Datang sendirian ke sebuah kegiatan yang diikuti puluhan orang asing ternyata cukup membuat saya bertanya-tanya: bakal canggung nggak, ya? Duh, ada teman ngobrolnya nggak, ya?
Pertanyaan itu terus-menerus terlintas ketika saya menuju titik kumpul Jalan Kaki Tipis-Tipis, sebuah agenda yang diselenggarakan oleh komunitas Trip Tipis-Tipis (TRIPTIS) di kawasan Pasar Minggu. Dari kejauhan, saya melihat sekelompok orang sedang berdiri membentuk lingkaran. Tampaknya mereka tengah memperkenalkan diri satu sama lain sebelum perjalanan dimulai. Dalam hati, saya langsung berpikir, "Wah, ini ketinggalan nih!"
Namun, begitu saya mendekati rombongan, seorang laki-laki berbaju putih datang menghampiri. Ia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Saya yang masih mencari-cari sosok bernama Dika langsung bertanya, "Mas Dika?" Pandangannya kemudian beralih ke pria lain di dekat rombongan. "Bukan. Itu yang di sana. Saya Gilang," jawabnya.
Belum sempat saya melanjutkan percakapan, seorang laki-laki lain dengan topi keabuan ikut menyapa. "Halo, saya Adhe."
Saya pun diminta bergabung dan memperkenalkan diri. Tidak lama, Dika mengeluarkan sebuah kamera polaroid dan memotret saya. Selembar kertas dengan foto hitam putih perlahan keluar dari kamera, lalu saya diminta menuliskan nama di baliknya. Rupanya, foto itu akan digunakan dalam sesi penghujung acara.
Setelah semua orang selesai berkenalan, Dika bersama Adhe dan Gilang mulai memimpin barisan. Saya ikut berjalan di antara orang-orang yang beberapa menit sebelumnya masih terasa asing. Orang pertama yang mengajak saya mengobrol adalah Bani asal Jakarta Timur. Ia mengaku sebelumnya sudah pernah mengikuti kegiatan serupa di agenda Mendadak Piknik Tipis-Tipis Volume 2. Percakapan singkat yang hangat itu cukup untuk memecahkan es dan membuat saya merasa tidak sendirian.
Dari Pasar Minggu hingga Gang-Gang Sempit
Rute Jalan Kaki Tipis-Tipis kali ini membawa kami berkeliling menyusuri denyut nadi Pasar Minggu. Awalnya, pemandangan yang kami temui cukup familier: pedagang sayur, bumbu dapur, buah-buahan, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun, semakin jauh melangkah, rutenya menembus ke bagian dalam pasar.
Kami melewati lorong yang menjual aneka plastik, kolang-kaling ciri khas Lebaran, daging, hingga lapak ikan segar. Suasana di sekitarnya sangat padat. Jalanan dipenuhi oleh kendaraan atau gerobak yang lalu lalang, sampai tidak terasa pijakan kami mulai becek bercampur dengan sisa aktivitas pasar. Langkah demi langkah harus diambil hati-hati agar tidak terpeleset. Bau khas pasar tradisional berbaur dengan riuhnya sahut-sahutan pedagang.
Rombongan kami yang jumlahnya kurang lebih 25 orang ternyata cukup mencolok dan menarik perhatian warga sekitar. Tidak jarang beberapa pedagang memandang kami dengan ekspresi keheranan. "Rombongan dari mana nih?" tanya mereka.
Kami menimpali keheranan tersebut dengan candaan santai: "Lagi study tour nih, Bu!", "Tugas kuliah!", atau "Blusukan aja nih!"
Tidak terasa kami sudah keluar dari area pasar. Dika bersama rombongan menyusuri Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), berfoto sejenak, melintasi rel kereta api, lalu menyelinap ke dalam gang-gang padat di dekat Stasiun Pasar Minggu. Di sinilah saya mulai merasa bahwa kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa. Saya sedang diajak membedah sisi Jakarta yang selama ini mungkin hanya terlewat dari pinggir jendela kendaraan.
Wajah Lain Jakarta yang Luput dari Perhatian
Selama ini, Jakarta lebih sering dicitrakan sebagai ibu kota yang dipenuhi gedung pencakar langit, jalan protokol yang lebar, mal mewah, hingga transportasi umum yang sangat memadai. Namun, berjalan kaki blusukan siang itu memaksa saya melihat Jakarta dari kacamata yang berbeda.
Di balik megahnya kota, masih ada lanskap padat dengan gang sempit, jalanan yang tak selalu bersih, dan rumah-rumah yang atapnya hampir saling bersentuhan. Motor terus melintas tanpa henti di medan yang cukup terjal. Bahkan, kami menjumpai kotoran hewan berserakan hingga sebuah rumah yang memiliki dapur persis di halaman depannya.
Awalnya, sempat terbersit pikiran bahwa masih ada tempat-tempat yang kurang terurus di ibu kota. Namun, hal itu justru menyadarkan saya bahwa Jakarta memiliki lebih dari sekadar satu wajah. Di balik gemerlap kemajuan kota, ada roda kehidupan yang terus berputar dalam kesederhanaannya sendiri yang luput dari sorotan kamera eksklusif, tetapi sangat nyata dihidupi oleh warganya. Jakarta bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang hidup bagi ribuan nasib dan latar belakang yang berbeda.
