Tengah Beban Makan Keluarga