Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal. (Suara.com/Chairunisa)
Chairun Nisa

Tujuh perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat membawa cerita tentang hutan melalui pangan lokal dalam Jamuan Puan Rimba di Javara Culture, Jakarta Selatan, Rabu (30/9).

Diselenggarakan The Asia Foundation bersama JAVARA dan Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia, kegiatan ini dikemas dalam konsep long table dining. Beragam hidangan yang disajikan menggunakan bahan pangan yang berasal dari hutan dan wilayah tempat ketujuh perempuan tersebut tinggal.

Beberapa menu yang hadir di antaranya lobe-lobe lemonade dan urap adas ais dari Nusa Tenggara Barat, umai dengan ikan seruyuk dari Kalimantan Utara, serta sup masam ancau dengan pucuk rotan dari Sumatera Selatan.

Ada pula gadung dengan jamur gerigit, sate pusut, pepes tain lale kemangi, malbi, sambel paying, sambel beberuk, sambal kemang, nasi subut, hingga kopi Semendeu.

Founder JAVARA sekaligus Sekolah Seniman Pangan, Helianti Hilman, mengatakan makanan yang disajikan tidak hanya menunjukkan keragaman kuliner Indonesia, tetapi juga menggambarkan hubungan antara pangan dengan bentang alam tempat bahan tersebut berasal.

"Kalau bicara gastronomi Indonesia, kita harus mulai dari bentang alam. Dari sanalah lahir keragaman pangan dan budaya kuliner kita," kata Helianti.

Menurutnya, pangan yang berasal dari hutan memiliki peluang untuk diperkenalkan lebih luas kepada konsumen perkotaan. Namun, pengembangannya perlu diikuti dengan kualitas dan cita rasa yang mampu memberikan nilai tambah.

Dengan begitu, nilai ekonomi dari produk tersebut diharapkan dapat kembali kepada masyarakat dan desa asalnya.

Memboyong Cerita Perempuan Penjaga Hutan

Program Officer Tata Kelola Lingkungan The Asia Foundation, Dorta Pardede dalam acara Jamuan Puan Rimba, Jakarta Selatan, Rabu (30/9). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Jamuan Puan Rimba juga menjadi ruang untuk memperkenalkan peran perempuan dalam menjaga hutan sekaligus mengembangkan penghidupan berbasis hasil hutan.

Ketujuh perempuan tersebut merupakan bagian dari program Women Forest Defenders (WFD) yang dijalankan The Asia Foundation. Program ini melibatkan perempuan di komunitas yang bergantung pada hutan dalam pengelolaan ekosistem, penghidupan, serta tata kelola sumber daya alam.

Program Officer Tata Kelola Lingkungan The Asia Foundation, Dorta Pardede, mengatakan perempuan di komunitas memiliki pengetahuan yang penting mengenai hutan. Namun, akses terhadap informasi, ruang pengambilan keputusan, dan sumber daya untuk mengembangkan usaha belum sepenuhnya setara.

"Perempuan di komunitas punya pengetahuan yang unik tentang hutan. Persoalannya, akses ke informasi, ruang pengambilan keputusan, dan sumber daya untuk menjalankan usaha belum setara," katanya.

Karena itu, pendampingan melalui WFD diarahkan pada penguatan posisi perempuan dalam kelembagaan, pemantauan kawasan, serta pengelolaan usaha berbasis hasil hutan.

Berdasarkan data The Asia Foundation pada 2026, sekitar 24.292 hektare hutan di Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat dikelola dengan perempuan yang turut memainkan peran penting.

Program tersebut juga mencatat 16 usaha berbasis hutan yang dikelola perempuan telah menghasilkan pendapatan. Selain itu, terdapat 11 kelompok pemantau hutan dan 21 usaha yang memperluas akses perempuan ke pasar.

Lanjut ke Bangkok Climate Action Week

Perwakilan perempuan penjaga hutan dari Sumatera Selatan dalam Jamuan Puan Rimba, Jakarta Selatan, Rabu (30/9). (dok.Pribadi/Chairun Nisa)

Cerita tentang pangan dan perempuan penjaga hutan tersebut tidak berhenti di Jakarta. Pada 3–4 Oktober 2026, ketujuh perempuan tersebut dijadwalkan membawa pengalaman mereka ke Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026.

Dalam kegiatan bertajuk Watching the Forest, Growing the Future, mereka akan berbagi pengalaman mengenai kepemimpinan perempuan, pemantauan hutan, advokasi, serta pengembangan penghidupan berbasis hasil hutan.

Rangkaian kegiatan akan berlangsung di Glass House Pavilion, Taman Lumpini, dan Restoran Bo.Ian, Bangkok. Di restoran tersebut, bahan pangan hutan Indonesia akan dipadukan dengan bahan dan teknik memasak Thailand.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, cerita perempuan penjaga hutan dari Indonesia tidak hanya hadir melalui makanan. Di balik setiap bahan pangan, terdapat pengetahuan tentang hutan, penghidupan masyarakat, serta upaya perempuan mempertahankan hubungan antara alam dan kehidupan sehari-hari.

Penulis: Chairunisa