M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi overthinking (Pexels/Pavel Danilyuk)
e. kusuma .n

Overthinking bukan sekadar “kebanyakan mikir”. Bagi banyak anak muda di zaman ini, overthinking mulai mengarah pada kondisi mental yang melelahkan, berulang, dan nggak jarang jadi cukup sulit buat dihentikan.

Pikiran seolah terus berputar, emosi ikut terseret, dan tubuh pun merasakan kelelahan. Namun, yang sering nggak disadari, overthinking punya beberapa jenis dan masing-masing bekerja dengan cara pola yang berbeda pula.

Mengenali jenis overthinking yang kamu alami bisa menjadi langkah awal untuk memahami dan perlahan mengelolanya. Sebab beda pola overthinking yang kamu rasakan akan beda pula cara mengatasinya.

1. Rumination: Mengulang Masa Lalu Tanpa Henti

Rumination adalah overthinking yang berfokus pada masa lalu. Pikiran terus memutar ulang kejadian yang sudah terjadi, terutama yang menyakitkan atau memalukan.

Contoh yang sering dialami berupa mengulang percakapan lama dan membayangkan jawaban “yang seharusnya”, terjebak pada penyesalan dan rasa bersalah, hingga sulit move on dari kegagalan akademik, kerja, atau hubungan.

Ruminasi sebenarnya nggak membawa solusi. Tipe overthinking ini hanya akan memperpanjang rasa sakit. Di era media sosial, ruminasi bisa makin parah karena orang cenderung terus membandingkan masa kini dengan versi hidup orang lain yang terlihat “lebih sukses”.

2. Worry: Takut Akan Masa Depan yang Belum Terjadi

Berbeda dari rumination yang muter terus di masa lalu, overthinking tipe worry justru berfokus pada masa depan. Pikiran seolah loncat ke masa depan dan dipenuhi skenario “bagaimana kalau” yang sering kali paling buruk.

Misalnya, takut tidak dapat kerja setelah lulus, cemas soal stabilitas finansial, atau khawatir gagal memenuhi ekspektasi keluarga. Worry sering muncul karena ketidakpastian hidup yang semakin besar.

Tekanan ekonomi, standar sukses yang nggak realistis, dan “serangan” berita negatif membuat orang sulit merasa aman. Ironisnya, worry terasa seperti persiapan, padahal sebenarnya menguras energi mental karena yang dikhawatirkan belum datang tapi tubuh sudah tegang.

3. Analytical Overthinking: Terlalu Banyak Menganalisis

Jenis overthinking ini sering dianggap positif karena terlihat “rasional” lewat pertimbangan sebelum bertindak. Padahal, analytical overthinking membuat seseorang terus menganalisis semua kemungkinan dengan banyak skenario di kepala.

Sayangnya, kondisi ini malah bikin orang jadi sulit mengambil keputusan karena ingin semua data sempurna. Terlalu banyak menimbang pro-kontra berlebihan dan takut salah langkah justru bikin langkah makin tertahan.

Apalagi saat tumbuh dengan tuntutan perfeksionisme, analytical overthinking terasa seperti keharusan. Padahal, terlalu lama menganalisis justru membuat seseorang terjebak di fase berpikir tanpa ada pergerakan.

4. Self-Critical Overthinking: Pikiran Menyalahkan Diri Sendiri

Jenis self-critical overthinking ini sebenarnya tipe paling sunyi tapi justru paling menyakitkan. Orang cenderung kepikiran banyak hal tapi penuh dengan suara batin yang terus mengkritik diri sendiri.

Isinya seperti “Kenapa aku selalu gagal?”, “Orang lain pasti lebih pintar”, “Aku nggak cukup baik”, hingga “Aku memang nggak becus”. Celakanya, konten media sosial malah memperkuat pola ini.

Melihat pencapaian orang lain membuat orang semakin keras pada diri sendiri tanpa menyadari kalau standar yang digunakan sering kali nggak adil. Perlahan tapi pasti, pikiran ini malah membuat cara pandang pada diri sendiri ikut terpengaruh.

Overthinking Bukan Kelemahan, Tapi Tanda Peduli

Penting untuk diingat, overthinking bukan tanda kamu lemah. Justru kondisi ini sering muncul pada orang yang peduli pada masa depan, punya empati tinggi, dan ingin melakukan yang terbaik. Masalahnya bukan pada kepedulian, tapi pada pikiran yang kehilangan batas.

Oleh karenanya, pengelolaan overthinking menjadi penting, bukan sekadar menghentikan pikiran sepenuhnya, tapi membedakan mana yang bisa dikendalikan dan mana yang harus diproses dengan cara berbeda.

Terkadang kita nggak harus melawan mati-matian, cukup memberi jeda antara pikiran dan respons dengan melatih self-compassion. Kita juga perlu belajar kalau nggak semua pikiran perlu dipercaya.

Pikiran Butuh Arah, Bukan Tekanan

Overthinking akan selalu ada, terutama di dunia yang serba cepat dan nggak pasti. Namun, dengan memahami jenisnya, kamu bisa mulai mengarahkannya, bukan membiarkannya menguasai hati, kepala, dan tubuhmu.

Pikiranmu nggak perlu sunyi sepenuhnya, kok. Ia hanya perlu ruang bernapas dan arah yang lebih ramah. Saat mulai mengenali bagaimana pikiran bekerja, di situ ruang bernapas pelan-pelan akan bisa lebih terbuka.