Beberapa waktu lalu saya membeli semangka tanpa biji untuk menjamu tamu. Harganya sekitar Rp70.000. Tidak sampai membuat dompet jebol, tetapi cukup untuk memunculkan pertanyaan yang menggelitik: sejak kapan membeli buah terasa seperti membeli sesuatu yang istimewa?
Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, coba perhatikan kebiasaan di sekitar kita. Buah sering hadir dalam momen-momen tertentu: saat ada tamu, ketika menjenguk orang sakit, atau sebagai pelengkap acara keluarga. Tidak sedikit rumah tangga yang menjadikan buah sebagai konsumsi sesekali, bukan santapan harian.
Ironisnya, keadaan itu terjadi di Indonesia, negara tropis yang sejak lama dikenal kaya akan hasil perkebunan dan pertanian. Mangga, pisang, pepaya, semangka, melon, nanas, hingga berbagai buah musiman tumbuh di banyak daerah. Namun, di saat yang sama, tidak semua orang merasa mudah memasukkan buah ke dalam daftar belanja rutin.
Sebaliknya, makanan berbahan tepung justru hadir sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di depan sekolah, pasar, atau pinggir jalan, kita dengan mudah menemukan cireng, cilok, cimol, cilor, bakso aci, martabak, hingga aneka gorengan. Harganya terjangkau, rasanya akrab di lidah, dan mampu mengganjal perut ketika lapar datang.
Bagi banyak anak, uang saku beberapa ribu rupiah sudah cukup untuk membeli jajanan tersebut. Pilihan yang tersedia pun beragam. Tidak mengherankan jika makanan berbahan tepung menjadi bagian dari pengalaman masa kecil banyak orang Indonesia.
Namun, tulisan ini bukan hendak menyalahkan para pelaku UMKM. Justru sebaliknya. Mereka adalah bagian penting dari roda ekonomi rakyat. Di balik gerobak cilok atau lapak cireng, ada keluarga yang menggantungkan penghasilan, ada biaya sekolah anak yang harus dibayar, dan ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi setiap hari.
Pedagang jajanan tidak sedang bersaing dengan petani buah. Mereka hanya menjual apa yang disukai pasar dan mampu dibeli masyarakat. Karena itu, menjadikan UMKM sebagai kambing hitam tentu bukan jawaban.
Akan tetapi, ada ironi lain yang jarang dibicarakan. Dalam beberapa tahun terakhir, UMKM kerap dipromosikan sebagai pahlawan ekonomi. Setiap ada persoalan pengangguran, perlambatan ekonomi, atau keterbatasan lapangan kerja formal, jawabannya hampir selalu sama: dorong masyarakat berwirausaha, buka usaha kecil, dan dukung UMKM.
Pesan tersebut tentu tidak salah. Banyak usaha kecil yang berhasil menghidupi keluarga bahkan membuka pekerjaan bagi orang lain. Namun, di balik narasi itu, ada pertanyaan yang layak diajukan. Apakah maraknya usaha makanan dan jajanan di berbagai sudut kota sepenuhnya lahir karena peluang, atau sebagian juga lahir karena terbatasnya pilihan pekerjaan yang tersedia?
Ketika seseorang menjual cilok, gorengan, atau minuman kemasan, kita sering melihat semangat kewirausahaannya. Namun, kita jarang bertanya apakah pilihan itu diambil karena memang menjadi cita-cita, atau karena tidak banyak alternatif pekerjaan yang bisa diakses. Dalam konteks ini, keberhasilan UMKM kadang menyimpan cerita yang lebih kompleks daripada sekadar kisah sukses ekonomi rakyat.
Pada saat yang sama, media sosial dipenuhi konten jajanan viral, rekomendasi kuliner murah, hingga tren makanan baru yang cepat menyebar. Aneka makanan memperoleh ruang promosi yang sangat besar karena dekat dengan keseharian masyarakat. Sementara itu, buah-buahan jarang menjadi bintang dalam percakapan publik. Ia hadir sebagai pelengkap, bukan sebagai pusat perhatian.
Akibatnya, kita tumbuh dalam lingkungan yang sangat akrab dengan jajanan tepung, tetapi tidak selalu memiliki kedekatan yang sama dengan buah-buahan. Padahal keduanya tidak perlu dipertentangkan. Jajanan rakyat memiliki tempatnya sendiri, begitu pula buah sebagai sumber gizi yang penting.
Mungkin persoalannya bukan karena masyarakat Indonesia tidak menyukai buah. Bisa jadi buah perlahan semakin jauh dari jangkauan konsumsi sehari-hari. Di situlah letak ironi yang patut direnungkan: di negeri yang tanahnya mampu menumbuhkan beragam buah, kita lebih sering merayakan makanan olahan daripada hasil kebun. Buah perlahan berubah menjadi kemewahan kecil, sementara gerobak jajanan menjadi simbol betapa masyarakat selalu menemukan cara bertahan di tengah keterbatasan pilihan ekonomi.
Baca Juga
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
-
Sound Horeg dan Pertanyaan yang Belum Usai: Pantaskah Ia Disebut Budaya?
-
Mengenal Midah, Tokoh Perempuan Pramoedya sebelum Nyai Ontosoroh
-
Setia pada Provider Lama Nyaman, tapi Mengapa XL Kembali Menarik Perhatian?
Artikel Terkait
-
Terdampak Debu Proyek! Warga Cilincing Desak KCN Beri Kompensasi Bukan Sekadar Vacuum Cleaner
-
Warga Cilincing Minta Kompensasi Jangka Panjang Imbas Debu Proyek KCN
-
Debu Proyek Reklamasi KCN Terbang ke Rumah Warga, Sehari Bisa Nyapu-Ngepel 5 Kali
-
Bulog Optimalkan 2 Jurus Penugasan Pemerintah untuk Kendalikan Harga Beras
-
Bukan Acara Biasa, FestVent Volume 3 Ajak Anak Muda Keluar dari Zona Nyaman
Kolom
-
Di Balik Kecanggihan AI: Ada Tagihan Listrik dan Air Bumi yang Membengkak
-
Rakyat Harus Beradab, Mengapa Penguasa Bebas Berkata Kasar di Ruang Publik?
-
Tren Menulis Artikel Pakai AI: Bantu Produktivitas atau Hambat Kreativitas?
-
Bukan Oversharing, Tulisan yang Jujur dan Personal Tetap Punya Batasan
-
Ketika Pemimpin Tak Percaya Pakar, Bagaimana Negara Menentukan Arah?
Terkini
-
Review Plastic Beauty: Sisi Gelap Operasi Plastik yang Dikemas Brutal dan Realistis
-
Anti-Kusam Seharian! 4 Chemical Sunscreen Brightening Bikin Wajah Glowing
-
Why You Should Read Children's Books: Pengingat untuk Orang Dewasa
-
Perjalanan Hidup 'Si Leher Beton' Dibongkar dalam Serial Dokumenter TYSON
-
Ulasan Drama Dinner Mate: Menemukan Ruang Pulih setelah Patah Hati