M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Pexels / Suyash Batra)
Atalie June Artanti

Gunung Kawi dan Gunung Butak kembali menjadi perhatian karena terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area pegunungan tersebut yang semakin meluas. Api besar terjadi di Pos 2 jalur pendakian Sirah Kencong, Kabupaten Blitar, pada pertengahan bulan September 2026.

Upaya pemadaman menghadapi tantangan yang berat. Medan yang curam dan terjal menyulitkan gerakan para personel, sementara angin yang sangat kencang membuat operasi pemadam dari udara menjadi lebih sulit.

Kawi dan Butak: Puncak yang Berdampingan

Gunung Kawi dan Gunung Butak berada dalam satu kawasan vulkanik Kawi–Butak. Gunung Butak merentang di atas area Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, dengan ketinggian sampai sekitar 2.868 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara itu, Gunung Kawi berada tepat di sampingnya dengan ketinggian sekitar 2.551 mdpl.

Gunung Butak memiliki ciri-ciri sebagai stratovulkano yang berbentuk kerucut. Namun, tidak ada catatan sejarah tentang letusan gunung tersebut; hal ini juga serupa untuk Gunung Kawi. Pernyataan tersebut berarti tidak ada catatan erupsi historis yang diketahui, bukan berarti dapat disimpulkan bahwa kawasan tersebut sama sekali tidak pernah mengalami aktivitas vulkanik.

Padang Sabana dan Jalur Pendakian yang Menarik

Gunung Butak selama ini menjadi salah satu tujuan pendakian karena memiliki bentang alam yang berubah seiring bertambahnya ketinggian. Jalurnya melewati kawasan hutan hingga area terbuka dan sabana.

Salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh pendaki adalah Cemoro Kandang, yang berada di ketinggian sekitar 2.670 mdpl. Dari titik ini, para pendaki bisa terus berjalan menuju puncak Gunung Butak. Tersedia beberapa jalur untuk mendaki, salah satunya adalah jalur Sirah Kencong yang berada di daerah Blitar.

Selain memiliki medan yang unik, area Gunung Butak juga menawarkan pemandangan alam berupa panorama pegunungan di wilayah Jawa Timur. Saat cuaca terang, para pendaki bisa melihat puncak-puncak gunung lain dari sini, seperti Gunung Semeru dan rangkaian pegunungan Arjuno-Welirang.

Namun, kondisi alam yang menjadi daya tarik tersebut sekaligus dapat menjadi tantangan ketika terjadi kebakaran.

Karhutla Meluas Hingga Pos 2 Sirah Kencong

Pada pertengahan September 2026, api di lereng Gunung Kawi dan Gunung Butak yang terletak di wilayah Blitar dilaporkan terus meluas. Hingga 15 September, kobaran api sudah sampai ke Pos 2 jalur pendakian Sirah Kencong. Medan yang curam dan terjal membuat pemadaman api secara manual menjadi berisiko bagi para petugas.

Tim yang bertugas memadamkan api juga mengalami kesulitan karena angin yang sangat kencang. Upaya water bombing menggunakan helikopter telah dilakukan, tetapi kondisi angin di wilayah Blitar membuat operasi udara belum dapat berjalan optimal. Akibatnya, fokus upaya pemadaman udara diarahkan ke area Puncak Gunung Butak yang berada di wilayah Kabupaten Malang.

Kebakaran Tidak Hanya Terjadi pada Satu Lokasi

Kebakaran di area Kawi–Butak terjadi di beberapa tempat sekaligus. Laporan dari Radar Malang yang diterbitkan pada 16 September menunjukkan bahwa api di sekitar puncak Gunung Kawi (Kawinajang) masih berlangsung dan area yang terkena dampak terus meluas. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa api, yang pertama-tama mencuat di daerah Ngantang, sudah menyebar ke daerah Dau dan Wagir.

Karena titik api tersebar dan beberapa di antaranya berada di daerah yang sulit dijangkau, penanganan situasi ini membutuhkan pemantauan serta strategi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Kebakaran Sebelumnya pada Awal September

Kebakaran di kawasan Butak juga sempat terjadi pada awal September 2026. Saat itu, kebakaran di kawasan Gunung Butak membuat 271 pendaki dievakuasi untuk keselamatan. Sejumlah jalur pendakian juga ditutup sementara. Kebakaran tersebut kemudian dilaporkan berhasil dipadamkan.

Peristiwa awal September ini perlu dibedakan dari perkembangan karhutla pada pertengahan September. Keduanya berada dalam kawasan pegunungan yang berdekatan, tetapi merupakan rangkaian kejadian yang dilaporkan pada waktu berbeda.

Saat Keindahan Pegunungan Menjadi Sebuah Tantangan

Gunung Kawi dan Gunung Butak sudah lama terkenal karena pemandangan, jalur mendaki, dan keindahannya yang menakjubkan. Namun, kebakaran menunjukkan bahwa kawasan pegunungan juga memiliki risiko ketika api menyebar di medan yang sulit dijangkau.

Bagi petugas, tantangannya bukan hanya menemukan titik api, tetapi juga mencapai lokasi dengan aman. Lereng yang curam, titik api yang menyebar, kepulan asap, serta kondisi angin membuat pekerjaan pemadaman semakin sulit.

Sementara itu, perkembangan kebakaran hingga 16 September masih berlangsung dan terus dipantau. Karena kondisi di lapangan dapat berubah, informasi mengenai luas area terdampak maupun titik api juga perlu mengikuti pembaruan dari pihak berwenang.

Akhirnya, Gunung Kawi dan Gunung Butak bukan hanya sekadar nama di peta pendakian. Kawasan ini memiliki karakter bentang alam yang menarik sekaligus menghadapi tantangan kebakaran yang membutuhkan penanganan hati-hati. Selama proses pemadaman berlangsung, perlindungan keselamatan para pekerja dan masyarakat tetap menjadi hal yang paling utama.