Selama perjalanan, nyaris tidak ada obrolan yang serius. Semuanya mengalir ringan, diisi dengan celetukan receh yang sukses mengundang tawa. Momen paling kocak terjadi ketika rombongan kami tiba di pinggir Kali Ciliwung.
Saat kami sedang berhenti untuk mengamati kawasan tersebut, tiba-tiba muncul seekor biawak berukuran lumayan besar yang asyik berenang santai di aliran kali. Sontak, perhatian puluhan orang langsung teralih. Semua kaget campur heran, lalu buru-buru mengeluarkan ponsel untuk mendokumentasikannya. Kejadian-kejadian random seperti inilah yang perlahan mengikis habis sekat kecanggungan di antara kami.
Kenalan dengan Stranger Ternyata Tidak Seburuk Itu
Setelah Bani, lingkar pertemanan saya mulai merembet. Saya berkenalan dengan Susan, Rere, Nisa, dan banyak lagi. Kami yang tadinya berstatus stranger mulai berinteraksi luwes. Rere bahkan tak segan meminjamkan payungnya untuk saya karena teriknya matahari siang itu benar-benar terasa membakar kulit kepala.
Tak terasa, perjalanan kaki blusukan itu bermuara di destinasi terakhir: sebuah kafe rumahan asri bernama Sunday Garage Club. Kedatangan kami disambut hangat oleh pemiliknya. Nuansanya sangat teduh, dipenuhi rimbunnya Kamboja Bali, Palem Jepang, Paku Sarang Burung, hingga sulur-sulur anggur yang memayungi area duduk kami dari teriknya matahari siang.
Kami pun berpencar mencari tempat duduk, mengobrol, bertukar nama akun media sosial, hingga memesan minuman. Kecanggungan yang sempat saya khawatirkan di awal sirna tak berbekas; rasanya seperti sedang nongkrong bersama teman lama.
Di sela-sela istirahat, Dika, Adhe, dan Gilang meminta kami mengisi kesan dan pesan sesuai nama yang tercantum di kertas polaroid itu—jadi kami tidak mengisinya dengan nama sendiri. Setelah semuanya terkumpul, kertas itu dibagikan kembali kepada pemilik aslinya.
Satu per satu dari kami diminta maju ke depan untuk membacakan pesan tersebut di hadapan semua orang. Tidak ada yang malu-malu karena para fasilitator terus-menerus memantik semangat dengan sorakan meriah, "Tepuk tangannya dong buat Korin!"
Acara ditutup dengan sesi makan siang, bertukar cerita, hingga pembagian doorprize berhadiah lucu. Di titik inilah, saya merasa "klik". Bukan karena saya sudah menghafal seluruh nama atau latar belakang mereka, tetapi karena saya merasa diterima tanpa perlu berusaha keras menjadi orang lain.
Jalan kaki hari itu menampar kesadaran saya: mengenal sebuah kota tidak selalu harus dengan mendatangi landmark ikoniknya. Kadang kala, kita hanya perlu berjalan lebih pelan, menyelinap ke dalam gangnya, dan melihat langsung kehidupan yang berdenyut di balik megahnya jalan raya.
Saya juga menyadari bahwa status stranger hanyalah tembok buatan. Siapa sangka, puluhan orang asing yang pagi itu baru bertatap muka untuk pertama kali, beberapa jam kemudian sudah bisa tertawa lepas, berbagi payung, bertukar curhat, dan duduk bersama layaknya sahabat lama?
Mungkin itulah esensi "tipis-tipis" yang sesungguhnya. Tidak perlu rencana perjalanan yang megah atau memusingkan. Cukup berjalan kaki, membuka diri, dan membiarkan Jakarta serta orang-orang di dalamnya menunjukkan wajah paling aslinya.
Baca Juga
-
Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
-
Belajar Menjaga Sungai dari Tradisi Lubuk Larangan Malako Kociak
-
Tanah Bekas Tambang Ternyata Masih Punya Kehidupan, Ini Temuan IPB
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
Artikel Terkait
-
Buka Jalan Kuliah ke New York, Pemprov DKI Rancang Beasiswa Bergengsi LPDP Jakarta
-
Pramono Anung Ancam Pecat ASN yang Terbukti Jadi Calo Rekrutmen Damkar
-
Dadan Hindayana dan 5 Tersangka Korupsi MBG Dilimpahkan ke Kejari Jakpus
-
Praperadilan Ditolak! Status Tersangka Silmy Karim di Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Sah
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
News
-
Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat
-
Merasa Bersalah Kalau Lagi Istirahat? Saatnya Belajar Seni Memberi Jeda Lewat Tulisan Reflektif
-
Mengenal TRIPTIS: Ruang 'Haha-Hihi' Buat Dewasa Muda yang Mulai Kehilangan Teman Nongkrong
-
Unik! Festival Musik 'Padepopan: Sweet Escape' Siap Guncang Terminal Jatijajar Depok
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
Terkini
-
Jadwal MotoGP Jepang 2026: Sengitnya Rivalitas Jorge Martin dan Marc Marquez
-
Tazza: The Song of Beelzebub: Intrik Yakuza, Pengkhianatan, dan Plot Twist Bikin Nahan Napas
-
Perjuangan Leo/Daniel di Asian Games 2026: Sembuh Cedera hingga Raih 2 Emas
-
Anti Lengket! 5 Sunscreen Gel Lokal SPF 50 untuk Perlindungan Maksimal
-
Everyone's Darling Has a Secret Dapat Anime, Romansa Siswa Biasa dan Idol